Menikah Dengan Pak Duda

Menikah Dengan Pak Duda
Mabuk


__ADS_3


“Hiks hiks hiks, aku kangen sama mas Adnan. Mas Adnan jahat sama nasya hiks hiks. Udah kaya bang toyib gak pulang pulang.”


“Harusnya kalau seorang istri sedang merajuk marah dan kesal, seorang suami harus bisa membujuk nya, merayu nya dan memanjakan nya agar kemarahan itu hilang dan lenyap.”


“Tidak sulit membujuk seorang wanita, peluk dia. Cukup di peluk di usap usap terus di bisikin kata romantis, Nasya gampang luluh nya. Tapi kenapa suami nya tidak pekaaaa!”


“Hahaha karena suaminya memang tidak peka.”


Nasya terus meracau, menangis bahkan tertawa dengan sendiri nya di dalam mobil. Sementara Adnan hanya mampu mengusap wajah nya dengan cukup kasar sambil terus menatap tajam pada wanita di depan nya yang terlihat biasa saja tanpa rasa bersalah.


“Bukan salah ku, Tapi salah kak Adnan yang tidak menjaga nya dengan baik,” ucap wanita itu dengan ekspresi wajah datar, “Aku sudah melarang nya dan akan menunjukkan arah minuman non alkohol tapi dia sudah lebih dulu meneguk segelas penuh. Jadi—“


“Aku sudah tidak ingin ikut campur lagi tentang kalian. Jadi jangan salahkan aku atau mencari ku lagi, jaga Nasya baik baik. Jangan sakiti dia lagi!” ucap Nuna untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya ia memilih pergi untuk pulang juga.

__ADS_1


Adnan kembali mendengus, lalu segera memasuki mobil nya karena nasya terus menangis dan berteriak meluapkan semua isi hatinya. Entah Adnan harus marah atau tertawa melihat istrinya dalam keadaan mabuk seperti ini.


Di satu sisi, Adnan kesal dan marah karena Nasya begitu berani meminum alkohol yang mengakibatkan nya mabuk parah, padahal ia sedang menyusui. Tapi di sisi lain ia juga bersyukur karena minuman itu secara tidak langsung sudah membantu Adnan menjadi tahu tentang isi hati istrinya.


“Mas Adnan jahattt!” seru Nasya lalu kembali tertawa, “Dasar duda labil, gak peka dan egois!”


Adnan memilih abai tentang ke abstrukan istrinya yang sedang mabuk, Ia segera melajukan mobil nya menuju rumah eyang Liana. Namun, ketika di tengah perjalanan, Adnan di buat terkejut, ketika dengan tiba tiba Nasya melepaskan seat belt nya, menatap nya dengan tatapan yang begitu sayu.


“Sayang, pasang kembali seat belt nya. Nanti kamu jatuh,” ucap Adnan sambil sesekali melihat jalanan dan melirik ke istrinya.


“Mas Adnan sayang gak sama Nasya?” tanya Nasya dengan me manyun kan bibir nya.


“Sayang lah,” jawab Adnan dengan cepat.


“Cinta gak?”

__ADS_1


“Cinta, Sayang.”


“Kalau sayang dan cinta kenapa gak pulang pulang? Mas Adnan mau cari istri baru ya?” tuduh Nasya menatap tajam pada suami nya.


Namun, meskipun Nasya menatap nya dengan tajam, entah mengapa malah membuat Adnan ingin tertawa. Penampilan istrinya saat ini benar benar sudah kacau dan sangat menggemaskan.


“Mas Adnan gak kangen sama istri mas Adnan? Nasya sakit nya berapa lama sih? Satu dua tiga enam delapan sebelas dua belas tujuh,” gumam wanita itu lalu menggaruk kepala nya yang terlihat semakin pusing kala melihat jari jemari nya.


“Tunggu, emmt berapa lama nasya sakit? Mas Adnan gak ada sentuh Nasya? Terus mas Adnan ngecas nya dimana?” tanya Nasya menggelengkan kepala nya seorang diri.


“Begitu kita sampai rumah, kamu harus berendem air dingin biar cepet sadar,” ucap Adnan semakin gemas dan menggelengkan kepala nya, dan saat dirinya tengah fokus menyetir, tiba tiba saja ia kembali di kejutan oleh tingkah istrinya, hingga membuat nya harus menghentikan mobil secara tiba tiba.


“Nasya!!"


...~To be continue... ...

__ADS_1


__ADS_2