Menikah Dengan Pak Duda

Menikah Dengan Pak Duda
Masih mencoba


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Malam harinya, Nasya tengah berdiri di balkon kamar. Menikmati suasana malam hari yang begitu sejuk dengan langit yang sangat cerah. Bintang berkelip begitu banyak mengitari rembulan menambah kesan indah pada langit malam ini.


“Nasya!” panggil Adnan dari ambang pintu balkon.


“Hemm,” jawab Nasya tanpa membalik tubuh nya, ia takut bila ia berbalik kepala dan perut nya akan kembali membuat ulah.


“Mau sampai kapan kamu menghindari ku seperti ini hem? Kamu marah sama aku?” tanya Adnan seraya menghela napas nya dengan berat.


Ia sangat merindukan istrinya, bahkan sangat merindukan nya. Ia butuh Nasya untuk memberikan nya semangat lagi, karena akhir akhir ini ia merasa bahwa pikiran nya semakin kacau dan beban pikiran nya begitu berat. Tubuh nya lelah, ingin di manja oleh sang istri, namun ternyata Nasya malah mengabaikan dan menghindari nya.


“Apa aku boleh marah?” kata Nasya balik bertanya, namun kini suara nya terdengar cukup datar, “Aku tidak memiliki hak itu.”


“Sayang!” tegur Adnan menggelengkan kepala nya.

__ADS_1


“Udah lah mas, kamu fokusin diri kamu sama mbak Riri, sepertinya dia lagi sakit kan? Jangan pedulikan aku, dan anggap aku gak ada!” kata Nasya dengan tegas.


“Enggak! Mana bisa begitu, istri aku itu kamu, bukan dia!” ucap Adnan dengan cepat dan mendekati Nasya.


Nasya pun hanya bisa tersenyum getir mendengar penuturan Adnan, “Benarkah? Bukankah aku hanya seorang pembantu yang menumpang di rumah ini?” sindir Nasya dengan sinis.


“Sudahlah Mas, jangan membuat mood ku hilang. Aku banyak pekerjaan, lebih baik mas Adnan istirahat,” usir Nasya hendak berbalik dan pergi, namun tiba tiba ia di buat terkejut saat ternyata tubuh Adnan sudah berada tepat di belakang nya


Huh!


Seketika itu juga, tubuh Nasya langsung terasa tegang, kepalanya berdenyut dan perut nya kembali bergejolak. Nasya menarik napas nya panjang, menahan agar tidak memuntahkan isi perutnya kembali ke tubuh Adnan.


Nasya tidak berani membuka mulut, ia hanya bisa memberikan isyarat lewat gerakan tangan. Namun sayang, Adnan tidak mau mengerti dan justru menahan tangan Nasya.


“Katakan kenapa kamu marah? Apa yang ingin kamu tahu, dan apa yang harus aku lakukan? Jelaskan semuanya padaku dan kita bicara baik baik,” ucap Adnan menatap wajah Nasya yang sudah terlihat semakin pucat.

__ADS_1


Nasya pun kembali menggelengkan kepala nya, ia menarik napas nya lagi dan mencoba mendorong tubuh Adnan, namun sayang laki laki itu begitu sigap dan menahan dorongan Nasya, sehingga membuat tubuh nya tidak bergeser sedikit pun meskipun Nasya mendorong dengan begitu kuat.


Hemmmttt—


Hoeeekkk


Dengan cepat, Nasya menyampingkan kepala nya agar tidak muntah di badan Adnan lagi, namun tetap saja, cipratan itu mengenai celana serta sendal Adnan. Setelah merasa lega, Nasya langsung memejamkan mata dan menarik napas dalam. Tangan nya masih di cengkram oleh Adnan, itu cukup membantu agar tubuh nya tidak tumbang.


“Kamu sakit? Kita ke rumah sakit sekarang!” ucap Adnan berseru dan mendadak panik.


“Jangan dekati aku Mas, pergilah dan tolong HINDARI aku!” ucap Nasya datar, “Jangan pedulikan aku, selagi sikap perduli mu harus terbagi dengan masa lalu mu!” imbuh nya penuh penekanan, lalu Nasya memilih untuk pergi meninggalkan kamar dan menuju kamar Ryana.


Malam ini, Nasya akan memilih untuk tidur di kamar Ryana. Karena ia masih begitu enggan tidur satu ranjang dengan Adnan. Entah mengapa ia selalu merasa benci dan kesal pada laki laki itu.


...~To be continue .......

__ADS_1


__ADS_2