Menikah Dengan Pak Duda

Menikah Dengan Pak Duda
Terbangun dari tidur panjang


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Uly kenapa nangis?” tanya Ryana ketika melihat mata Uly berkaca kaca saat menggendong baby R, “Adek gak nakal kan sama Uly?”


“Gapapa Sayang, adek nya lucu. Mana mungkin nakal,” jawab Uly tersenyum lalu kembali menatap wajah polos bayi mungil yang kini berada di pangkuan nya.


Ia sedih karena tidak menyangka bisa menggendong seorang cicit. Ini adalah cicit pertama yang ia gendong. Dulu, sewaktu Ryan dan Ryana lahir, Uly tidak bisa menggendong lantaran hubungan mereka yang tidak baik. Namun, kini di umur nya yang sudah sangat tua, ia masih di berikan kesempatan untuk bertemu dan menggendong cicit nya.


“Jangan bilang Eyang kesini sendiri lagi?” kata Adnan langsung menatap pada eyang Liana, membuat padangan Uly yang tadinya terharu kini menjadi kesal.


Adnan pun tak kalah kesal, karena ini bukan satu dua kali eyang Liana kabur ke rumah sakit sendiri dengan menggunakan taxi. Adnan yang selalu di salahkan oleh para tante nya karena di tuduh menyuruh eyang Liana ke rumah sakit. Padahal keadaan eyang Liana tidak begitu baik. (Maklum penyakit tua)


“Eyang sama aku Bang,” ucap Marvel yang baru saja masuk ke dalam kamar perawatan Nasya, tadi memang eyang Liana datang bersama nya, hanya saja ketika ia hendak masuk ada panggilan telfon dari asisten nya. Jadilah ia menyuruh eyang Liana agar masuk lebih dulu.


“Kamu selalu saja berpikiran negatif sama Eyang,” cetus eyang Liana kembali mendengus.


“Loh, bukan negatif Eyang. Tapi tante Silvi terus nyalahin Adnan setiap kali eyang kesini,” keluh Adnan menghela napas nya kasar.

__ADS_1


Euugghhh!


Suara lenguhan dari atas tempat tidur, seketika membuat perdebatan mereka terhenti. Semua mata langsung menatap pada sosok wanita yang kini sedang berusaha membuka matanya engan perlahan.


“Mommy! Sayang! Nasya!” seru semuanya serempak begitu bahagia. Adnan pun langsung menghampiri istrinya dan menggenggam tangan nya, bahkan ia langsung mencium tangan dan wajah istrinya dengan air mata yang sudah mengalir tanpa permisi.


Sementara itu, Marvel dengan sigap langsung memanggil dokter dan memberitahu bahwa pasien sudah sadar.


“Kamu bangun,Sayang. Terimakasih, terimakasih kamu sudah mau kembali hiks hiks hiks,” ucap Adnan langsung memeluk erat tubuh istri nya.


“L—lepas!” gumam Nasya begitu lirih dan hampir tidak terdengar, ia berusaha mendorong tubuh Adnan sekuat tenaga nya.


“Sshhhh.” Nasya memijit pelipis nya yang terasa begitu pusing, napas nya pun belum begitu teratur, “Kamu siapa?”


Deg!


Seketika itu juga, Adnan langsung terdiam dengan tubuh kaku membeku menatap wajah istrinya. Tidak mungkin Nasya melupakan nya kan? Batin Adnan dalam hati.

__ADS_1


“Sayang, kamu gak inget sama aku? Aku suami kamu?” tanya Adnan membuat Nasya langsung mengerutkan dahi nya menatap bingung, namun juga kesal.


“Suami?” gumam nya pelan, hanya sepersekian detik, lalu tiba tiba bibir itu tersenyum sinis, “Ngaco, anda jangan kurang ajar. Mana mungkin saya punya suami seperti anda,” jawab Nasya langsung menggelengkan kepala nya.


“Tapi aku memang suami kamu. Nasya aku—“


“Aaarrrkkkhhh!” Tiba tiba Nasya menjerit ketika merasakan kepala nya yang begitu sakit berdenyut yang begitu hebat.


Adnan panik, begitupun dengan Ryan dan Ryana, namun tak berapa lama dokter datang dan segera memeriksa keadaan Nasya.


“Uly, kok Mommy gitu sih hiks hiks,” gumam Ryana terisak, kini semua orang sudah berada di luar ruangan, karena dokter ingin memeriksa lebih lanjut keadaan Nasya.


“Sabar sayang ya, mungkin ibu kalian masih syok dan bingung. Nyawanya belum terkumpul,” ujar eyang Liana mencoba memberikan pemahaman.


“Memang nyawa Mommy ada berapa? Harus berkumpul semua?” tanya Ryana lagi yang masih terlihat bingung.


“Eyang udah deh, jangan memperkeruh keadaan.” Saut Marvel menghela napas nya dengan berat, “Ryan, Ryana doain Mommy semoga semua baik baik saja,” imbuh Marvel, lalu ia mengambil alih baby R yang berada di gendongan eyang Liana karena kasihan takut keberatan. Meskipun baby R masih terbilang mungil, namun tetap saja eyang Liana sudah tidak muda lagi.

__ADS_1


...~To be continue .......


__ADS_2