Menikah Dengan Pak Duda

Menikah Dengan Pak Duda
Welcome baby


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Oeekkk


Oeeekkk


Suara tangisan bayi langsung menggema di ruang operasi pagi itu. Tak hanya tangis bayi yang membuat keadaan semakin haru, namun tangis para dokter dan suami pasien pun ikut mewarnai keadaan pagi itu di ruang operasi.


Bayi mungil yang lahir hanya dengan berat dua koma satu kilo gram berhasil keluar dengan sehat dan selamat. Walaupun sangat kecil, bayi itu terlihat begitu sehat karena langsung menangis dengan begitu kencang nya.


“Selamat pak Adnan, putra anda lahir dengan selamat, sehat dan lengkap, tanpa kurang satu apapun.” tutur Dokter seraya memperlihatkan seorang bayi mungil yang terus menangis begitu kencang nya di tangan dokter dan masih berlumur darah dan jangan lupakan tali pusat yang belum di potong oleh Dokter.


“Meskipun terlihat sehat, namun dia masih prematur, dan kami akan segara membawa nya ke incubator,” imbuh dokter.


“Baik Dok, lakukan yang terbaik untuk anak dan istri saya,” balas Adnan menganggukkan kepala nya.

__ADS_1


Adnan semakin tak kuasa menahan tangis nya. Hatinya begitu sakit, bukan tidak bahagia atas kelahiran anak ketiganya. Namun hingga saat ini, istrinya masih juga menutup matanya, enggan untuk bangun meskipun suara bayi mereka menggema seolah meminta untuk di peluk oleh ibu nya.


“Sayang, bangunlah. Lihatlah putra kita, dia sangat tampan, bangun lah. Buka mata kamu hiks hiks hiks,” bisik Adnan di telinga Nasya dengan di sertai isak tangis yang terdengar sangat memilukan.


Setelah beberapa saat, operasi sudah usai. Nasya pun kembali di pindahkan ke ruang perawatan pada siang hari. Ryan dan Ryana langsung menyusul masuk ke dalam kamar Nasya dan menghampiri sang ayah.


“Daddy, dimana adik bayinya?” tanya Ryana segera meminta untuk turun dari gendongan Yoga.


Setelah tadi mendapatkan penanganan dari dokter, kini keadaan Ryana juga sudah membaik. Sebenarnya, dokter masih menyarankan agar gadis kecil itu istirahat namun Ryana menolak karena ingin melihat mommy nya. Jadilah, sejak tadi Yoga terus menggendong Ryana.


“Adik bayinya masih kecil. Jadi harus tinggal di incubator. Ryana bantuin Daddy doa ya Sayang, agar Mommy segera bangun dan dede bayi cepat sehat. Nanti kita bisa berkumpul lagi,” ujar Adnan kembali menangis dan memeluk putri nya.


Sementara itu, Ryan yang sejak tadi juga menangis namun ia tahan. Kini langsung mendekati brankar Nasya dan memeluk nya, menumpahkan segala rasa sesak yang ia rasakan sejak tadi.


“Mommy, wake up plis. Mom, kasihan dede bayi nya, Mommy bangun ya hiks hiks hiks.” Bisik Ryan lalu ia mencium pipi ibu nya.

__ADS_1


Sementara itu, Yoga dan kedua sahabat Nasya hanya mampu bernafas lega karena Tuhan melancarkan operasi Nasya kali ini. Dan mereka juga terus berharap bahwa Nasya akan segera sadar dan kembali pulih seperti biasa.


‘Selamat Sya, kini kamu benar benar sudah menjadi seorang ibu dan wanita seutuhnya. Kamu berhasil melahirkan baby boy. Meskipun aku belum melihatnya, tapi aku yakin, dia pasti akan memiliki wajah seperti mu dan sifat seperti mu, yang selalu baik hati, rendah hati dan begitu lembut kepada siapapun,” tutur Riska dalam hati nya seraya kini tangan nya terus menggenggam tangan sahabat nya.


“Ris, kita tunggu di luar aja yuk,” kata Aqila mengajak Riska keluar karena tidak enak dan ingin memberikan privasi untuk Adnan dan dua anak nya agar bersama dengan Nasya.


Riska menganggukkan kepala nya, namun ia masih menatap lurus ke arah Nasya dan Ryan. Hingga tiba tiba sebuah tepukan bahu menyadarkan nya dan langsung menatap ke arah aqila yang ternyata sudah berjalan lebih dulu meninggalkan nya.


Deg!


“Loh kok, kamu di sana?” tanya Riska dengan polos nya menatap ke arah Aqila yang sudah berada di ambang pintu menunggu Riska, “Kalau kamu di sana, ini berarti tangan siapa?”


Dan seketika itu juga Riska baru tersadar, bahwa yang sejak tadi ia genggam tangan nya dengan kuat bukanlah tangan Aqila. Melainkan ....


“Tangan ku,” jawab seorang laki laki yang sejak tadi berada di samping Riska dengan menghela napas nya kasar, ia mengangkat tangan nya yang masih bertaut dengan tangan Riska.

__ADS_1


“Mas Yoga hehehe maaf kebawa suasana, sampai salah tangan,” ucap Riska tak enak hati sambil menyengir kuda, lalu ia melepaskan tangan Yoga secara perlahan dan berakhir dengan jurus seribu bayangan karena malu.


...~To be continue .......


__ADS_2