
...~Happy Reading~...
“Nasya ... “ panggil Riri ketika melihat Nasya sedang menuruni tangga.
Seperti biasa, Nasya akan bangun pagi guna membuatkan sarapan dan bekal anak anak serta suaminya. Dan entah mengapa, pagi ini, Riri juga sudah ikut bangun, bahkan menyapa nya.
“Aku mau meminta maaf, dengan apa yang kemarin sudah ku lakukan sama kamu. Aku hanya khawatir dan reflek saja seperti itu, maafkan aku,” ujar Riri dengan tulus.
“Aku sudah memaafkan mbak Riri, permisi,” jawab Nasya cuek dan segera melenggang pergi melewati Riri begitu saja.
“Adakah yang bisa aku bantu?’ tanya Riri berusaha untuk mendekatkan diri kembali dengan Nasya. Ia tau dan sadar bahwa ia salah, namun benar tidak ada niatan dalam hatinya untuk berlaku kasar pada wanita yang sudah menjadi ibu sambung anak anak nya tersebut.
“Ada,” kata Nasya singkat, “Mbak bisa bantu saya dengan diam, itu sudah sangat membantu!” imbuh Nasya lalu ia kembali melanjutkan aktivitas nya.
Sementara itu, Riri hanya mampu menghela napas nya kasar. Ia pun akhirnya kembali ke dalam kamar untuk bersiap, karena pagi ini ia harus menemui dokter bersama Adnan. Benar, Adnan ingin memastikan sendiri bahwa apa yang di katakan Riri bukanlah kebohongan lagi. Sehingga Adnan akan membawa Riri ke dokter pilihan nya, tanpa Riri tahu lebih dulu.
__ADS_1
Seusai sarapan, Adnan segera mengajak Ryan untuk berangkat ke sekolah. Di karenakan Ryana masih dalam tahap pemulihan, jadilah Nasya juga di rumah untuk menjaga Ryana. Sebenarnya, ia hari ini cukup sibu, ada beberapa tugas yang belum ia selesaikan dan kumpulkan, namun apalah daya bila Ryana sendirian di rumah ia tidka akan tega.
“Haruskah mbak Riri juga ikut? Tidak bisakah mbak Riri yang di rumah menjaga Ryana?” pertanyaan Nasya lolos begitu saja ketika melihat Adnan dan Riri hendak masuk ke dalam mobil.
“Kamu keberatan menjaga Ryana hari ini?” kata Riri malah balik bertanya.
“Lalu apakah mbak keberatan juga bila di rumah menjaga Ryana?” Nasya membalikkan kata kata Riri hingga membuat wanita itu langsung terdiam dan menghela napas nya kasar.
“Sayang ... apa kamu ada tugas penting lainnya?” tanya Adnan yang kini menghampiri Nasya dan menatap nya.
“Jadi tugas kampus kamu lebih penting daripada anak anak?” tanya Adnan dan kini ekspresi wajah nya sudah berubah menjadi datar.
Deg!
“Mas,” seru Nasya tak percaya bila suaminya bisa mengatakan hal seperti itu, “Bukan itu yang aku maksud!”
__ADS_1
“Lalu apa?” seru Adnan hingga seketika membuat Nasya speechless dan spontan memundurkan langkah nya.
“Kamu tahu pasti dengan apa yang ku maksud kan Mas!” jawab Nasya dengan suara bergetar, lalu ia segera berbalik dan pergi meninggalkan Adnan di halaman rumah.
Sementara itu, Adnan yang melihat istrinya hampir menangis karena ulah nya, langsung mengusap wajah dengan begitu kasar. Ia juga merutuki kebodohan nya sendiri, yang tidak bisa mengontrol emosi nya.
“Nan, apa tidak sebaiknya kita bicara sama Nasya dulu?” ujar Riri merasa tak enak hati.
“Sudahlah, dia akan mengerti nanti. Kita sudah telat,” ucap Adnan datar lalu ia segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil nya keluar dari area perumahan nya.
Nasya yang mendengar suara mesin mobil suaminya yang sudah kian menjauh hingga tak terdengar, hanya mampu menarik napas dalam. Ia melanjutkan langkah nya menaiki tangga, namun tiba tiba, ia merasakan seperti ada sesuatu yang meremas perut nya, hingga membuatnya memekik kesakitan ....
Aarrrkkhhhh!
...~To be continue .......
__ADS_1