
🍁🍁🍁🍁
“Sayang ... “ panggil Adnan lagi, kini keduanya sudah menyelesaikan sarapan di dalam hotel.
Ya, semalam Adnan tidak membawa Nasya pulang ke rumah, karena tidak ingin di lihat anak anak nya bahwa ibunya mabuk. Tapi Adnan membawa Nasya ke hotel yang berada di dekat tempat nya kemarin.
“Tidakkah kamu lelah? Kapan kamu akan memaafkan aku hem? Tidak bisakah kamu memaafkan aku dan beri aku kesempatan satu kali saja,” pinta Adnan memohon kepada Nasya, “Aku tahu, kesalahan ku sudah terlalu banyak sama kamu. Tapi aku sungguh sungguh Sya, aku benar benar ingin memperbaiki semuanya.”
Nasya menundukkan kepala nya, lelah? Siapa yang tidak lelah. Menurut Nasya itu adalah pertanyaan bodoh yang Adnan ucapkan. Bagaimana bisa ia tidak lelah dengan semua yang terjadi di kehidupan nya.
Memaafkan? Sebenarnya Nasya sudah memaafkan Adnan. Terbukti dari dia sudah mau pergi berdua dengan Adnan dan berakhir memperkosa pria itu. Tapi, entah mengapa bibir Nasya masih terasa begitu kelu ingin mengatakan bahwa ia sudah memaafkan Adnan.
“Sayang ... kita buka lembaran baru ya, kamu mau kan?” tanya Adnan sekali lagi terus menatap wajah istrinya yang tengah menunduk.
Karena tidak bisa mengeluarkan suara, akhirnya Nasya hanya bisa menganggukkan kepala nya sekilas, namun terlihat begitu jelas di mata Adnan. Tentu saja, bibirnya langsung terangkat, mengukir sebuah senyuman indah dan dengan cepat pula ia langsung memeluk tubuh istrinya dengan cukup erat.
“Terimakasih Sayang,” bisik Adnan tak henti henti nya mencium dan mengecup kepala istrinya, “Habis ini kita pulang ya.”
__ADS_1
“Pulang?” tanya Nasya langsung melepaskan pelukan Adnan.
“Iya, kita pulang. Apa kamu tidak ingin pulang ke rumah kita? Apakah kamu begitu betah tinggal di rumah eyang?” tanya Adnan dengan raut wajah sedih nya.
“Aku—“
“Kita pulang ke rumah. Rumah kita, istana kita dan surga kita.” Ucap Adnan menatap wajah istrinya dengan begitu intens.
“Tapi rumah itu—“
“Rumah lama itu milik Riri? Tentu,”
Nasya langsung mendongak dan menatap tajam pada suaminya. Dadanya kembali bergemuruh ketika Adnan kembali menyebut nama mantan istri nya.
“Riri sudah meninggal, benar benar meninggal. Begitu pun dengan kenangan nya yang sudah terkubur rapat di sana. Dia hanya masa lalu, dan selamanya akan menjadi masa lalu, hanya sebuah bayangan tidak akan bisa kembali, apalagi menyentuh hubungan kita.”
“Aku akui aku bodoh karena sempat perduli lagi dengan nya hingga mengabaikan kamu. Benar, kamu benar bahwa aku tidak peka, dan aku sangat bodoh. Tapi biarkan orang bodoh ini menebus kesalahan nya. Mungkin aku tidak bisa seromantis harapan mu, tapi aku akan mencoba untuk lebih peka terhadap apapun yang kamu alami dan anak anak.” Jelas Adnan panjang lebar dan berusaha meyakinkan istrinya.
Nasya masih terdiam, seolah menimang nimang tawaran Adnan. Memang benar, Riri sudah tiada, Olin pun juga sering mengatakan itu padanya, kini sudah tidak akan ada yang merusak rumah tangga nya lagi.
__ADS_1
Kepekaan dan komunikasi, sepertinya itu yang harus ia dan Adnan perbaiki. Nasya kembali berfikir, ia juga merasa bersalah dengan apa yang terjadi selama ini. Harusnya ia tidak menyalahkan Adnan dan menghukum nya terus menerus. Karena ini juga ada campur tangan dirinya hingga kesalahpahaman semakin membesar.
Jika suaminya sudah bodoh dan tidak peka, bukankah seharusnya ia yang sebagai istri yang harus selalu mengingatkan? Ternyata diam tak selamanya menjadi emas, justru diam bisa menjadi boomerang untuk nya sendiri. Dan Nasya cukup belajar dari pengajaran dalam hidup nya.
“Baiklah,” jawab Nasya yang akhirnya luluh, dan Adnan pun langsung memeluk tubuh istrinya lagi dan kini semakin erat. Tidak hanya memeluk, namun Adnan juga mengangkat tubuh Nasya hingga kini duduk di pangkuan nya. Menumpahkan segala kerinduan yang selama ini terpendam, hingga tanpa sadar, pelukan itu mampu membangunkan sesuatu yang baru tertidur beberapa jam yang lalu.
“Mas!” tegur Nasya dengan wajah datarnya.
Adnan tidak menjawab, karena ia tahu dengan apa yang di rasakan oleh istrinya. Namun ia justru semakin mengeratkan pelukan nya
“Mas Adnan ihhh!”
“Maklumi saja Sayang, dia sudah berapa lama tidur. Dan semalam hanya setengah jam, jadi belum full. Dia masih kangen sama kamu.” Jawab Adnan setengah berbisik. Tentu saja ia berbohong, karena pada kenyataan nya dirinya sudah menggempur Nasya selam beberapa jam, namun tetap saja ia tdiak pernah merasa puas, karena benda nya akan selalu baperan bila sudah berada di dekat istrinya.
“Di cas lagi ya? biar full," kata Adnan menyengir kuda, lalu ia kembali menindih tubuh istrinya dan menyerang nya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
...~To be continue ......
...Dikit lagi ending yah 🤭🙈🤣💃💃💃...
__ADS_1