
...~Happy Reading~...
“Mommy!” panggil Ryana dengan begitu ceria menyambut kedatangan Nasya di meja makan.
Meskipun Nasya tidak membuat sarapan, namun pembantu di sana sudah mengerti. Bila sudah lewat jam enam pagi Nasya tidak turun, itu berarti bagian membuat sarapan akan di pegang oleh Bibi. Namun, bila belum ada jam enam, mereka di larang untuk membuat sarapan, karena biasanya Nasya lah yang berperan membuatkan sarapan.
“Pagi, Sayang ... “ sapa Nasya tersenyum kepada Ryana, “Dimana Ryan hem?” tanya nya karena tidak melihat keberadaan Ryan.
“Ryan masih di kamar sama Mama.”
Deg!
Entah mengapa, mendengar sebutan kata Mama, membuat jantung Nasya berdegup begtu cepat. Tidak ada yang salah memang, itu memang hak Riri karena dia yang sudah melahirkan anak anak. Tapi, entah mengapa ada rasa nyeri yang tertancap di hatinya ketika mendengar anak anak sambung nya memanggil Riri dengan sebutan Mama.
Nasya menarik napas nya panjang, lalu ia memasang wajah tersenyum kembali, “Tadi yang iket rambut mama juga?” tanya Nasya masih dengan senyuman di wajah nya dan duduk di sebelah Ryana.
“Iya Mom, mama lucu deh. Masa tadi nya gak bisa iket rambut. Tapi sekarang udah bisa, karena di ajarin sama Ryana. Semalam juga, Ryana nungguin Mommy gak datang datang, Ryana kan mau di bacain buku cerita kaya biasa. Eh terus mama datang sama Daddy, ya sudah Ryana sama Mama deh,” celoteh Ryana panjang lebar yang entah mengapa membuat hati Nasya semakin terasa sakit, namun sebisa mungkin ia terus memasang senyuman walau palsu.
__ADS_1
“Woahh, anak Mommy hebat ya sudah bisa mengajari mama nya mengikat rambut,” kata Nasya terkekeh.
Tak berapa lama, tiba tiba Ryan dan Riri sudah menuruni tangga. Ryan segera berlari dan menghampiri Nasya, ia memilih bangku di seberang Nasya, yakni di sisi kiri Adnan.
“Selamat pagi, Sya,” sapa Riri tersenyum ramah.
“Pagi juga mbak,” jawab Nasya tak kalah ramah.
“Oh ya Sya, emmmtt hari ini aku mau ikut nganter anak anak ya,” kata Riri seolah meminta izin kepada Nasya.
“Boleh mbak, “ jawab Nasya kembali tersenyum.
“Sayang, Daddy ada meeting pagi ini, jadi buru buru ke kantor. Kamu sama Mommy aja ya,” ujar Adnan membujuk sang putri.
“Gak mau! Kemarin sudah sama Mommy, pokoknya gantian, Ryana mau sama Daddy!” kata Ryana dengan tegas.
“Kenapa kamu masih mengutamakan pekerjaan kamu sih Nan. Hanya mengantar bukan menunggu di sekolahan loh. Lagipula, kamu itu bos, masa gak bisa nunggu sebentar sih karyawan kamu!” ucap Riri sedikit mendengus, hingga membuat Adnan ikut mendengus.
__ADS_1
“Kamu itu jangan terlalu fokus sama pekerjaan. Pikirin juga anak anak kamu, mereka masih kecil dan butuh kamu.” Imbuh Riri yang membuat Nasya langsung memejamkan matanya.
“Baiklah, baiklah. Kita berangkat sama sama,” ucap Adnan menghela napas nya pasrah, “Sayang, kamu gapapa kan berangkat sendiri?” tanya Adnan kini menatap Nasya dan menggenggam tangan nya.
“Gapapa, memang nya aku kenapa?” tanya Nasya berusaha untuk bersikap biasa saja, walaupun hatinya menjerit menahan tangis, “Oh iya, kayaknya nanti aku juga pulang agak sorean, karena di kampus lagi ada acara.” Imbuh Nasya meminta izin.
“Baiklah, tapi jangan lupa makan. Dan jangan jauh jauh dari ponsel,” kata Adnan yang langsung di balas anggukan kepala oleh Nasya karena tidak ingin berdebat.
“Baiklah, karena Ryan dan Ryana mau berangkat sama Daddy. Mommy jalan duluan yah, biar urusan Mommy cepet selesai,” ucap Nasya beranjak dari tempat duduk nya.
“Tapi kan Ryan belum jawab, mau berangkat sama siapa. Ryan mau sama Mommy aja!”
“Hah!” Nasya terkejut, dan spontan langsung menatap ke arah Ryan.
“Ryan kamu harus ikut Daddy juga. Kan kemarin aku juga udah ikut sama kamu dan Mommy, gantian dong, hari ini berangkat sama Daddy dan Mama.” Kata Ryana menatap saudara kembar nya.
“Gak mau! Pokoknya Ryan mau sama Mommy, mommy, mommy dan Mommy!” ucap Ryan tegas dan segera bangkit dari kursi nya menghampiri Nasya.
__ADS_1
Ryan hanya tidak ingin melihat ibunya kembali menangis. Karena kini ia sudah melihat bahwa wajah ibu sambung nya itu sudah memerah, dan Ryan cukup peka dengan itu semua. Hanya saja,ia masih terlalu kecil untuk bisa mengutarakan apa yang ia rasakan. Ryan merasa, sejak kedatangan wanita asing di rumah nya yang mengaku sebagai ibu kandung nya, membuat senyum ibu sambung nya redup dan padam. Oleh sebab itu, Ryan ingin selalu bersama ibu sambung nya agar bisa menghibur. Begitu pikir Ryan.
...~To be continue .......