
...~Happy Reading~...
Aarrkkhhh!
Nasya segera menggigit bibir bawah nya dan mencengkram tangga dengan cukup erat. Perutnya terasa begitu sakit hingga membuat tubuh nya langsung ambruk di tangga. Ia tidak pingsan, Nasya masih bisa melihat dan mendengar, hingga tiba tiba ia di bantu leh beberapa pelayan di rumah.
“Astaga! Bu Nasya!” pekik salah seorang pelayan dan langsung membantu Nasya untuk bangkit, “Ibu kenapa?” tanya pelayan itu dengan panik.
“B—bantu saya ke kamar. Ssshhhh perut saya sakit,” ucap Nasya begitu lirih.
“Kita ke rumah sakit ya Bu Nasya?” tanya pelayan itu di tengah kepanikan nya, “Atau saya telfon pak Adnan?’
Dengan cepat, Nasya menggelengkan kepala nya,”Tidak perlu Bi, saya hanya butuh istirahat. Mas Adnan juga baru berangkat kerja,” imbuh Nasya berusaha sekuat tenaga nya untuk bertahan menahan nyeri.
Dan ketika saat pembantu itu hendak membopong tubuh Nasya, tiba tiba ada seorang laki laki yang datang dan membantu pembantu itu untuk mengangkat tubuh Nasya.
__ADS_1
Nasya tidak tau siapa yang sudah menolong nya. Karena kini ia sedang berfokus pada rasa sakit yang ia rasakan. Laki laki itu langsung mengangkat tubuh Nasya dan membawa nya ke dalam kamar.
“Apa perlu ku panggil dokter?” tanya laki laki itu mengerutkan dahi ketika sudah meletakkan Nasya di tempat tidur.
“S—siapa kamu? K—kenapa kamu disini?” kata nasya yang malah balik bertanya.
“Perkenalkan, nama ku Marvel, aku datang kemari karena ingin bertemu bang Adnan. Tapi sepertinya dia sudah berangkat kerja,” ucap nya sambil meneliti kearah kamar Adnan dan Nasya.
“Terimakasih, dan tolong keluarlah. Harusnya kamu mencari mas Adnan di kantor jam segini, bukan malah kemari!” kata Nasya menghela napas panjang.
Sejujurnya Nasya begitu risi melihat kehadiran laki laki lain di rumah nya. Ah ralat, rumah suaminya maksud Nasya.
“Ku mohon, keluarlah. Kamu bisa kembali ke kantor mas Adnan,” ucap Nasya mengusir Marvel.
“Maaf ya, kemarin saat pernikahan kalian aku gak datang. Aku masih harus menyelesaikan kuliah ku waktu itu. Jadi aku baru sempat datang sekarang.”
__ADS_1
“Aku gak tahu kamu itu siapa, asal dari mana dan kenapa bisa tiba tiba datang kesini. Tapi aku mohon banget sama kamu, keluar dari kamar ku,” usir Nasya yang entah sudah ke berapa kalinya.
“Kamu jangan takut. Aku ini keponakan nya bang Adnan. Aku juga masih waras, jadi kamu tenang aja.” Kata Marvel, “Kamu yakin tidak mau ku panggilkan dokter?”
“Tidak, terimakasih. Perut ku sudah lebih baik, jadi aku mohon—“
“Oke oke ke fine!” seru laki laki itu langsung mengangkat tangan nya ke udara ketika Nasya hendak mengusir nya lagi.
“Dimana Ryana?” tanya Marvel untuk terakhir kalinya.
Nasya segera mengatakan keberadaan kamar Ryana, hingga membuat Marvel pun segera bergegas keluar kamar Adnan dan menuju kamar Ryana.
Se perginya Marvel, Nasya pun segera mengambil ponsel nya dan mencoba untuk menghubungi Adnan. Namun sudah beberapa panggilan, tidak ada satupun yang di angkat leh Adnan.
‘Apa lagi nyetir?’ gumam Nasya dalam hati. Lalu ia pun menyandarkan kepalanya paa head board tempat tidur nya dan mencoba mengirimkan pesan saja.
__ADS_1
...~To be continue .......