
...~Happy Reading~...
Sepulang dari kampus, Nasya langsung memilih pulang ke rumah agar bisa istirahat, karena hari ini anak anak akan ada les hingga sore hari. Dan saat ketika dirinya baru sampai di halaman rumah, ia sedikit mengerutkan dahi nya ketika melihat ternyata mobil Adnan berada di rumah.
‘Bukankah tadi pagi mas Adnan uah berangkat kerja? Kenapa? Bukankah anak anak juga ada les, lalu mengapa ia pulang siang?’ tanya Nasya dalam hati.
Membayangkan keberadaan Adnan di dalam rumah, membuat kepala Nasya kembali berdenyut dan rasa mual kembali menyerang. Namun, sekuat tenaga ia berusaha untuk menahan dan bergegas akan masuk.
“Nan, aku mohon! Aku mohon, jangan paksa aku hiks hiks!”
Deg!
Langkah kaki Nasya langsung terhenti ketika mendengar suara isak tangis dari Riri. Mengapa suara mbak Riri seperti itu? Seperti orang ketakutan? Batin Nasya dalam hati nya. Ia pun berusaha berjalan dengan perlahan dan membuka pintu nya untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana.
“Lalu mau sampai kapan kamu menutupi nya hah!” seru Adnan mengusap wajah nya dengan kasar, “Mau sampai kapan kamu seperti ini dan tinggal disini!”
“A—aku mohon Nan. Satu bulan, bila memungkinkan aku ingin tinggal satu bulan lagi, tapi tolong jangan menyuruh Ibu datang! Aku mohon,” pinta Riri dengan berlutut i depan Adnan dengan mengantupkan kedua tangan nya di dagu.
Sungguh, Adnan tidak sampai hati mengusir Riri dari rumah itu. Terlebih melihat wanita itu menangis memhon padanya, bukan berarti ia maish emncintai Riri, bukan. Hanya saja ia manusia yang memiliki hati dan kebaikan, tentu saja Adnan tidak tega melihat seorang wanita yang pernah ia cintai dan ibu dari anak anak nya menangis memohon seperti itu.
__ADS_1
“Ad—nan ... “
Brug!
Tiba tiba tubuh Riri langsung tergeletak di lantai, membuat Adnan dan Nasya begitu terkejut. Namun, Adnan belum tahu keberadaan Nasya, yang berada di ruang tamu an tengah menatap nya. Adnan pun langsung mengangkat tubuh Riri dan membawa nya ke dalam kamar tamu.
Huuhh!
‘Drama pengusiran!’ gumam Nasya berdecak dan menghela napas nya kasar. Ia tidak ingin ikut campur, dan ia segera bergegas menuju kamar nya.
Nasya sudah mengganti pakaian nya, dan ketika ia kleuar dari walk in closed, ia sudah melihat keberadaan Adnan di dalam kamar yang tengah menatap aneh padanya.
'Ngapain sih harus ke kamar!' gumam Nasya dalam hati sambil menarik napas nya panjang.
“Kenapa kamu menghindari ku?” tanya Adnan dengan wajah sendu nya, ia hendak mendekati Nasya, namun lagi lagi wanita itu memundurkan langkah nya dan menghindar dari Adnan.
Nasya semakin menggelengkan kepala nya, air matanya tiba tiba menetes tanpa permisi dan perut nya pun semakin bergejolak.
“Sayang, jangan menangis. Apa kamu tidak merindukan ku hem?” tanya Adnan sekali lagi, namun lagi lagi Nasya menggelengkan kepala nya dengan cepat.
__ADS_1
Nasya kembali menarik napas nya panjang, tangan nya kembali meremas dada nya yang kian terasa sesak. Hingga pada akhirnya, ia memilih untuk kembali masuk ke dalam kamar mandi, untuk memuntahkan isi perut nya.
Namun, sayang beribu sayang. Adnan malah mencekal tangan itu sehingga membuat Nasya tidak jadi ke kamar mandi.
“Kamu kenapa sih!” seru Adnan yang sudah merasa cukup lelah dengan sikap Nasya. Adnan langsung mencengkram kedua tangan Nasya dan menatap nya tajam.
"Kalau memang ada masalah, katakan! kenapa harus saling menghindar begini hah!" imbuh Adnan masih dengan suara meninggi.
"Kalau begini, bagaima—" ucapan Adnan langsung terhenti ketika karena tiba tiba...
Hooeeekkkk
Nasya memuntahkan seluruh isi perutnya tepat di tubuh sang suami, hingga mebuat tubuh Adnan membeku dan terkejut.
“Aku gapapa, pergilah!” kata Nasya menghela napas nya lega karena sudah mengeluarkan seluruh isi perut nya. Dan tanpa memiliki perasaan atau kasihan, Nasya melenggang pergi begitu saja, setelah mengusap mulut nya dengan ujung lengan kemeja Adnan.
'Astaghfirullah!' gumam Adnan dalam hati seraya mengusap wajah nya dengan kasar.
...~To be continue .... ...
__ADS_1