Menikah Dengan Pak Duda

Menikah Dengan Pak Duda
Kedatangan eyang Liana


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Sayang, sampai kapan kamu akan menghukum ku hem?” tanya Adnan begitu lirih, sambil mengusap perut istrinya yang sudah nampak cukup besar.


Kini, usia kandungan Nasya sudah menginjak minggu ke tiga puluh lima. Yang mana itu berarti Nasya koma sudah empat bulan lebih atau sekitar delapan belas minggu. Segala upaya sudah Adnan lakukan agar Nasya sadar dari koma nya. Semua saran dokter, teman dan keluarga sudah Adnan lakukan, namun Nasya masih juga enggan untuk membuka matanya.


Adnan berfikir, mungkin kesalahan nya sudah sangat fatal hingga membuat Nasya enggan untuk kembali padanya. Meskipun seperti itu, Adnan tidak menyerah, ia masih akan terus berdoa dan berharap agar kelak Nasya bangun dan kembali bersama nya.


“Sayang, cepatlah bangun. Kita mulai semuanya dari awal, dan aku janji tidak akan mengulang kesalahan yang sama, aku mohon. Beri aku kesempatan untuk terakhir kalinya. Bangunlah, agar kita bisa bersama lagi, hiks hiks hiks.”


Tak jarang para keluarga Adnan melihat Adnan yang menangis terisak ketika sedang berbicara dengan Nasya. Sangat berbeda dengan ketika dulu Adnan di tinggalkan Riri saat memiliki dua bayi. Adnan hanya sedih karena melihat kedua anak nya, sementara kini, Adnan di tinggal koma oleh Nasya, hidupnya terasa hancur. Bahkan, ia sering menangis terisak tak hanya satu dua kali. Hampir setiap hari.


Cklek!

__ADS_1


Adnan langsung menghapus air mata nya, ketika mendengar suara pintu yang di buka. Ia menarik napas panjang untuk menetralkan diri agar tidak terlihat habis menangis.


“Eyang!” pekik Adnan terkejut dan tak percaya. Benarkah eyang nya datang? Pikir nya tak percaya, bahkan ia sampai mengerjapkan mata berulang kali.


“Apa kamu menangis lagi?” tanya eyang Liana seraya menggelengkan kepala nya.


“Ada apa Eyang kemari? Anak anak tidak ada disini sekarang!” kata Adnan segera bangkit dan menghampiri sang nenek yang sudah begitu tua. Biasanya eyang Liana selalu membawa kursi roda, namun entah mengapa, kini wanita tua itu berjalan dengan menggunakan kaki nya sendiri, dengan bantuan tongkat.


“Cucu kurang ajar! Di tanya malah balik bertanya, apa aku tidak boleh kemari hah!” cetus eyang Liana langsung memalingkan wajah ke samping.


“Eyang kemari dengan siapa? Gak mungkin kan kesini sendiri?” tanya Adnan lagi, sedikit khawatir.


Tentu saja, umur nenek nya sudah tidak muda lagi. Kalau hanya seumuran Olin, mungkin Adnan tidak perlu khawatir. Ini Eyang Liana, yang umur nya hampir menginjak usia sembilan puluh tahun, bagaimana ia tidak khawatir coba. Dan juga, jarak rumah ke rumah sakit tidak lah dekat.

__ADS_1


“Tadi ada Marvel, tapi gak tahu kemana dia. Biarkan saja. Aku mau menemui cucu ku yang gemblung. Biarkan yang sedikit waras mengalah dulu, di abaikan!" ujar eyang Liana seketika membuat Adnan langsung menatap nya datar dan kesal.


“Kamu itu Nan, sudah tua. Anak sudah dua besar besar juga, kok ya masih gak ngerti dan gak bisa jagain istri,” keluh eyang Liana menatap Nasya dengan pandangan sendu.


Tanpa sepengetahuan Adnan,selama ini, eyang Liana banyak mendengar cerita Nasya dari Marvel. Jadi sedikit banyak eyang Liana cukup tahu karakter Nasya seperti apa, dan sejujurnya Eyang Liana bukan jahat atau kejam terhadap cucu cucunya. Hanya saja, setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak nya bukan?


Orang tua Adnan sudah tidak ada. Jadilah eyang Liana yang menggantikan nya. Sebelum ia pergi, tentu saja ia ingin memastikan kebahagiaan para cucu nya terlebih dulu. Dan untuk Riri, mengapa dulu ia tidak setuju, yang pertama karena eyang ingin melihat kesungguhan Adnan dan Riri.


Eyang hanya ingin memastikan apakah Riri benar mencintai Adnan karena Adnan adalah Adnan. Atau karena Adnan adalah Adnan Bimantara, cucunya. Bila di tanya, apa bedanya Adnan dan Adnan Bimantara, tentu saja berbeda. Karena Adnan Bimantara adalah cucunya yang bergelimang harta, sementara Adnan hanyalah seorang Adnan yang tidak memiliki apapun, (Dulu).


Dan ternyata dugaan eyang Liana benar adanya. Cinta Riri tidak tulus, itu yang membuat eyang Liana semakin tidak menyukai Riri. Di tambah ketika dimana Marvel bercerita melihat Riri sedang bermesraan dengan klien Adnan. Tentu saja eyang Liana murka, namun kembali lagi saat itu Adnan tidak mau percaya dan malah memilih menuduh eyang nya sengaja ingin merusak rumah tangga nya. Hingga saat Riri di nyatakan meninggal dunia, Adnan masih saja membenci eyang nya.


‘Cepatlah bangun cah ayu. Jangan lama lama di sana, itu bukan tempat kamu. Tempat kamu disini,’ bisik eyang Liana tepat di telinga Nasya, sebelum akhirnya eyang Liana memilih untuk pamit pulang karena sudah terlalu lama berada di sana memberikan ceramah untuk Adnan.

__ADS_1


...~To be continue ......


__ADS_2