
...~Happy Reading~...
Dengan langkah gontai dan bibir yang memanyun hampir lima centi. Ryana berjalan menyusuri koridor rumah sakit bersama sang ibu.
Sepulang dari sekolah, Nasya berusaha membujuk dan memaksa Ryana agar mau bertanggung jawab kepada Raka, atas apa yang di lakukan nya.
Dan disini lah Ryana saat ini, Nolan Hospital, dimana Raka di rawat karena patah tulang di lengan nya.
"Ayo ketuk pintu nya!" titah Nasya menatap sang putri. Ia hanya ingin mengajarkan pada Ryana, bahwa perbuatan nya salah, dan orang salah harus berani bertanggung jawab. Seperti contoh nya meminta maaf.
"Mom," rengek Ryana seolah enggan untuk bertemu dengan Raka lagi.
"Ryana!"
Menghela napas pasrah, akhirnya Ryana mengetuk pintu ruangan VVIP di depannya dengan perasaan campur aduk.
Tok... Tok.. Tok...
__ADS_1
Cklek!
"Ryana!" pekik seorang wanita muda yang membuka pintu itu dengan ekspresi wajah terkejut namun juga tersenyum lebar.
"Selamat siang tante Naura. Emmmtt ituโ" Ryana menggigit bibir bawah nya, mendongak menatap sang ibu, lalu menundukkan kepala nya lagi.
"Oh ini mama nya Ryana?" sapa Naura tersenyum.
"Selamat siang Ma, saya mommy nya Ryana. Dan kami ingin menjenguk Raka. Boleh?" tanya Nasya dengan sopan.
Satu hal yang ada di pikiran Nasya saat ini, ia sampai ikut meringis, melihat penampakan Raka, dimana kaki dan tangan nya yang di balut dengan perban dan juga gips. Entah bagaimana rasanya jatuh dari truk sampah, namun ia benar benar merasa sangat bersalah.
"Raka... " panggil Nasya seraya memegang tangan putri nya dan mengajak nya duduk di samping Raka, "Bagaimana keadaan kamu?"
"Raka sakit, Tante!" jawab Raka masih dengan wajah kesal nya melirik Ryana.
"Makanya jangan rusuh!" celetuk Ryana pelan dan mendengus.
__ADS_1
"Ryana!" tegur Nasya langsung menggelengkan kepala nya menatap Ryana.
"Mommy mau kalian bicara berdua. Ryana inget kan apa yang di katakan Mommy tadi?" tanya Nasya kepada Ryana dan langsung di balas anggukan kepala oleh Ryana.
Nasya pun akhirnya memilih untuk keluar bersama dengan ibu nya Raka, yakni Naura. Keduanya melanjutkan obrolan di luar ruangan. Dan tentu saja, Nasya meminta maaf atas apa yang di lakukan oleh putri nya terhadap Raka. Beruntung, Raka memiliki orang tua yang baik dan pengertian, Nasya tidak bisa membayangkan bila orang tua Raka adalah orang galak dan perhitungan.
Nasya hanya takut, keluarga Raka tidak Terima dan menuntut balas atau bahkan sampai meminta Ryana di keluarkan dari sekolah. Namun ternyata itu semua tidak terjadi, dan Nasya sangat bersyukur akan hal itu.
Kembali lagi di dalam ruangan Raka. Kini kedua anak sekolah dasar yang masih duduk di bangku kelas lima itu hanya bisa terdiam dan sibuk dengan pikiran masing masing. Tentu saja, karena keduanya masih menyimpan dendam yang teramat dalam.
"Buruan minta maaf, terus pulang sana!" usir Raka dengan ketus lalu membuang wajah ke samping.
"Kamu ngusir aku!" seru Ryana seolah tak terima.
"Iya! aku ngusir kamu! makanya sana pergi! Raka gak mau maafin kamu!"
"Ya udah, kalau gitu Ryana juga gak mau maafin kamu! Kamu kira cuma Ryana doang yang punya salah. Inget ya Raka, kesalahan kamu iu jauh lebih banyak. Jadi kalau nanti kita mati, yang duluan nyemplung ke neraka itu kamu. Bukan Ryana, Bye!" cetus Ryana lalu segera bangkit dari kursi nya dan hendak berjalan keluar.
__ADS_1