
...~Happy Reading~...
“Apakah Ibu tahu?” tanya Adnan dengan wajah terkejut nya. Ia tidak menyangka bahwa ternyata Riri mengidap penyakit seperti itu.
Awalnya, Riri memang memohon kepada Adnan agar bisa dekat kepaa anak-anak nya. Riri memang mengatakan ia akan segera pergi dari Indonesia. Tapi Riri tidak mengatakan bahwa pergi yang ia maksud adalah meninggal.
“I—ibu tahu hiks hiks. Sebab itulah Ibu belum datang kesini, karena aku yang meminta waktu kepada Ibu. Aku tahu, setelah Ibu datang, maka kamu akan menyuruh ku pulang lebih cepat. Aku masih ingin disini Nan, ini rumah kita, bukankah aku juga masih berhak disini. Dulu kita sering menghabiskan waktu disini. Dulu kita sering bercanda dan tertawa bersama anak anak. Aku merindukan semua itu Nan, hiks hiks. Jadi aku mohon, izinkan aku untuk disini sebentar lagi,” ujar Riri panjang lebar.
Deg!
Nasya langsung meremas dada nya yang terasa begitu sesak, setelah mendengar penuturan kata dari Riri. Nasya baru saja turun dan ingin memanggil Adnan, namun ketika ia hendak mengetuk pintu, ia sudah menengar kata kata Riri yang mengatakan tidak ingin pulang. Ia ingin mengenang kenangan mereka di rumah itu. Seketika itu juga, Nasya merasakan nafas nya begitu sesak, air matanya mengalir deras, dan tentu saja hatinya begitu sakit.
__ADS_1
“Jangan pernah mengungkit yang dulu, Ri.” Kata Adnan dengan ekspresi wajah datar nya, “Aku akan membiarkan mu disini, tapi sekali lagi kamu berani menyentuh istriku apalagi menyakiti nya, maka aku tidak akan segan lagi sama kamu. Persetan dengan kamu ibu dari anak anak ku!” imbuh Adnan lalu ia segera membuka pintu dan pergi begitu saja meninggalkan Riri yang masih terisak di lantai.
Tak hanya Riri yang tengah terisak, namun kini Nasya pun juga sedang terisak di dalam kamar mandi. Ia tidak berniat untuk menguping lebih lama, karena takut hatinya akan semakin terluka. Jadilah tadi ia memutuskan untuk segera pergi dan kembali ke dalam kamar.
Cklek!
Tepat ketika Nasya keluar dari kamar mandi, saat itu juga Adnan masuk ke dalam kamar. Adnan baru saja dari kamar Ryana untuk mengecek keadaan putrinya, yang ternyata sudah baik baik saja.
“Sayang ... “ panggil Adnan lagi, dan kini ia merengkuh tubuh mungil istrinya, membalik tubuh itu agar menghadap ke arah nya, lalu ia dongakan sedikit dagu nya agar wajah keduanya saling berhadapan.
“Apakah masih sakit?” tanya nya begitu lembut seraya menyentuh wajah Nasya yang tadi terkena tamparan keras dari Riri.
__ADS_1
‘Bukan wajah ku yang sakit, tapi hatiku,’ gumam Nasya dalam hati.
“Maaf ya, karena aku tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Karena kelalaian ku, kamu harus merasakan isi, maaf,” ujar Adnan lagi dengan penuh penyesalan.
“Aku gapapa, tapi mau sampai kapan mbak Riri disini?” tanya Nasya datar dan ia langsung memalingkan wajah nya ke samping agar tak lagi menatap wajah Adnan.
“Biarkan dia disini sebentar lagi. Dia hanya ingin bersama anak anak,” kata Adnan lalu ia menghela napas nya dengan cukup berat.
“Tapi dia penghasut Mas. Dia sudah menghasut Ryana!” seru Nasya lalu menghela napas kasar, “Kalau mbak Riri terlalu lama disini, aku khawatir nanti Ryana—“
“Dia tidak akan lama, hanya sebentar. Aku janji setelah Ibud atang, dia pasti akan pergi,” ucap Adnan segera memotong ucapan Nasya, lalu ia kembali merengkuh tubuh mungil itu dan menciumi setiap pucuk kepala nya dengan begitu sayang.
__ADS_1
...~To be continue ........