
Sepanjang acara berlangsung, Nasya tidak melepaskan tangan nya dari legan Adnan sama sekali. Bahkan, hanya untuk minum pun, ia akan tetap menggandeng tangan suaminya. Adnan pun tidak mempermasalahkan nya, justru ia dengan senang hati di perlakukan seperti itu oleh Nasya.
“Apa kamu lapar?” tanya Adnan sedikit berbisik, namun nasya langsung menggelengkan kepala nya dengan cepat.
“Mau minum aja,” jawab Nasya sedikit menggigit bibir bawah nya karena ia benar benar canggung berada di acara seperti itu.
Bukan tanpa alasan, ia merasa malu dan canggung, lantaran Adnan yang sejak tadi tak henti henti nya memamerkan dirinya sebagai istri di depan para kolega bisnis nya.
“Adnan!” panggil seorang laki laki paruh baya yang memiliki kumis yang cukup tebal menghiasi wajah nya, datang bersama seorang wanita yang sepertinya umur nya cukup jauh lebih muda dari laki laki tersebut.
“Om Broto,” sapa Adnan membalas jabatan tangan tersenyum dengan senyum tipis.
“Halo Nasya, bagaimana kabar kamu?” tanya om Broto beralih menyalami Nasya, namun wanita itu menolak dengan semakin mencengkram erat lengan Adnan.
“Ah, sepertinya kamu belum memperkenalkan nya tentang ku,” imbuh om Broto dengan tersenyum miring, “Nuna, apa kalian tidak bertegur sapa lagi?” tanya nya pada seorang gadis yang berdiri di samping nya yang terus menatap ke arah Nasya dan Adnan.
__ADS_1
“Tidak Pa, Nuna mau ambil minum dulu.” Jawab gadis itu memilih untuk pergi dan menghindar karena masih bingung harus bersikap bagaimana pada nasya dan juga Adnan.
‘Nuna ... ‘ gumam Nasya begitu lirih, ia berusaha mengingat ingat akan nama itu yang ternyata terdengar cukup familiar di kepala nya.
“Mas, aku mau minum juga,” bisik Nasya sedikit lirih kepada Adnan.
“Astaga mas lupa. Ayo kita ambil minum,” ujar Adnan menyesal karena melupakan keinginan Nasya beberapa menit yang lalu.
“Tidak perlu, aku ambil sendiri saja. Mas Adnan ngobrol dulu saja sama om—“
“Om Broto,” ucap Adnan melanjutkan perkataan Nasya yang terlihat lupa akan nama orang yang di depan nya.
“Om mau minta maaf atas apa yang semuanya pernah terjadi. Om sadar bahwa om salah sudah memaksakan kehendak, dan sekarang om tulus meminta maaf sama kamu dan istri mu,” tutur om Broto begitu tulus.
Sementara itu, di tempat minuman. Nasya melihat keberadaan Nuna yang terlihat sedang mengobrol dengan seorang laki laki yang entah siapa Nasya tidak mengenali nya. Jelas saja Nasya tidak kenal, sedangkan kepada Nuna saja ia masih abu abu untuk mengingat siapa dia.
“Gue bilang gak mau ya gak mau!” terlihat Nuna yang menolak keras tawaran laki laki di depan nya.
__ADS_1
Dan setelah nya, Nasya bisa melihat sedikit percekcokan antara keduanya. Semakin lama semakin terlihat tidak beres, hingga membuat Nasya akhirnya memilih untuk mendekati nya.
“Nuna, ... “
Mendengar nama nya di dengar dan ternyata Nasya mendekat ke arah nya, dengan cepat Nuna mendorong laki laki itu dan mengajak Nasya untuk pergi. Namun dengan cepat, Nasya menolak karena tujuan nya memang mau mengambil minum, sejak tadi ia sudah menahan dahaga dan sekarang ia melihat banyak minuman berjejer di depan nya, bagaimana sebuah oasis di padang pasir, tentu saja nasya tidak akan melewatkan nya.
“Lo itu mau apa?” tanya Nuna sedikit kesal lantaran Nasya tetap nekat menghampiri tempat minuman itu.
“Aku haus, mau minum.” Jawab Nasya dengan mata berbinar.
“Itu bukan minuman buat lo—“ terlambat, belum sempat Nuna menyelesaikan ucapan nya, Nasya sudah terlebih dulu meneguk minuman di depan nya hingga kandas.
“Bangsattt!” pekik Nuna tertahan begitu kesal dan marah kepada alki laki yang sejak tadi mengganggu nya, ingin rasanya wanita itu menghajar lelaki itu namun sayang ia tidak bisa lantaran ia harus menjaga nama baik ayah nya.
“Jangan marah marah, Nuna ... “ ucap Nasya menggelengkan kepala nya menatap Nuna.
‘Gue itu udah gak mau berhubungan sama lo lagi Sya. Tapi kenapa lo harus ngelibatin gue lagi kalau begini’ keluh Nuna memijit pelipis nya yang tiba tiba terasa pusing berdenyut.
__ADS_1
...~To be continue .......