Menikah Dengan Pak Duda

Menikah Dengan Pak Duda
Rumah sakit


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Sesampainya di rumah sakit, Adnan segera menemui dokter yang sudah cukup ia kenal. Dokter itu adalah teman masa sekolah Adnan, jadi ia cukup percaya. Selama Riri melakukan pemeriksaan, Adnan mencoba untuk membuka ponsel nya yang sejak tadi berada di dalam saku.


Begitu banyak pesan dari Nasya dan panggilan tak terjawab. Khawatir, Adnan pun segera menghubungi Nasya, namun ternyata nomor itu malah tidak aktif. Adnan mencoba menghubungi telfon rumah, namun tidak ada yang mengangkat.


“Pada kemana sih orang orang!” gerutu Adnan berdecak kesal.


Ia bangkit dari tempat duduk nya lalu berjalan mondar mandir dengan perasaan gelisah dan tak menentu. Mencoba untuk terus menghubungi nomor Nasya dan nomor telfon rumah, namun tidak juga mendapatkan hilal. Akhirnya Adnan menyerah, karena saat itu juga bertepatan dengan dokter keluar dari ruang pemeriksaan.


“Bagaimana Al?” tanya Adnan langsung menghampiri dokter yang bernama Aldo.


“Hasilnya memang benar,” ucap Aldo menghela napas nya panjang, “Mbak Riri memang mengidap leukimia. Tapi—“

__ADS_1


“Tapi apa?” tanya Adnan mengerutkan dahinya menatap Aldo.


“Dia menolak untuk melakukan pengobatan. Bahkan untuk meminum obat saja dia tidak mau! Dia mengaku tidak pernah meminum obat nya, dia hanya periksa rutin setiap bulan tanpa berniat untuk meminum semua obat obatan nya. Sehingga membuat sel kanker itu menyebar dengan cukup cepat!”


“Kenapa begitu?” tanya Adnan yang masih merasa bingung.


“Sepertinya dia selama ini cukup tertekan dan sudah pasrah dengan kehidupan nya. Sehingga membuatnya putus asa dan menganggap semua percuma. Tidak memiliki semangat untuk sembuh sama sekali, dia sudah pasrah dan siap bila harus pergi kapan saja. Itu yang aku tangkap dari pemeriksaan tadi,” ujar Aldo panjang lebar, namun membuat Adnan masih bingung dan tidak mengerti.


Aldo memang teman sekolah Adnan, namun Aldo berada tiga tahun di bawah Adnan. Jadilah ia memanggil Adnan dengan sebutan abang. Dan Aldo adalah teman seangkatan Marvel. Itulah sebab nya, Adnan tidak mau di panggil Om oleh keponakan nya karena umur mereka yang tidak begitu jauh jarak nya.


Adnan pun menganggukkan kepala dan memasuki ruang perawatan Riri. Adnan bisa melihat bagaimana wanita itu tengah meringis menahan sakit mungkin, Adnan tidak tahu.


“Kenapa?” tanya Adnan to the poin tanpa berniat untuk duduk.

__ADS_1


Riri tersenyum, ia kembali mendongak dan menatap wajah Adnan, “Apanya yang kenapa? Tidak ada yang kenapa, Nan.” Jawab Riri dengan senyum getir di wajah nya.


“Kenapa kamu harus berbohong selama ini? Kenapa kamu harus mengkhianati ku, meninggalkan anak anak. Dan dengan gampang nya kamu kembali untuk merusak semuanya, kenapa Ri? Kenapa!” tanya Adnan dengan nada tertahan menahan rasa gemuruh amarah di dalam hatinya.


Tanpa sadar, Riri sampai meneteskan air mata, melihat raut kemarahan di wajah Adnan. Bukan takut, namun ia merasa begitu bersalah karena sudah mengkhianati cinta suci yang di berikan oleh Adnan dulu.


“Seperti yang ku katakan Nan. Aku tidak bermaksud merusak kebahagiaan kalian. Aku hanya ingin memiliki momen, dimana kelak nama ku di kenang sama anak anak. Apa aku salah?” tanya Riri dengan nada bergetar dan air mata yang sudah mengalir deras.


“Salah!” seru Adnan dengan cepat, “Kamu sangat salah Ri. Kalau memang kamu ingin memiliki memori, seharusnya kamu tidak pergi. Kamu begitu bodoh dan—“


“Aku tahu aku bodoh Nan!” saut Riri dengan cepat, “Aku memang bodoh, tapi aku juga gak sanggup hidup sama kamu!” imbuhnya dan kini tangis nya semakin pecah, sehingga membuat Adnan langsung terdiam.


...~To be continue .......

__ADS_1


__ADS_2