Menikah Dengan Pak Duda

Menikah Dengan Pak Duda
Secepat itu?


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Setelah perbincangan nya dengan Adnan tadi, kini Nasya sudah mandi dan membersihkan diri usai memasak Dan ini semuanya sedang berkumpul di meja makan.


“Mom, Ryana mau makan ikan,” ucap Ryana kepada Nasya, namun dengan cepat Riri berdiri dan mengambilkan Ryana makanan yang di inginkan.


“Makan yang banyak ya Sayang,” ucap Riri tersenyum kepada Ryana.


“Ryana mau sama Mommy!” seru gadis itu langsung menggeser piring nya ke tengah, tanda ia tidak suka dengan sikap Riri padanya, “Mom ... “ panggil Ryana menatap Nasya memohon.


“Daddy kenapa bawa tante ini pulang? Apa tante ini gak punya rumah?” tanya Ryan yang sejak tadi diam dengan adanya orang baru, kini akhirnya bersuara.


Meskipun Ryan dan Ryana sudah melihat foto ibu kandung nya di rumah Olin. Namun mereka tetap tidak bisa mengenali sosok Riri. Karena penampilan Riri yang sudah sangat jauh berbeda di bandingkan dulu. Bila dulu, Riri memiliki rambut pendek dan penampilan terbuka serta mewah. Sangat berbeda dengan sekarang yang berambut panjang dan tampak biasa saja. Bahkan kulit nya juga nampak berbeda dengan yang di foto. Mungkin karena anak anak masih begitu kecil hingga sulit membedakan, namun untuk Adnan dan Nasya, mereka cukup tahu dan mengenali wajah itu.

__ADS_1


“Sayang, ini Mommy. Kenapa kamu panggil Tante? Mommy sudah bilang kalau aku ini Mommy mu. Ibu kandung mu yang melahirkan kalian berdua,” ucap Riri dengan mata berkaca kaca menahan tangis.


“No!” jawab Ryan dan Ryana bersamaan, “Mommy kita cuma Mommy Nasya. Tidak ada Mommy lain!”


“Enggak Sayang, dia bukan mommy kalian. Aku mommy kalian, dan aku—“


“Mbak, tolong jangan paksa mereka. Kita bisa bicarakan pelan pelan,” ucap Nasya mencoba memberikan pengertian kepada Riri agar tidak memaksa.


Riri akhirnya mengalah dan membiarkan anak anak di urus oleh Nasya. Sementara Adnan, sejak tadi ia hanya terdiam dan memperhatikan Riri, entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini, namun sejak tadi ia bahkan sampai tidak berkedip, dan itu semua tak luput dari pandangan Nasya yang sedang berusaha menahan rasa sesak di dada nya.


Usai makan malam, seperti biasa Nasya akan menemani anak anak untuk tidur. Setelah memastikan Ryan terbaring dan siap tidur, Nasya pun hendak berpindah ke kamar Ryana.


“Mom ... “ panggil Ryan menahan tangan Nasya.

__ADS_1


“Iya Sayang,” jawab Nasya tersenyum dan kembali duduk di sisi tempat tidur Ryan.


“Mommy jangan sedih ya, jangan nangis lagi. Ryan gak suka!” kata Ryan memanyunkan bibir seperti biasa, anak itu sangatlah peka, dan ia terus memperhatikan wajah Nasya yang terlihat memerah.


“Mommy gak nangis kok, kenapa harus nangis. Dan kenapa harus bersedih? Mommy punya anak anak seperti kalian, Mommy sudah bahagia,” ucap Nasya tersenyum, lalu ia mengecup kening Ryan dan menyuruh nya segera tidur.


Nasya segera beranjak dari duduknya, ia hendak menuju kamar Ryana. Dan baru saja ia menutup pintu kamar Ryan, ia sudah mendengar suara gelak tawa dari kamar Ryana.


Deg!


Entah mengapa, kini jantung nya kembali berdetak dengan begitu cepat. Mendengar suara gelak tawa dari kamar Ryana. Bukan ia tidak bahagia mendengar tawa Ryana, hanya saja, suara tawa itu bercampur dengan suara tawa orang dewasa. Bukan hanya satu melainkan dua suara yang berbeda.


‘Mas Adnan, mbak Riri ...” gumam Nasya di ambang pintu, ketika melihat di kamar Ryana ternyata benar sudah ada Adnan dan Riri yang sedang mengajak Ryana bercanda.

__ADS_1


Mengapa secepat itu? Batin Nasya merasa sesak.


...~To be continue .......


__ADS_2