
...~Happy Reading~...
Karena tidak tenang, akhirnya Adnan segera menyelesaikan pekerjaan nya. Dan setelah itu ia segera bergegas ke rumah eyang Liana untuk melihat istri dan anak anak nya.
Sebenarnya, ia sudah ingin langsung menyusul sore tadi, hanya saja ia juga memiliki pekerjaan yang cukup banyak, jadi ia berfikir mungkin ini cara tepat baginya untuk menyelesaikan semua pekerjaan nya, mumpung baby R tidak ada. Karena selama beberapa hari ini baby R memnag sedikit rewel sehingga pekerjaan nya banyak terbengkalai.
“Pak Adnan,” sapa Bibi ketika membuka pintu utama.
“Semua udah pada tidur Bi?” tanya Adnan basa basi.
“Sudah atuh Pak, si neng Ryana dan den Ryan juga sudah tidur di atas.” Ucap Bibi dengan sopan.
“Saya mau lihat Rayyanza Bi,” kata Adnan sambil menatap sekeliling.
“Tadi sih anteng Pak,” ucap Bibi, namun baru beberapa detik tiba tiba keduanya mendengar suara tangis dari dalam kamar Nasya.
Dengan cepat dan segera, Adnan juga Bibi segera berlari menuju kamar Nasya. Entah kebetulan atau memang sengaja, ternyata kamar Nasya tidak di kunci, jadilah Adnan bisa langsung membuka nya.
__ADS_1
“Astagfirullah,” gumam Adnan langsung mengusap wajah nya dengan cukup kasar ketika ia melihat pemandangan di depan nya.
Nasya yang tengah menangis di bawah meja rias, sedangkan anak bayinya menangis di atas tempat tidur. Bingung dan kasihan, itulah yang Adnan rasakan saat ini.
Adnan bisa mendengar suara racauan Nasya yang terlihat begitu frustasi di bawah sana. Adnan pun segera menggendong baby R dan menenangkan nya. Setelah beberapa saat baby R tertidur, ia meminta bantuan kepada Bibi agar menggendong baby R, sementara ia beralih menghampiri Nasya.
“Nasya ... “
“Hiks hiks maafin Mommy, maafin Mommy.”
Karena tidak tega, Adnan pun langsung merengkuh tubuh Nasya yang masih terduduk di lantai. Ia sangat merindukan istrinya, namun keadaan yang memisahkan mereka dan sangat sulit untuk ia jangkau kembali.
“Hey, sstttt denger. Dia udah gapapa, tenang ya, jangan nangis lagi,” ucap Adnan begitu lirih dan tidak tega melihat air mata istrinya.
Deg!
Merasakan sebuah tangan kokoh menangkup wajah nya, seketika membuat tangis Nasya terhenti. Namun, meski begitu air matanya tetap mengalir di pipi nya.
__ADS_1
"Mas Adnan ... “ gumam Nasya yang kembali menangis walau tanpa suara.
Hanya dua kata yang di ucapkan oleh Nasya, namun entah mengapa mampu membuat hati Adnan begitu bahagia. Setelah sekian lama, sekian purnama dan sekian abad, kini akhirnya ia bisa mendengar istrinya kembali menyebut nama nya.
Bahagia, hatinya teramat sangat bahagia. Hingga tanpa sadar membuat air matanya ikut menetes membasahi wajah nya.
Kini mata keduanya saling menatap dalam. Selah ada ribuan kata yang ingin di ungkapkan, namun tak bisa terucap. Hanya lewat tatapan mata keduanya seolah saling berbicara menumpahkan segala kerinduan nya.
“Kamu sudah mengingat ku?” tanya Adnan dengan nada sedikit bergetar.
“A—aku ... “ jawab Nasya gugup, lalu ia menggigit bibir bawah nya agar isak tangis nya tidak kembali terdengar, “Aku benci sama kamu Mas, hiks hiks hiks.”
Deg!
Bibir yang awal nya sudah menerbitkan senyuman, kini seolah sirna dan kandas begitu saja. Ketika mendengar kata kata yang di ucapkan oleh Nasya. Namun Adnan mencoba untuk memaklumi nya. Nasya masih belum mengingat semua kenangan nya, hanya sebagian, dan Adnan juga memaklumi karena dirinya begitu banyak membuat salah kepada wanita di depan nya ini.
“Tidak apa, tidak papa kamu membenciku, asal aku masih bisa melihat kamu.” Balas Adnan mencoba untuk tetap tersenyum.
__ADS_1
“Bencilah aku sesuka mu, maki aku semau mu dan pukul aku sekuat tenaga mu. Asal kamu tetap di sisi ku, di samping ku dan bersama ku, karena aku tidak akan sanggup melihat mu terluka lagi. Maafkan aku,” ucap Adnan panjang lebar, lalu ia kembali membawa Nasya ke dalam pelukan nya, tanpa perduli bagaimana wanita itu memberontak dan ingin di lepaskan, justru Adnan akan semakin mengeratkan pelukan nya.
...~To be continue .......