
...~Happy Reading~...
“Yoga, dimana—“ belum sempat Nasya melanjutkan pertanyaan nya, tiba tiba ia suah mereka
ndengar suara deru mobil di halaman rumah.
Ia menghela napas nya lega, karena ternyata Adnan suah pulang. Namun, entah mengapa membayangkan suaminya pulang dan akan bertemu dengan nya, justru malah membuat kepalanya berdenyut nyeri.
Nasya menarik napas nya panjang, memejamkan mata nya cukup erat, dan berpegangan pada sisi kursi.
“Daddy!” seru Ryana bersorak menyambut kedatangan ayah nya.
“Astaga, jangan lari, sayang!” kata Adnan yang langsung menggendong Ryana, “Marvel!” imbuh nya ketika melihat sang keponakan sudah berada di rumah nya.
Sementara itu, Marvel tidak langsung menjawab sapaan Adnan. Justru matanya malah terfokus pada sosok wanita yang tengah berjalan pelan i belakang Adnan.
__ADS_1
“Mbak Riri?” gumam nya pelan, “Apakah aku bermimpi?’
“Dia memang mantan istri bang Adnan,” jawab Yoga setengah berbisik.
“B—bagaimana bisa?” tanya Marvel begitu terkejut dengan kedatangan Riri.
Setelah bertahun tahun di nyatakan meninggal, bagaimana bisa kini datang kembali dan terlihat begitu sehat tanpa cacat sedikit pun. Marvel berulang kali menggelengkan kepala dan menatap tak percaya.
“Mommy kenapa?” di saat semua sibuk dengan kedatangan Adnan dan Riri, justru Ryan langsung menghampiri ibu sambung nya yang kini terlihat seperti sedang tidak baik baik saja.
“Hah!” Nasya berusaha membuka matanya dan menerbitkan sebuah lengkungan senyum, “Mommy gapapa, ayo kita makan siang dulu. Ryan pasti—“
“Bang, jangan sampai kamu kehilangan masa depan hanya untuk kembali pada masa lalu!” ucap Marvel dengan sinis, seraya menepuk bahu Adnan.
“Hey, dua tuyul. Kakak ipar dan Yoga, aku pamit dulu. Mungkin next time aku akan datang lagi. Aku gak kuat berlama lama di neraka, mau pindah ke surga dulu biar adem,” celetuk Marvel tersenyum seraya melirik ke arah Adnan dan Riri.
__ADS_1
“Kamu kesini mau apa?” tanya Adnan menahan tangan Marvel.
“Niatnya mau ada urusan sama abang. Tapi, lain kali aja, anggep aja kedatangan ku hanya ingin berkenalan sama kakak ipar! Duluan bang!” ucap Marvel lalu ia benar benar pergi dari rumah Adnan.
Jangan heran mengapa Marvel memanggil Adnan engan sebutan Abang, dan anak anak Adnan memanggil Marvel engan sebutan Om. Padahal seharusnya tidak begitu, nama panggilan itu mereka yang menciptakan sendiri, dan selama tidak merugikan orang lain dan masih terlihat sopan, why not. Tidak masalah bukan? Jadi para deterjen jangan banyak komplain! Cetus Marvel dalam hati.
“Kamu istirahat lagi dulu. Biar nanti Bibi yang akan mengantarkan makanan ke kamar mu!” ucap Adnan dengan datar, lalu ia melangkahkan kaki nya menuju meja makan setelah mengajak Yoga ikut bergabung dengan nya.
Adnan segera mendudukkan Ryana di kursi nya, lalu ia menatap istrinya yang memang wajah nya terlihat sedikit pucat.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Andan hendak menyentuh Nasya, namun dengan cepat wanita itu menggelengkan kepala dan menepis kasar tangan Adnan.
Nasya sendiri tidak mengerti, mengapa ia bisa bersikap seperti itu kepada Adnan. Ia merasa begitu muak, mual dan kepalanya berdenyut pusing setiap kali berdekatan dengan Adnan.
“A—aku tidak lapar.” Ujar Nasya tiba tiba seraya berusaha menahan rasa sakit di kepala nya, “Ryan, Ryana kalian makan sama om Yoga dan Daddy ya,” ucap Nasya tersenyum, lalu ia segera berpamitan untuk kembali istirahat di kamar.
__ADS_1
“Hayo loh Daddy, Mommy marah kan. Daddy pasti udah jahatin Mommy,” celetuk Ryan menatap kesal pada ayah nya, sementara Adnan hanya bisa mengerutkan dahinya menatap kepergian Nasya menaiki tangga satu persatu secara perlahan.
...~To be continue ......