
pagi hari seperti biasa, adrian dan ayu berangkat lebih pagi untuk menemui papa faris. sepanjang perjalanan ayu mencoba menguatkan hati untuk semua kemungkinan yang akan terjadi hari ini. mengingat ucapan bunga kemarin.
sesampainya dirumah sakit, adrian dan ayu menuju ruangan papa faris setelah memarkirkan mobilnya. seperti biasa mereka berjalan sambil bergandengan tangan.
adrian memperlambat langkahnya dan mendesah kesal. sementara ayu, dia hanya bisa menelan ludah melihat dua orang wanita dan satu anak laki laki sedang melambaikan tangan dari kejauhan.
adrian menghentikan langkahnya dan menghadapkan tubuhnya di depan ayu. lalu memegang kedua pundak ayu.
" sayang,,, aku nggak tau dia benar anak aku atau bukan. aku cuma minta, tolong apapun yang terjadi jangan tinggalin aku."
ayu tersenyum dan mengangguk. sejujurnya hatinya sangat sakit saat melihat anak yang tengah melambaikan tangan pada adrian. yang dia pikirkan adalah, bunga pasti akan mendekati adrian melalui anak itu. entah itu benar anak kandung adrian atau bukan. ayu dan adrian melanjutkan langkah kakinya dengan hati yang bergejolak. jantungnya seakan ingin meledak.
" papa!,,,... anak kecil itu berlari ke arah adrian dan memeluk bagian paha adrian.
adrian terdiam dan hanya memandangi anak kecil itu. rasanya dia ingin sekali melepaskan tangan anak itu yang tengah memeluk pahanya. ayu terdiam sembari mengatur nafas. dia tidak ingin terlihat sedih apalagi terlihat hancur. sesekali dia melirik ke arah anak itu dan mengalihkan pandangan ke pada dua wanita yang setiap pagi selalu datang kerumah sakit. anehnya dia selalu datang sebelum ayu dan adrian datang.
" papa,,,. panggil anak itu.
adrian hanya terdiam. tidak tau harus bereaksi seperti apa. ayu meraih kedua tangan anak itu melepaskan pelukanya dari adrian, lalu berjongkok dan tersenyum didepan anak kecil itu.
" hei ganteng, nama kamu siapa?
" nama aku andika wijaya sasongko tante," jawaban anak kecil itu membuat ayu mengerutkan dahinya. adrian yang mendengar jawaban anak itu semakin kesal dibuatnya.
ayu masih tetap tersenyum walaupun sedikit memaksakan. " wahh,,,.. namanya bagus sekali. umur kamu berapa anak ganteng?"
" umur dika, empat tahun tante," jawaban anak anak yang terlihat sangat polos.
" wahh,,,... kamu anak pinter dan ganteng ya." ucap ayu sembari mengelus kepala andika.
" kamu kesini mau jenguk siapa andika?"
__ADS_1
" dika mau jenguk opa tante,.
ayu berdiri dari jongkoknya dan menggandeng tangan andika. ayu menatap mama risa dan bunga lalu tersenyum. mama risa dan bunga terkejut melihat senyum ayu yang seperti mengetahui sesuatu. ayu semakin menyipitkan matanya saat melihat mata bunga yang seolah takut.
adrian terus memandangi ayu. seolah bertanya kenapa kamu begitu ramah. apa yang kamu lakukan. adrian meraih jemari ayu dan menggandengnya untuk masuk keruangan papa faris tanpa menghiraukan mama risa dan bunga. andika yang tengah menggandeng tangan ayu akhirnya ikut masuk kedalam ruangan papa faris.
sesampainya didalam. ayu mendudukan andika di tempat biasa suster berjaga dan disusul adrian. adrian memandangi wajah andika lekat. ayu memperhatikan adrian dan andika. jujur didalam hati ayu ada sedikit rasa sakit melihat wajah andika yang sedikit mirip dengan adrian.
" andika, kamu duduk disini aja ya sama papa, tante mau ngobrol sama opa."
adrian membulatkan matanya ke wajah ayu. lalu mendekatkan wajahnya ke kuping ayu.
" apa kamu bilang? papa? opa? yang bener aja dong yank."
ayu tersenyum dan mendorong tubuh adrian pelan lalu mengusap pipinya. " sayang kamu ngobrol aja dulu sama andika ya."
adrian mendengus kesal.
" hei pah, apa kabar?"adrian mengusap pipi papa faris pelan.
" papa, dokter bilang, papa semakin membaik. ayu udah nggak sabar pah. pengen banget liat papa pulih seperti dulu." ayu terus berbicara entah kemana dan apa yang dia bicarakan. tertawa sendiri seolah tau jawaban papa faris.
"papa,,..." panggil andika sembari memeluk lengan adrian.
adrian terdiam kebingungan merespon panggilan andika yang terus memanggilnya papa.
" kamu kenapa terus panggil papa sih?" tanya adrian yang masih merasa aneh saat andika terus memanggilnya papa.
" karena mama sama oma bilang kalau papa ini, adalah papa aku." jawab andika yang masih memeluk lengan adrian.
" papa nanti pulang dari jenguk opa kita main basket ya pah." ajak andika yang terlihat sangat manja tanpa canggung.
__ADS_1
" nggak bisa. saya kerja." jawab adrian
andika langsung melepaskan pelukanya dan memasang wajah sedih. " oma sama mama bilang, selama ini papa sibuk bekerja buat dika. nanti kalau papa udah pulang, dika boleh main sama papa. papa kan udah pulang kerjanya."
adrian mengerutkan dahinya. mengusap usap wajahnya bahkan berkali kali ia lakukan. " kamu ngomong apa sih?,.. aku -,.
" dika," saut ayu menghentikan ucapan adrian.
sekarang papa belum libur bekerjanya." jawab ayu sembari tersenyum dan mendekat kearah andika.
andika langsung terdiam menunduk sambil menangis sesegukan. ayu menjadi tidak tega melihat anak kecil menangis. mengingatkan dia dengan adik bungsunya ketika menginginkan sesuatu tapi belum bisa dipenuhi.
adrian juga merasa bersalah. entah mengapa tingkah andika mengingatkan adrian saat kecil yang merengek meminta papa faris bermain basket bersamanya.
" ya udah. nanti hari minggu aja ya." ajak adrian.
andika langsung tersenyum menghapus air matanya. lalu memeluk adrian. adrian tersenyum melihat tingkah andika dan mengelus kepalanya. ayu hanya memandang adrian dan andika dengan tatapan yang sulit diartikan.
adrian dan andika terus bercanda. ayu memandang mereka dan tersenyum. ada rasa canggung di hati ayu. namun saat melihat adrian yang sangat cepat akrab dengan andika membuat ayu sedikit bingung. bagaimana bisa mereka secepat itu akrab. mereka terlihat mirip seperti anak dan ayah. mulai dari hobi yang sama. bahkan andika dan adrian alergi buah pisang. kalau ini kebetulan, mungkinkah bisa sangat mirip seperti ini?. hati ayu diselimuti jutaan pertanyaan yang membuat hatinya sesak.
waktu adrian menuju kantor tiba. adrian ayu dan andika keluar dari ruangan papa faris. andika berjalan didepan adrian dan ayu.
" sayang, aku berangkat dulu ya." adrian mengelus kepala ayu dan mencium kening ayu karena ada andika jadi adrian mengurungkan niatnya untuk mencium bibir ayu seperti biasa.
" papa,,.. cium mama juga dong." pinta andika yang membuat adrian juga ayu sangat terkejut.
bunga mulai gelagapan melihat wajah marah adrian." dika, kamu ngomong apa sih nak. nggak boleh ngomong gitu lagi ya." ucap bunga sembari mengelus kepala andika.
sementara mama risa terlihat sedikit tersenyum licik. dia benar benar memanfaatkan kepolosan andika.
" mama berarti nanti malam kita pulang kerumah papa ya ma? terus dika sama mama bisa bobok sama papa?
__ADS_1