
" Selamat menempuh hidup baru, papa dan juga Ibu tiri. " Ucap Adrian kepada papa Faris dan juga tante Nela yang beberapa saat lalu sah menjadi suami dan istri. Ayu juga mengucapkan hal yang sama, benar tidak disangka apa yang terjadi saat ini. Tante yang selama ini jarang pulang menemuinya, kini telah menjadi Ibu tiri dari suaminya, dan juga merangkap dua peran bagi Ayu. Tapi yang paling penting adalah kebahagiaan. Toh, selama ini Tante Nela juga tidak pernah hidup bahagia setelah menikah dengan mantan suaminya yang dulu. Ayu tersenyum bahagia sembari terus berdoa di dalam hati. Iya, tentu saja doanya adalah hal baik, dan juga langgeng sampai maut memisahkan mereka.
" Yank, kayaknya kita harus cepetan punya anak dulu deh, kan nggak lucu kalau aku punya adek duluan. " Ujar Adrian setengah berbisik.
" Punya anak? aku malah takutnya nanti pas aku hamil, kamu main perempuan mulu, terus celup sana, celup sini, nanti kalau aku sama anak aku ketularan penyakit anu gimana? " Ayu sempat melirik sebal ke arah Adrian sebelum kembali tersenyum kepada tante Nela dan papa Faris.
" Nggak lah, yank! aku janji yang kemaren itu terakhir kok. Yah, meskipun mata aku masih suka ngerasa sayang kalo liat paha sama dada mulus, tapi aku janji nggak akan macam-macam kok. " Adrian tersenyum meledek Ayu, lalu erat-erat merangkulnya. Iya, memang harus erat, karena kalau tidak, Ayu biasanya akan menepis tangan Adrian.
" Dasar buaya udara! "
" Hah?! " Adrian terbengong mendengar ucapan Ayu. Tak mau lagi mennaggapi Adrian, Ayu bergegas bergabung dengan papa Faris dan tante Nela.
Baru saja mereka mulai mengobrol lagi, seorang wanita yang tak lain adalah Ibu kandung Adrian datang. Awalnya dia memang tidak di izinkan masuk, tapi karena terus memaksa dan mengatakan jika dia adalah Ibu kandung Adrian, ditambah lagi dia menunjukkan beberapa photonya bersama Adrian saat kecil, dan juga photo Adrian dan Andika saat bersama dengannya, tentu saja satpam yang berjaga hanya bisa mempersilahkan masuk dengan hormat, meski sejujurnya dia juga sedikit ragu-ragu.
" Faris, selamat ya? Tidak disangka, kamu ternyata menikah juga dengan wanita pujaan kamu ini. " Mamanya Adrian tersenyum miring seolah mengejek dengan caranya.
Adrian mengepalkan kedua tangannya seolah tengah menahan emosinya, sementara papa Faris, pria yang memang sangat bisa mengontrol diri itu memilih untuk tersenyum biasa seolah ucapan itu tidak ada artinya bagi dirinya.
" Iya, aku sangat bersyukur sekali. Tuhan masih sayang, jadi Tuhan masih kasih kesempatan buat kami bersatu dan bahagia. "
Mamanya Adrian kini malah berubah cara menatapnya, dan lebih terlihat kesal.
" Faris, kamu yakin wanita ini bisa membuat kamu bahagia? " Mamanya Adrian melirik sinis kepada tente Nela yang lebih memilih diam dan masa bodoh saja dengan ucapan tidak penting Ibunya Adrian.
" Bisa dong! Dia cantik, baik hati, masih muda, masih bisa memberikan keturunan. " Mamanya Adrian mendelik kesal. Iya, tentu saja dia merasa kesal dan tersindir. Dia kan sudah terhitung tua, di usianya yang hampir lima puluh tahun juga sudah tidak mungkin bisa melahirkan keturunan lagi.
" Ngomong-ngomong, kenapa kamu datang? Apa orang ku salah mengirim undangan? "
__ADS_1
" Ada yang mau aku bicarakan. " Saut Mamanya Adrian dengan tegas.
" Aduh! Besok saja deh, sekarang aku sedang sibuk. " Jawab Papa Faris.
" Nggak bisa Ris! harus sekarang juga! "
Papa Faris menghela nafasnya, untunglah tidak banyak orang disana setelah ijab Qabul selesai beberapa saat lalu. Jadi dia juga sudah tidak bisa beralasan lagi, terlebih dia juga tidak mau membuang-buang waktu. Iya, kalau sekarang di undur, toh nanti akan datang lagi jadi lebih baik segera saja agar tidak perlu berhubungan lagi kedepannya.
" Ya sudah, kita keruang keluarga saja. " Ucap papa Faris, tak hanya berucap, dia juga mengacak tante Nehra, dan juga Adrian, Ayu untuk ikut serta.
" Kamu lagi bercanda ya Ris?! Aku maunya kita berdua aja. "
" Mereka ini kan keluarga, Nela istriku, Adrian dan Ayu anakku. Jadi kalau mau bicara ya harus bersama-sama. "
Mamanya Adrian sudah tidak bisa lagi berkata-kata. Saat ini dia hanya perlu menyingkirkan harga dirinya, dan fokus kepada tujuan utamanya.
" Apa yang mau dibicarakan? " Tanya papa Faris kepada Mamanya Adrian yang nampak ragu-ragu.
" Itu, kapan warisan untuk Adrian diserahkan? "
Semua orang mengeryit menatap Mamanya Adrian, terkecuali Adrian nya sendiri.
" Maksud kamu? " Tanya papa Faris yang bingung dan tidak habis pikir dengan pertanyaan mantan istrinya yang amat sangat aneh itu.
" Aku cuma tanya. " Mamanya Adrian mengalihkan pandangan dari Adrian dan papa Faris karena merasa tida nyaman jika matanya bertemu dengan mata mantan suami, dan anak laki-lakinya.
" Harta Adrian sudah aku aku berikan, tapi pemiliknya ada dua nama yaitu, Ayu Rosalia, dan juga Adrian Wijaya Sasongko. " Papa Faris tersenyum setelahnya.
__ADS_1
" Kamu ini apa-apaan sih Ris?! Yang anak kamu adalah Adrian, kenapa segala nawa perempuan kampung itu? " Sinis Mamanya Adrian.
" Mah! " Adrian bangkit dari duduknya, tangannya mengepal kuat, tatapannya juga terlihat begitu sangar.
" Udah Dri, jangan kebawa emosi! Coba liat tuh! Mata Mama kamu udah berbentuk Rp loh! " Sindir Ayu.
" Lihat Ris! Dari awal ketemu dia, aku tahu banget kalau anak itu nggak sopan dan sembrono. Mulutnya lancang, dan kebiasaan natap orang tajem. "
Ayu memaksakan senyumnya, dia menarik tangan Adrian, lalu membuat Adrian kembali duduk seperti sebelumnya.
" Duduk yang rapih, lagian kamu udah tahu kenapa Mama mertua kesini kan? Jangan nunjukin kemarahan kamu, coba lihat lagi deh! Mama kamu kasian loh Dri, demi uang dia sampe nggak perduli harga dirinya sendiri. "
Lagi-lagi ucapan Ayu menusuk relung hati Mamanya Adrian. Entah apa yang ada di dalam mulut gadis itu, rasanya setiap berkata selalu saja menyakitkan.
" Dasar anak kampung! "
" Duh! Mama mertua ini maunya apa sih? ngalor ngidul nggak jelas, tujuannya apa sih? Harta Adrian gitu? " Gumam Ayu yang masih bisa di dengar oleh Mamanya Adrian meski agak samar-samar.
Tadinya ingin marah lagi karena tersinggung, tapi kalau melihat wajah papa Faris dan Nela yang terkesan jengah, Mamanya Adrian menahan marahnya dan mencoba untuk sebaik mungkin dalam menyusun kalimat agar tak menyinggung siapapun lagi.
" Aku sudah pernah membicarakan ke Adrian, kalau uang udah dibalik nama atas nama Adrian, aku mau pinjem untuk modal usaha. "
Papa Faris menghela nafasnya.
" Jamu jangan pikir aku sama sekali nggak tahu tujuan kamu ya? Aku tahu benar kalau suamimu itu bangkrut, dan ini ide dari anak tiri kamu kan? Jujur aku nggak akan setuju, tapi harta itu s udah menjadi milik Adrian dan Ayu. Jadi kalau kamu butuh, ya bilang sama mereka. "
.............
__ADS_1