Menikah Dengan Playboy

Menikah Dengan Playboy
Ibu Tiri


__ADS_3

Seperti yang sudah dijanjikan, Ayu dan Adrian kini pergi ke sebuah restauran dan pada akhirnya bisa membuat perut mereka terasa begitu kenyang. Seperti yang Ayu inginkan, setelah makan mereka kini berbelanja beberapa baju yang memang Ayu inginkan.


" Ah, udah ah! Aku capek. " Keluh Ayu yang kini tengah duduk sembari mengatur nafasnya. Iya, dia benar-benar gila-gilaan membeli baju hari ini. Tidak perduli bagaimana modelnya, asalkan diskon, atau dia melihat harga promo, matanya akan langsung berbinar dan membeli apa saja yang tengah promo dan di diskon.


" Serius udah nih? " Adrian sebenarnya juga lumayan lelah, tapi demi si istri agar tidak ngambek-ngambek lagi, apapun akan dia lakukan.


" Udah ah! aku juga udah beli hadiah buat Papa sama Tante Nela. "


Setelah kembali ke parkiran, Adrian tiba-tiba mengingat akan hal yang ingin dia beritahu kepada Ayu sejak lama. Hati juga masih siang, jadi masih akan ada banyak waktu untuk menemui Papanya malam nanti.


" Yank, ikut aku bentar ya? "


" Kemana? "


" Ketemu orang, dan kayaknya kamu juga kangen dia deh. "


Ayu tak menjawab. Aku kangen? batinnya hanya bisa menebak tanpa mendapatkan jawaban.


" Ya udah deh! "


Hampir satu jam menempuh perjalanan, sekarang sampailah di sebuah rumah sakit. Awalnya Ayu memang bingung dan ingin bertanya kenapa membawanya kesana, tapi karena dia juga masih tidak mau terlalu banyak bicara kepada Adrian, dia memilih untuk diam saja dan melihat siapa orang yang di maksud Adrian.


Langkah demi langkah kaki Ayu mengikuti kemana kaki Adrian membawanya, hingga sampailah disebuah kamar yang ditinggali seorang anak berwajah tampan. Iya, anak itu adalah Andika.


" Andika? " Sapa Adrian saat dia sudah berada di dalam kamar.


" Papa? " Andika tersenyum lebar karena merasa bahagia, bahkan senyumnya juga Semakin bersinar saat melihat Ayu berada di belakang Adrian.


" Mama? "


Ayu mengeryit menatap Andika. Mama? padahal beberapa bulan lalu dia di larang memanggilnya mama. Tak tega, Ayu memaksakan senyumnya, tangannya tergerak melambai untuk menyapa Andika.


" Halo, Andika? apa kabar? "


Anak kecil itu nampak kurus, matanya juga sayu. Bibirnya yang beberapa bulan lalu merah merona, kini kering dan pecah-pecah.


" Mama, aku kangen sama mama. " Andika merentangkan kedua tangannya berharap Andika memeluknya. Tentu saja Ayu tidak mungkin menolak Andika, dia berjalan mendekat dan memeluk Andika.


Setelah itu mereka saling mengobrol dengan santai dan gembira.


Satu jam kemudian.

__ADS_1


" Andika kenapa cuma sendirian? dimana Mama kamu? Bunga juga kemana? " Tanya Ayu yang merasa heran. Padahal dulu mereka terlihat begitu menyayangi Andika, kok sekarang Andika malah terlihat kesepian sekali.


Adrian terdiam sesaat, di cengkramnya kuat setir mobil yang saat ini tengah ia pegang.


" Yank, aku mau minta maaf sama kamu soal ini. "


" Maaf kenapa? "


Adrian mengurungkan niatnya untuk melajukan mobilnya. Dia memilih untuk menatap Ayu, meraih tangannya lalu menggenggamnya dengan tatapan yang begitu serius.


" Aku tahu masalah Andika pernah bikin kita berdua salah paham, tapi aku bener-bener nggak bermaksud buat nyakitin kamu. Aku tau kamu udah ingetin aku berkali-kali kalau Andika bukan anak aku, tapi waktu itu aku ngga tega sama dia kalau kenyataannya dia bukan anak aku. "


" Intinya gimana sih? muter-muter kayak gangsing gini aku jadi pusing. "


" Andika bukan anak aku, Yank. Dia itu di adopsi dari panti asuhan sama Bunga. Nah, mama aku itu ikut andil buat adopsi Andika. Mereka sengaja cari anak yang mirip sama aku, terus ngajarin Andika cara ngomong pas di depan kita. Alerginya Andika juga cuma bohongan. "


" Oh... " Ayu tentu aja tidak heran, tapi saat mengingat-ingat kejadian itu, dia jadi kesal sendiri.


" Maaf ya Yank? meskipun aku tahu tujuan mama aku itu nggak baik, tapi aku juga enggak tega sama Andika. Jadi aku nahan aja. Tapi salah paham di antara kita malah makin melebar kemana-mana, kamu sama sekali nggak perduli sama aku, jawab sapaan aku enggak, liat aku juga enggak, padahal aku ada di depan kamu. Aku jadi cuma bisa nunggu sampe kamu tenang, baru ceritain tentang Andika. "


" Salah paham? salah paham atau salah kamu? " Sindir Aya tak mau menatap ke arah Adrian. Tangan yang tadinya di genggam Adrian kini juga sudah ia tarik paksa.


Ayu menghela nafasnya.


" Aku sebenarnya udah capek banget denger kamu minta maaf. Tapi ujungnya sama aja, kamu emang gatel, dan enggak bisa nahan diri dari perempuan. "


" Bisa! aku bisa kok Yank. Kemarin aku diemin aku berbulan-bulan, anu ku beneran semedi loh. " Adrian menatap Ayu dengan tatapan yang begitu yakin


" Nggak tau lah, kita jalanin aja dulu. Kalau kamu masih begitu, aku ya nggak mungkin bisa tahan. Sekarang aku ngga mau ngelarang kamu. Kamu ngelakuin apapun, terserah sama kamu. "


Adrian terdiam karena tidak bisa lagi berkata-kata. Iya memang benar sih, dia itu tidak bisa dipercaya. Ma menjelaskan berapa kali pun, minta maaf sebanyak apapun kalau masih di ulang ya sama saja.


Aku janji enggak akan gitu lagi Yank. Dibandingin kehilangan kamu, aku nggak perduli yang lain.


Setelah pembicaraan mereka dirasa cukup, Adrian dan Ayu memutuskan untuk langsung ke rumah Papa Faris.


" Ayu? " Sapa Tante Nela setelah mendapati Ayu berada di ruang keluarga.


" Tante? " Ayu bangkit dan memeluk tantenya. Adrian juga bangkit lalu menyalami Tante Nela.


" Papa mana tan? " Tanya Ayu.

__ADS_1


" Lagi pake baju. " Jawab Tante Nela.


" Tante ngga bantuin pakein? " Ledek Adrian.


" Hus! ngomong apa kamu Dri?! memang Tante istrinya apa? " Sebal Tante Nela.


" Ya kali Tante mau jadi Ibu tiri Adrian. " Ujar Adrian yang sukses membuat Tante Nela merona malu.


" Rencananya sih begitu. " Sela Papa Faris seraya berjalan mendekati mereka.


Ayu berjalan cepat menuju Papa Faris dan memeluknya.


" Papa udah sehat banget? udah nggak pake kursi roda lagi? "


" Udah enggak nak, papa udah sehat, bugar, dan kekar. "


Ayu terkekeh geli mendengar dan melihat bagaimana Papa Faris berusaha menunjukkan letak ototnya. Sementara Adrian malah sibuk menjebik ucapan Ayahnya.


" Kekar? udah tua pa, jangan kekar terus-terusan. Coba deh, papa kaya temen-temen papa yang buncit, terus botak, kayaknya lucu. " Sindir Adrian yang mendapat kekehan dari Tante Nela.


" Sembarangan mulutmu dri! "


Setelah beberapa saat.


" Jadi, Papa mau kasih tau sama kalian berdua kalau papa, dama Nela mau menikah. "


" Hah?! " Ayu dan Adrian kompak terperangah kaget


" Pah, bercanda atau gimana nih? " Tanya Adrian memastikan.


" Nggak! papa serius. Minggu besok rencananya papa sama Nela nikahnya. "


" Ya ampun, Adrian masih bisa punya adek dong? " Ayu dan Adrian saling memandang kaget.


" Seriusan masih bisa punya adek akunya Yank? "


" Kan Tante Nela baru tiga puluh tahunan. "


Adrian ternganga melihat Ayahnya yang kini tersenyum bangga dan bahagia.


.........

__ADS_1


__ADS_2