
Sejenak tak ada obrolan karena Ayu dan Adrian fokus menikmati makan malam bersama. Hingga Ayu mulai membuka pembicaraan mengenai pernikahan Papa Faris dan Tante Nehra yang akan segera dilangsungkan.
" Ngomong-ngomong kita kasih kado apa ya buat papa sama tante Nela? "
Adrian nampak berpikir sejenak sembari menguyah makannnya.
" Besok kita cari deh. "
Ayu yang sudah selesai memakan makanannya, dia menjauhkan piring, lalu meraih tisu untuk menyeka sisa makanan yang tertinggal di bibirnya.
" Besok aku kan kerja, gimana dong? "
" Izin dulu emang nggak boleh? " Adrian juga menjauhkan piringnya karena merasa sudah kenyang.
" Kayaknya enggak boleh deh. Manager Lusy itu tegas, dan nggak suka kalo buang-buang waktu. "
" Ya udah, nanti carinya pas pulang kerja aja. Mall kan tutupnya malem. " Ayu mengangguk setuju karena sepertinya hanya itu yang bisa dia lakukan. Memang sih, memilih kado pasti akan mmebutuhkan waktu, tapi ya mau bagaimana lagi? pernikahan papa Faris dan tente Nela kan juga terhitung buru-buru meskipun mereka menikah tanpa mengundang orang lain.
" Kamu beneran setuju kalo papa dama tente Nela menikah Dri? " Ayu menatap manik mata Adrian yang nampaknya tidak keberatan, tapi demi memastikan tidak ada salahnya juga kan?
" Enggak lah, lagian papa tuh udah lama banget menyendiri loh. Udah hampir lima belas tahun, papa juga kan berhak buat bahagia. " Ayu tersenyum setuju.
" Oh iya, terus Mama dama Bunga kemana? kayaknya udah lama banget juga aku enggak tahu kabar mereka. "
Adrian menghela nafasnya.
" Semenjak aku tau kalok Andika bukan anak aku, Mama tuh mulai kayak menghindar gituh, terus Bunga juga nggak berani lagi ngusik aku. Setelah kamu bener-bener diemin aku waktu itu, aku tuh cari tahu semuanya tentang Andika, Mama, sama Bunga beberapa tahun lalu. Jadilah aku tahu semuanya, Mama tuh nyoba buat deketin aku sama Bunga lewat Andika, cuma tujuan Mama tuh nggak jauh dati duit yank. Kalo si bunga, dia juga udah aku pecat waktu itu juga. Tiga bulan itu banyak hal yang terjadi yank, tapi sayangnya kamu nggak bisa liat langsung semuanya. "
Ayu terdiam sesaat.
" Kalok aku nggak marah dan diemin kamu, kamu itu bakalan ambigu dan engga punya ketegasan Dri. Aku tuh sebenarnya bener-bener ada di titik aku udah capek sama kamu, sama pernikahan kita yang terlalu banyak hal nyebelin. Dari sifat kamu, masalah kita, juga kurang tegasanya kamu. "
__ADS_1
Adrian terdiam, dia meraih segelas anggur merah yang berada di mejanya. Memang benar sih apa yang dikatakan Ayu. Pernikahan ini memang terlalu banyak masalah, terutama adanya wanita-wanita yang seharusnya tidak ada di dalam kehidupan pernikahan mereka. Tapi karena sifat brengsek Adrian yang belum seutuhnya hilang, lagi-lagi dia membuat kesalahan yang sama.
" Yank, aku janji enggak akan gitu lagi. Ini aku beneran janji loh. "
Ayu menghela nafasnya.
" Enggak tau ah! pokoknya sekarang aku enggak mau percaya begitu aja ucapan kamu. Aku bakalan bertahan selama aku masih bisa bertahan, tapi kalau aku udah nggak bisa ya kamu harus ikhlasin. "
" Kamu kok ngomongnya gitu yank? " Adrian merengut sedih, tangannya neraih tangan Ayu dan menggengganya erat.
" Dri, di dunia ini apa sih yang mau kamu cari? kepuasan fisik? itu nggak akan ada habisnya Dri. Lagian, kita hidup itu cuma hitungan hari, kalo bisa tuh kita tinggalin kesan baik supaya orang-orang yang kita tinggalin inget kita sebagai orang yang baik. Terlebih perlakuan kamu ke perempuan Dri, mereka itu punya orang tua, mereka di lahirin, di urus, di kasih makan, di sayang, di jaga sampek mereka gede dan cantik, tapi ujungnya kamu juga yang ngerusak mereka. "
Adrian terkejut karena sedikit tidak setuju dengan ucapan Ayu.
" Yank, waktu aku begituan sama mereka, mereka itu emang udah rusak loh. Sumpah deh, yank! aku bohong! "
Ayu memutar bola matanya jengah. Sialan! ini Ayu yang sok bijak, atau Adrian yang kurang ajar sih?!
" Tapi aku seriusan loh, yank! "
" Bodo! "
Tak jauh dari mereka, Manager Lusy duduk di sudut ruangan, menggunakan kaca mata hitam agar bisa menatap mereka dengan bebas. Gemuruh, itulah yang tengah hatinya rasakan karena melihat Ayu dan Adrian nampak begitu mesra. Meski tidak bisa mendengar apa yang tengah mereka bicarakan, tapi kalau di lihat dari cara Ayu dan Adrian berbicara, jelas sekali kalau hubungan mereka sangat baik, oh! bahkan mereka juga terlihat mesra.
Manager Lusy mengeluarkan ponselnya, lalu memotret secara diam-diam agar bisa ia gunakan sebagai alat untuk menekan Ayu agar menjauh dari Adrian.
" Ayu, kamu itu tidak pantas untuk Adrian. Dia itu orang berada, sementara kamu? kamu itu orang biasa yang sudah bersuami. "
Setelah mendapatkan beberapa gambar, Manager Lusy bangkit dari duduknya, lalu bergegas meninggalkan restauran itu.
Tak lama kemudian, Ayu dan Adrian kini memutuskan untuk kembali ke apartemen mereka. Tak ada percakapan selama diperjalanan karena Ayu sibuk dengan ponselnya, sementara Adrian fokus untuk mengemudi.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen. Adrian bergegas menyusul Ayu yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.
" Yank, mandi bareng ya? " Ajak Adrian yang mendapati Ayu tengah melepas pakaiannya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
" Enggak! kamu suka aneh-aneh kalo di dalem kamar mandi. Aku aja duluan, aku cuma sebentar kok. "
" Ayolah Yank, please... Mau ya? "
" Nggak! "
Tak mau mengindahkan bantahan Ayu, Adrian juga sudah mulai membuka pakaiannya. Tentu Ayu menolak, tapi dia bisa apa kalau dia tidak sebanding dengan tenaga laki-laki.
Seperti yang Ayu duga, pria mesum satu itu memang selalu tidak bisa menahan bagian bawahnya yang sangat mudah sekali terpancing. Karena tak mau terpleset, Ayu bergegas saja keluar dari kamar mandi , dan disusul oleh Adrian. Yah, untunglah mereka sudah selesai mandinya.
" Yank! " Adrian menarik tangan Ayu, membuat tubuh mereka bertabrakan. Dia menahan pinggul Ayu, lalu mulai menyesap bibir ranum si wanita kesayangannya. Tak mau melepaskan tautan bibirnya, Adrian membawa Ayu menuju tempat tidur perlahan.
Bruk!
" Adrian! rambut sama badan aku masih basah! sprei nya nanti gim- Em! " Ucapan Ayu tertahan saat Adrian membenamkan bibirnya disana. Cukup lama Adrian membuat Ayu hanyut, tapi untunglah sekarang mereka mulai menikmati kegiatan mereka.
Pagi harinya.
Ayu yang bangun kesiangan hanya bisa memasrahkan saja nasibnya karena sudah terlambat tiga puluh menit. Kalau saja Adrian tidak mengantarnya tadi, bisa-bisa satu jam lebih dia akan terlambat.
" Ayu, Manager Lusy nyariin kamu dari tadi. " Ucap salah satu resepsionis yang melihat kedatangan Ayu.
" Ok, Ok! "
Akhirnya dengan langkah terburu-buru, dan nafas yang terengah-engah, Ayu akhirnya sudah sampai di depan pintu ruangan Manager Lusy. Ayu mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk.
" Selamat pagi, Manager Lusy? maafkan saya karena terlambat hari ini. "
__ADS_1
Manager Lusy memang ingin memarahi Ayu, tapi saat melihat banyak tanda merah di bagian leher Ayu, dia menahannya sebentar sembari mengepak tangan dengan kuat.