Menikah Dengan Playboy

Menikah Dengan Playboy
Episode Akhir


__ADS_3

Setelah mengetahui tentang kehamilannya, Adrian dan Ayu kompak memberikan kabar kepada orang-orang yang mereka sayangi untuk berbagi kabar bahagia ini. Tentu saja mereka mendapatkan banyak sekali ucapan selamat, dan juga doa agar Ayu dan janin di dalam perutnya sehat hingga nanti melahirkan. Ada beberapa perubahan yang terjadi ketika masa kehamilan Ayu terus berjalan, tapi syukurnya Ayu sama sekali bukan Ibu hamil yang manja dan terlalu sering berkeinginan.


Hari demi hari kini telah jauh terlewati. Tidak ada lagi Adrian mesum yang hobi melirik gadis montok, terlebih saat anak pertama mereka lahir ke dunia, Adrian semakin tidak pernah tersenyum sembarangan kepada gadis yang sengaja menggodanya seperti dulu. Kenapa? Itu karena sejak di dalam kandungan dia telah mengetahui jenis kelamin sang anak yang adalah seorang perempuan. Iya, ini seolah menjadi peringatan, sekaligus PR untuk Adrian agar sang putri tidak akan mengalami ataupun bertemu dengan pria brengsek seperti dirinya terdahulu yang sangat suka mempermainkan wanita.


" Andrea? " Adrian berjalan pelan menghampiri tempat tidur milik putrinya yang kini telah berusia tiga tahun. Adria tersenyum lembut saat mendapati sang anak tertidur pulas disana. Diusapnya pelan kepala sang anak, dan juga memberikan kecupan disana.


" Kamu udah pulang dari tadi yank? " Tanya Ayu yang tidak menyadari sebelumnya bahwa Adrian telah sampai di apartemen.


" Baru aja, kamu nggak denger aku pulang, memang kamu lagi ngapain tadi? " Tanya Adrian seraya bangkit menghampiri sang istri yang kini tengah meletakkan beberapa baju Andrea yang sudah rapih disetrika.


" Aku lagi mandi. Kamu mandi dulu ya? Aku panasin makanannya buat kamu. "


Cup...


Adrian mengecup kening sang istri sebelum memeluk tubuhnya.


" Kamu udah mandi, jadi kita bisa langsung aja dong? "


" Ngomong apa sih kamu? Udah sana mandi, aku mau siapin makan buat kamu. "


" Ya udah deh, di tunda dulu sampe selesai makan malem anu nya. " Ujar Adrian seraya melangkahkan kaki keluar dari kamar Andrea untuk menuju kamarnya sendiri.


Di meja makan.


" Yank, besok malem papa sama mama minta kita dateng buat makan malem bareng, kamu jangan sampe pulang semalem ini ya? " Ucap Ayu mengingatkan Adrian yang suka sekali melupakan janji kalau sudah asik bekerja.


" Ok! Tapi buat jaga-jaga, besok ingetin pas udah jam lima ya? "


" Iya. "


" Mama! Hua..... " Suara Andrea yang terbangun dari tidurnya melengking memenuhi seisi ruangan. Ayu yang tidak mungkin membiarkan Adrian sedang makan malam mengangkat anaknya, tentu saja doa bergegas menghampiri sang anak yang masih berada di dalam kamar.


" Andrea? Kenapa nangis, nak? " Ayu berjalan cepat, meraih tubuh putrinya dan membawanya ke pangkuannya. Tangannya juga bergerak mengusap kepala sang anak yang masih menangis.

__ADS_1


" Papa.... Papa..... " Pinta Andrea yang tengah meminta sang papa untuk menggendongnya.


" Sayang, Papa lagi makan, Andrea sama Mama aja ya? "


" Mau Papa..... " Ucap lagi Andrea masih sambil sesegukan.


" Ok, ok! Kita ke dapur ya temuin papa ya? " Ayu menggendong sang anak menuju dapur seperti ucapannya agar Andrea tak terus menerus mencari sang Ayah.


" Eh, anak papa kenapa bangun? " Taya Adrian. Untungnya dia sudah selesai makan, jadi dia bisa bergegas mengambil alih sang putri yang berada di gendongan istrinya.


" Mau bobo sama Papa... " Pinta Andrea. Iya, sebenarnya ini adalah kebiasaan Andrea. Dia akan tertidur sembari memeluk sang Ayah, tapi dia juga butuh tangan Ibunya untuk mengusap punggungnya hingga ia terlelap.


" Ya sudah, kita bobo. " Ucap Adrian langsung membawa sang anak kembali ke kamar sebelum ngantuk bocah kecil itu keburu menghilang.


Mereka bertiga kini tengah berbaring bersamaan. Andrea berada di tengah, sementara Adrian dan Ayu di sisi pinggir dengan saling menghadap. Mereka berdua saling menatap dan melempar senyum, rasanya semua memang berubah lebih baik dengan hadirnya Andrea di dalam hidup mereka. Ayu menjadi lebih sabar dan peka, begitu juga dengan Adrian yang semakin memusatkan perhatiannya kepada Ayu dan Andrea. Setelah Andrea kembali pulas, kini Adrian mengajak Ayu untuk kembali ke kamar mereka.


" Kangen, yank. " Ucap Adrian begitu dia sampai di kamar.


" Tiap kali kamu ngomong kangen, aku malah curiga kalau aku bakalan capek. '' Adrian terkekeh seraya menyambar tubuh istrinya agar bisa lebih dekat, lalu menyergap bibirnya setelah itu.


" Yank, udah hampir lima tahun kita nikah, nggak berasa ya? " Ujar Adrian. Dia kini menatap Ayu yang tidur miring menghadap ke arahnya.


" Iya, yang lebih ngga nyangka tuh kamu bisa berubah seperti sekarang ini, aku bener-bener bersyukur banget. "


Adrian tersenyum, dia mendekati wajah Ayu, lalu mengecup keningnya sebentar.


" Semua ini karena kamu. Kalau aku nikahnya bukan sama kamu, aku yakin lima tahun ini bakalan nikah cerai mulu deh. "


Ayu tersenyum geli mendengarnya.


" Makanya kamu jangan macem-macem ya? Sekarang kamu bukan punya aku aja, tapi juga punya Andrea. Kalo kamu macem-macem bukan cuma kehilangan aku aja, tapi juga kehilangan Andrea. "


Adrian mengangguk paham. Sebenarnya dia seringkali menahan diri untuk tidak tergoda oleh para wanita, tapi masih saja hatinya merasa menginginkan itu. Tapi syukurlah, Andrea seolah menjadi obat dalam keinginan terlarang itu, dan membuatnya mampu bertahan dengan Ayu saja. Semoga ini bertahan sampai Akhir hayat, batin Adrian.

__ADS_1


" Yank, makasih banyak udah lahirin Andrea ke dunia. Makasih udah kasih aku anak yang cantik, dan pinter, aku janji dan aku akan berusaha sebaik mungkin supaya kamu sama Andrea nggak akan kecewa sama aku. " Ayu tersenyum, dia mendekatkan tubuhnya untuk memeluk sang suami.


***


Seperti yang sudah direncanakan, Hari ini Adrian, Ayu dan Andrea akan dayang mengunjungi papa Faris dan tente Nela untuk makan malam bersama disana.


" Cucu Opa? Selamat malam? Cantik sekali. " Ujar Papa Faris yamg merasa bahagia dengan kehadiran Adrian, Ayu, dan juga cucu pertamanya, Andrea. Seperti biasanya, dia akan langsung menggendong sang cucu, dan memberikan pelukan serta ciuman sayang.


" Opa, mau main kuda-kudaan. " Pinta Andrea karena kebiasaan papa Faris yang suka mengajak Andrea untuk naik ke punggungnya saat bermain.


" Boleh, tapi kita makan malam dulu ya? " Ajak Papa Faris. Andrea mengangguk nurut. Seperti kebanyakan anak usia tiga tahun, Andrea juga termasuk anak yang aktif, hanya saja dia memang tidak terlalu banyak bicara.


Setelah kegiatan makam malam bersama selesai, Papa Faris berdehem hendak menyampaikan sesuatu.


" Adrian, dan Ayu, Oh iya cucu cantikku Andrea, hari ini ada kabar yang sangat membahagiakan yang akan kita sampaikan. " Ucap papa Faris dan tante Nela yang nampak malu-malu.


" Apaan sih pa? Gayanya malu-malu meong kayak anak muda aja.


" Papa, sama Nela, kami akan punya bayi. "


" Hah?! " Adrian dan Ayu kompak melongo kaget.


" Serius? " Tanya Adrian.


" Iya dong. " Papa Faris mengeluarkan hasil photo USG dari rumah sakit.


" Ya ampun yank, kamu bakalan punya adek. " Ujar Ayu lalu tertawa setelahnya.


" Selamat ya pa, mama tante... "


" Makasih Yu. "


Adrian kini tersenyum melihat bagaimana Ayahnya tertawa bahagia sembari mengusap perut tante Nela. Mau keberatan mana bisa kalau begini? Tidak apa-apa, asalkan papanya bahagia, dia juga akan bahagia.

__ADS_1


Tamat...


__ADS_2