
ayu dan adrian tidak mengatakan sepatah katapun saat perjalanan menuju rumah papa faris. ayu tidak tau akan menjawab apa nanti saat andika bertanya. andika duduk kursi belakang. matanya sibuk memandangi ke arah luar kaca. sementara adrian tetap fokus untuk mengemudi.
sesampainya dirumah papa faris. adrian memarkirkan mobil di bagasi. mengajak andika untuk menunggu di ruang tamu. adrian meminta bi romlah untuk membuatkan susu untuk andika. adrian bergegas menaiki tangga. ayu menyipitkan mata curiga. memutuskan untuk mengikuti adrian. sesampainya dikamar adrian, ayu membuka pintu perlahan. matanya membulat seketika melihat kamar adrian.
" ya ampun!!!
adrian tersentak kaget." jangan berisik yank!.
ayu menggelengkan kepala. " gila kamu yank! tembok kamar kamu penuh sama perempuan telanjang.
" ssstt! " adrian meletakkan jari telunjuknya dibibir. " jangan sekeras itu suaranya yank. mending bantuin aku lepas posternya.
" nggak mau ah! " ayu melipat dua lengannya di dada.
" aduh! ini terlalu banyak yank." gerutu adrian sambil terus melepaskan poster didinding.
" memang harus ya yank, kamu nunjukin kamar kamu ke andika.
" ya iyalah yank. aku kan papa nya. aku mau dia lebih mengenal aku dan dekat sama aku.
" yank,, emmm.
" apa
" kamu seyakin itu, kalau andika anak kandung kamu?
adrian menghentikan kegiatannya dan menatap ayu dengan tatapan yang sulit diartikan. " maksut kamu apa?
" maaf yank, aku nggak ada niat buruk. bukanya lebih baik kamu memastikan terlebih dahulu? " nada bicara ayu sedikit menurun.
adrian menghembuskan nafas kasarnya.
" aku nggak perlu bukti lagi. andika sangat mirip dengan aku waktu kecil. " adrian sedikit terpancing emosi.
" maaf yank, apa maksut kamu tentang alergi? lagi pula, karakter anak bisa dibentuk yank. tergantung bagaimana orang yang membentuk karakternya kan? kalau aku boleh memberi saran, lebih baik kamu,
" aku nggak butuh saran apapun! " adrian menghempaskan poster yang telah ia copot dari dinding.
ayu mendekati adrian dan menggenggam tanganya. " sayang, aku cuma mau semuanya jelas. "
tiba tiba terdengar suara isak tangis di depan pintu yang terbuka. ayu dan adrian membulatkan mata terkejut.
" andika." panggil adrian.
ayu menutup bibirnya yang tengah terbuka dengan jemarinya.
" tante jahat! " andika berlari meninggalkan kamar adrian. sejenak adrian menatap marah ayu dan langsung mengejar andika.
__ADS_1
ayu masih berdiri dikamar adrian. bingung dengan apa yang akan dia katakan nanti. adrian pasti tengah marah. begitu juga andika. " aku harus bagaimana? heii otak ku! berpikirlah! aku butuh bantuan mu. cepat bantu aku." gumam ayu dalam hati.
adrian mengejar andika. dan menghentikan langkah kaki andika. adrian menggendong tubuh andika. menyeka air matanya. adrian membawa andika ke taman belakang rumah yang ada lapangan basketnya. adrian mengajak andika duduk dikursi taman.
adrian mengusap kepala andika.
" dika, maafkan tante ayu ya, tante ayu nggak sengaja ngomong seperti itu.
" tapi dika anak papa! " bentak dika dengan isak tangisnya." jangan buang dika pa, jangan tinggalin dika." tangis andika semakin menjadi.
mata adrian ikut memerah ingin menangis. ia mengingat saat mama akan pergi meninggalkannya. adrian memohon dan menangis untuk tidak ditinggalkan oleh mama.
adrian memeluk erat tubuh andika. " papa nggak akan tinggalin andika."
ayu melihat dari kejauhan. " apa aku sudah keterlaluan? tapi, aku harus bagaimana? yang aku miliki saat ini hanya satu fakta. bahwa andika tidak alergi pisang. baiklah aku akan mencari bukti baru. dan juga akan membuktikan pada adrian. bahwa andika tidak alergi pisang " batin ayu.
ayu tetap diam ditempatnya. tak ada niat sedikitpun untuk bergabung dengan adrian dan andika. dia juga kesal karena adrian membentak dan meremehkannya. ayu duduk balkon yang menghadap ke arah taman. ayu hanya memandangi bunga bunga cantik di sekitar taman. ayu meraih ponsel nya berdering. dilihatnya panggilan video call dari group. ayu segera mengangkatnya.
" heiii ,...
" ayu! " panggil rara.
" hai sayangku " goda thomas.
" hallo teman pacarku yang cantik. " timpal vallas.
" kamu lagi dimana yu? " tanya thomas.
" disini aja mas, hehehe. tumben nih video call berempat. yang lain kemana? tanya ayu.
" yang lain pada ngambang di sungai yu.
ayu terkekeh geli mendengar jawaban vallas. " kamu pikir pup apa."
ayu masih asik dengan obrolan mereka. adrian memperhatikan ayu yang terus tertawa. dia menjadi sangat penasaran.
" dika, dika main basket sendiri ya. papa mau ke kamar mandi. nanti kalau sudah selesai, papa temenin main basket lagi." dika mengangguk. adrian bergegas masuk kedalam dan menuju balkon.
ayu masih asik mengobrol tanpa dia sadari adrian sedang memperhatikan dari belakang.
" yu, double date yuk. " ajak vallas.
ayu terkekeh. " kenapa kamu ajak aku val? kamu salah orang kayaknya. "
" kamu sama thomas, biar seru yu. sepi juga kalau cuma sama rara.
" iya yu, " saut rara.
__ADS_1
" aku sih yes. " timpal thomas.
ayu mengembuskan nafas kasarnya. mengganti posisi duduk karena tubuhnya mulai pegal. ayu mengarahkan ponselnya di depan wajahnya sembari tersenyum hendak menjawab ajakan vallas. senyumnya dengan cepat memudar. adrian nampak di jelas terlihat di layar ponselnya. dengan cepat ayu mematikan sambungan telephon. dan tetap duduk membelakangi adrian menatap ke arah taman.
" kenapa berhenti? " tanya adrian dengan wajah marahnya. ayu diam tak ingin menjawab.
" aku udah sering memperingatkan kamu kan. jangan dekat dekat sama laki laki itu. " nada bicara adrian mulai meninggi.
" nggak bisa! dia temen aku.
adrian menghembuskan nafasnya kasar.
" apa aku perlu ke kampus kamu lagi dan menghajar laki laki itu?
ayu berdiri dan menghadapkan tubuhnya didepan adrian.
" apa kamu sangat ingin menghajar orang?
dengar geram adrian menjawab. " bahkan rasanya, hari ini aku pengen bunuh orang.
ayu tersenyum sinis. dia meraih pergelangan tangan adrian. lalu mengayunkan tangan adrian ke pipinya.
' plakkk
adrian yang kebingungan dengan apa yang akan ayu lakukan terlambat menghentikan tangannya yang dikendalikan oleh ayu.
" sayang apa yang jamu lakuin?
" kamu mau hajar dan bunuh orang kan? sekarang aja. lampiaskan kemarahan kamu ke aku. ayo cepet! " ayu mendekatkan wajahnya. " kalau aku mati, nggak akan ada yang menangis kecuali bayu. jadi tidak akan menjadi masalah. "
adrian memeluk tubuh ayu erat.
" maaf sayang, maaf karena bentak kamu.
" huh. padahal, aku berniat minta maaf. hati aku jadi meleleh kalau begini." batin ayu.
adrian melepaskan pelukanya dan mengusap pipi ayu yang sedikit memerah.
" seumur hidupku, aku nggak pernah pukul perempuan yu. jadi, jangan begini lagi ya?
ayu mengangguk.
adrian menggandeng tangan ayu menuju taman. andika masih sibuk dengan bola basketnya. andika melihat kedatangan adrian dan tersenyum. tapi senyum itu menghilang saat melihat ayu disamping adrian.
" papa!
andika berlari dan menarik tangan adrian untuk melanjutkan bermain basket. ayu memandangi andika. ada perasaan bersalah terhadap andika. walau bagai manapun andika hanyalah anak anak.'
__ADS_1