
" Selamat pagi, Manager Lusy? maafkan saya karena terlambat hari ini. "
Manager Lusy memang ingin memarahi Ayu, tapi saat melihat banyak tanda merah di bagian leher Ayu, dia menahannya sebentar sembari mengepak tangan dengan kuat.
" Apa yang harus saya kerjakan, Manager Lusy? " Ayu sejenak mengangkat wajahnya untuk menatap Manager Lusy yang sedari tak menjawab pertanyannya. Tapi karena tatapan Manager Lusy yang terlihat kesal, buru-buru Ayu kembali menunduk.
Manager Lusy benar-benar tidak habis pikir dengan wanita muda yang sekarang ini menjadi Asistennya. Wajah memang dia akui kalau Ayu jauh lebih cantik dari pada dirinya, tapi lagi-lagi spekulasinya tidak mungkin salah. Iya, kebanyakan wanita berwajah cantik pasti akan memanfaatkan wajahnya dari pada kemampuannya kan? Jujur, dia juga merasa cemburu dan tidak terima. Bagaimana bisa sih, laki-laki seperti Adrian tersihir dengan wanita yang sudah memiliki suami? Bukankah wanita cantik juga bukan hanya Ayu saja?
" Semalam kamu pergi kemana? "
" Hah? " Ayu melongo kaget karena dia sama sekali tidak menyangka kalau akan mendapatkan pertanyaan yang tidak biasa seperti ini. Apalagi saat melihat tatapan aneh dari Manager Lusy, Ayu hanya bisa berpikir sejenak memilah jawaban yang tepat tapi tidak akan salah bagi Manager Lusy.
" Semalam, saya pergi dinner dengan suami saya. " Iya memang itu kan? jawab jujur saja, siapa tahu Manager Lusy menghubunginya semalam, dan dia tidak menyadarinya.
Manager Lusy tersenyum aneh, iya! itu sangat aneh karena senyum itu seperti tengah mencibir Ayu.
Orang ini gila ya? aku kan emang makan sama suami, kok mukanya kecut begitu? apa dia iri nggak bisa makan malam karena dia nggak punya pasangan?
" Ayu, kamu itu benar-benar hebat ya? "
Ayu mengeryit dengan tatapan yang masih menunduk hormat.
Orang ini maksudnya apa sih? makan malam bareng suami di bilang hebat, kalau aku bilang semalem bikin anak, apa dia bakalan ngasih penghargaan?
" Wajah boleh cantik, tapi hatinya busuk. Bukanya sadar diri sudah punya suami, masih aja menjerat laki-laki lain. "
Hah?! Ayu menatap Manager Lusy karena merasa terkejut.
__ADS_1
" Maksudnya apa ya Manager Lusy? "
Manager Lusy bangkit dari posisinya, dia berjalan mendekati ayu lalu bersedekap dengan tatapan menghinanya.
" Kamu sudah punya suami, tapi masih saja mendekati Adrian. Apa kamu begitu tergila-gila sama uang? "
Oh? Itulah bunyi hati Ayu setelah Manager Lusy selesai bicara.
Salah paham toh?
" Setelah dipikir-pikir, tempat ini sama sekali tidak cocok untuk wanita yamg tidak memiliki etika seperti kamu. "
Ayu tersenyum, dia menatap Manager Lusy seolah dia sangat tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini. Padahal, selama ini dia berpikir kalau Manager Lusy adalah wanita karir yang patut untuk dijadikan panutan, tapi sepertinya Manager Lusy tidak sempurna seperti yang dia bayangkan selama ini.
" Manager Lusy, bukanya itu adalah masalah pribadi? Kenapa harus berdampak dengan performa kerja saya? "
" Etika, toleransi, dan juga kualitas diri, adalah sebuah bentuk untuk membuktikan betapa pantasnya seseorang untuk bekerja denganku. Tapi kamu? Kamu tidak bisa melengkapi itu, jadi mana pantas ada disini? "
Ayu menggigit bibir bawahnya karena tak kuasa menahan rasa kecewanya. Memang ini semua salahnya karena tidak memberitahu siapa suaminya, tapi dia benar-benar ingin bekerja dengan kemampuannya sendiri, maju dengan usahanya sendiri tanpa adanya embel-embel dari namanya Adrian.
" Manager Lusy, saya minta maaf untuk semua kesalahpahaman ini. Tapi saya benar-benar ingin bekerja disini, dan maju dengan usaha saya sendiri. Jadi, bolehkan Manager Lusy memberikan satu kesempatan lagi untuk saya? "
" Tidak akan! keputusan saya sudah bulat, saya tidak akan lagi mempekerjakan kamu sebagai Asisten saya lagi. "
Ayu tertunduk lesu. Padahal dia benar-bena berharap Manager Lusy memberikan satu kesempatan untuknya.
" Manager Lusy, saya akan mengakui sesuatu kepada anda. Sebenarnya suami saya adalah Adrian, saya bekerja disini karena benar-benar ingin bekerja sediri dengan kemampuan saya tanpa ada campur tangannya Adrian, atau pertolongan papa. Jadi bisakah- "
__ADS_1
" Jangan gila ya! kamu pikir, saya akan percaya begitu saka?! Adrian dan kamu mana mungkin suami istri? Lagi pula Adrian itu masih muda, kalau dia sudah menikah, pasti ada kabarnya kan? "
Duh! ini orang gimana sih?! jujur salah, nggak jujur juga salah. Kalau ngomong sama dia terus-terusan, aku kayaknya bisa kena serangan jantung. Oh, atau nggak, kupingku bisa kejang denger dia ngoceh.
" Manager Lusy, "
" Keluar! "
" Tapi, saya- "
" Keluar! "
Ayu terdiam tak bisa lagi melanjutkan kata-kata yang tujuannya untuk memohon. Tapi melihat bagaimana wajah Manager Lusy yang sangat marah, Ayu merasa sudah tidak ada gunanya juga memohon. Dia memilih untuk keluar dan meninggalkan Manager Lusy sendiri.
Sementara Manager Lusy kini tengah memegangi dadanya yang terasa sakit. Sungguh, dia sama sekali tidak bisa membayangkan jika ucapan Ayu tadi adalah kebenaran. Padahal, dia benar-benar tertarik dengan Adrian. Tapi Adrian malah tidak bisa di gapai, dan lebih memilih Ayu yang status sosialnya tentu sangat jauh dari dirinya. Manager Lusy kembali mengingat bagaimana senyum indah Adrian yang terukir di wajahnya. Iya, semua yang ada pada Adrian memang benar-benar sempurna. Mulai dari bentuk tubuhnya, garis wajah serta komposisi wajahnya yang sangat tampan, belum lagi dia memiliki nama di Wijaya Sasongko yang terkenal di dunia bisnis.
" Mana boleh begini? Aku harus ketemu Adrian, terus tanya aja langsung. " Manager Lusy meraih ponselnya, lalu mencoba untuk menghubungi Adrian. Sampai ke empat kali, nyatanya dia tak mendapat jawaban.
" Kenapa begitu susahnya menghubungi kamu Dri? Janji pagi ini kamu sudah ingkar, dan sekarang susah di telepon. " Manager Lusy menghempaskan ponselnya ke meja kerjanya. Iya, dia tentu saja sangat kesal. Padahal pagi ini seharusnya dia pergi breakfast bersama Adrian, tali karena Ayu telat datang, semua menjadi kacau, dan gagal begitu saja.
***
Dengan wajah sedih dan tak rela Ayu terpaksa harus membereskan barang-barangnya, dan pergi setelah itu. Sudahlah, tidak usah juga berlama-lama toh dia malah akan tambah sedih karena harus meninggalkan pekerjaan yang ia rasa cocok untuknya.
" Pulang atau ke tempat Adrian ya? " Lumayan lama Ayu menimbang, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kantor pria yang telah menjadi suaminya itu.
" Lumyan juga, bisa beli kado buat papa sama tante, sekalian juga ngecek siapa tau ada ulet keket gatel lagi di sana. " Ujar Ayu seraya berjalan menuju ke jalan utama untuk memberhentikan taksi.
__ADS_1
........?