
" Woi woi! " Panggil Adrian sembari menggoyangkan lengan kanan Ayu.
" Ada apa si? " Jawab Ayu.
" Lo udah tidur? gue enggak bisa tidur nih, gue mau keluar sebentar jangan bilang Papa ya? "
" Enggak mau ah! mulai dari sekarang, kamu mau pergi kemanapun harus sama aku." Jawab Ayu.
" Cih! lo kenapa si nurut banget ama Papa? lo dibayar berapa buat jadi istri gue hah? "
" Em, seharga diri kamu! " Ketus Ayu.
" Lo sinting ya?! memang bisa lo menyamakan gue sama duit?! "
" Yah, aku membutuhkan kesintingan yang hakiki untuk menghadapi kesintingan kamu. itulah kenapa aku jawab begitu. karena, aku bersedia menjadi istri kamu, bukan karena uang. "
" Gue enggak percaya! "
" Terserah! " Jawab Ayu.
Tanpa disadari akhirnya mereka terlelap bersama dan hari sudah mulai pagi.
" Ih! ini angin apaan si? " Gumam Ayu dalam hati. Perlahan Ayu membuka matanya, dia terkejut karena melihat wajah Adrian yang hanya berjarak beberapa cuma dari wajahnya, yang membuat lebih terkejut lagi, ternyata mereka tidur dengan saling memeluk. Ayu sontak mendorong tubuh Adrian dan langsung membuka selimut untuk mengecek pakainya. dengan nafas leganya setelah mengetahui pakaian yang dipakai masih utuh.
Bugh!
" Aw! sakit! " Teriak Adrian.
" Lo apaan si?! main dorong aja. Kalau tulang ekor gue cedera gimana! " Bentak Adrian.
" Maaf... lagian, kamu ngapain meluk aku?! " Jawab Ayu.
" Aduh lo emang udah gila kayaknya! mana mungkin gue meluk lo! badan kerempeng gitu mana enak dipeluk. Gue juga kalau mau meluk perempuan pilih pilih dulu, Enggak yang kayak lo! "
" Aku liat sendiri kamu meluk aku! makanya aku dorong. "
" Udah pasti lo yang peluk gue! mana mungkin gue peluk lo! " Tegas Adrian.
" Ih! enggak percayaan banget si?! kamu yang meluk aku! "
" Lo!" Jawab Adrian.
" Kamu " Ayu.
" Ngeyel amat sih lo! ya udah pasti lo!."
" Kamu! pokoknya kamu! " Ayu
ting.......
" Permisi Tuan dan Nyonya Adrian, sarapan pagi anda sudah siap. "
" Iya sebentar. " Jawab Adrian sembari menatap Ayu dengan tajam.
Persiapan sarapan pagi telah selesai, Ayu dan Adrian bersiap untuk sarapan.
__ADS_1
tiba tiba Ayu menukar makanan Adrian dengan makanannya.
" Ini lo apaan lagi si?! ngapain gue dikasih nasi goreng! balikin sandwich gue!" Bentak Adrian.
" Enggak!! mulai hari ini, kamu harus makan makanan yang kamu enggak suka juga. " Sambil tersenyum sinis.
" Lo udah gila ya?! gue enggak bisa sarapan nasi goreng! terlalu banyak carbonya! "
" Sayangnya mulai hari ini kamu harus makan makanan yang enggak kamu suka juga." Jawab Ayu sembari menggigit sandwich milik Adrian.
" Demi Tuhan! kalau gue punya ilmu buat sihir, udah gue sihir lo jadi emak lampir! " ayu hanya tersenyum dan menjulurkan lidahnya.
" Lagian ya, kamu itu jangan suka pilih pilih makanan, belum tentu selamanya kamu jadi orang kaya." Jawab Ayu sembari tersenyum meledek.
" Terserah lo! " Jawab Adrian sembari menyuap nasi goreng ke mulutnya.
" Nah, gitu dong kan jadi tambah manis kamu, hihihi. "
Adrian diam dan hanya menatap Ayu dengan tatapan membunuhnya, dan dibalas dengan senyum ceria milik Ayu.
" Dasar emak lampir! " Gumam Adrian.
Sarapan telah usai, mereka memutuskan untuk segera pulang ke rumah Papa Faris.
Mereka juga sibuk mengemas barang masing masing. Ketika Ayu hendak melewati pintu, tiba tiba lengan Ayu di tarik oleh Adrian.
" Aw! " pekik Ayu.
" Gue duluan yang keluar! " Sambil menjulurkan lidah.
" Adrian! dasar laki laki tidak tau sopan santun! kan bisa bilang baik baik kalau mau duluan. Dia bilang apa tadi waktu sarapan pagi? mau sihir aku jadi emak lampir? hah! kalau aku bisa sihir kamu, aku akan sihir kamu jadi gerandong! dasar nyebelin! "
ayu yang kaget sontak memandang Adrian dengan tatapan benci dan di iringi dengan bibir yang bergerak memaki maki tanpa suara.
" Cih! dasar laki laki sinting!! mari kita lihat setelah ini, aku bakal buat hidup kamu berwarna, yang pasti warnanya kelam. Haha! " Gumam Ayu.
" Dasar gila! " Sindir Adrian.
Sesampainya di dalam rumah, Adrian bergegas mencari Papa Faris ingin menanyakan perihal harta warisannya.
" Pah? " Karena tidak mendapat jawaban Adrian bergegas ke kamar Papa Faris.
" Pah? Pah? "
" Den? " Panggil bi Romlah.
" Eh bi? Papa Mana? "
"Di ruang kerja den. " Jawab bi Romlah.
Adrian bergegas menuju ruang kerja Papa Faris, disusul oleh Ayu karena Papa Faris mengirimkan pesan kepada Ayu untuk menemui Papa Faris di ruang kerjanya.
Glek, pintu ruang kerja Papa Faris terbuka.
" Pah? " Panggil adrian.
__ADS_1
Papa Faris memutar kursinya mengarah ke Adrian karena posisi sebelum Adrian masuk, sang Papa sedang menatap foto kakek dan nenek Adrian dibelakang meja kerjanya.
" Hem.. mana istri kamu? " Tanya Papa Faris.
" Ayu disini Pah. " J awab Ayu sembari menutup pintu.
" Kalian, duduk sini. "
Ayu dan Adrian bergegas duduk di depan meja kerja Papa Faris.
" Ada yang harus kita bicarakan tentang kalian. Setelah kalian menikah, Papa akan memberi pilihan untuk kalian tinggal. Ada tiga pilihan, yang pertama, dirumah Papa, yang kedua, di apartemen yang baru Papa beli, yang ketiga dirumah yang sudah lama Papa persiapkan untuk Adrian dan istrinya. Jadi, yang mana kalian pilih? "
" Apartemen " Ayu.
" Rumah Adrian, Pah. " Adrian.
Papa memijat keningnya dan menghembuskan nafas kasar.
" Kalian perlu diskusi dulu rupanya. " Ucap Papa Faris.
Ayu menatap Adrian dengan tatapan tajam dan mengancam sembari menggerakan bibirnya seolah sedang mengumpat Adrian.Tentu Adrian hanya menelan ludah karena tidak tau kenapa dia merasa terancam oleh apa yang dilakukan Ayu.
" Apartemen aja deh pah. " Ucap Adrian sambil mendengus kesal.
Papa Faris tersenyum kecil. Ini untuk yang pertama kalinya Adrian menuruti ke inginan orang lain.
" Oke! semua barang barang kalian sudah disiapkan oleh bi Romlah dan mba Irma. Kalian bisa langsung menuju apartemen. "
" Sekarang Pah? " Tanya Adrian.
" Iya "
" Papa lagi bercanda ya? "
" Kita bahkan hampir tidak pernah bercanda kan? " Jawab Papa Faris.
" Terus? em, harta aku gimana Pah? " Tanya Adrian dengan nada halus karena takut Papa Faris akan marah.
" Papa mau liat dulu, seberapa baik kamu memperlakukan istri kamu." Ucap Papa Faris sembari membuka map yang akan ditanda tangani.
Ayu tersenyum ke arah Adrian sembari mengangkat sebelah alisnya, Adrian paham bahwa Ayu akan membuat hidupnya menderita mulai hari ini.
" ohhh,****!!! ini perempuan pasti akan buat hidup gue bener bener kaya di neraka. ucap adrian dalam hati.
" Tapi Pah, uang bulanan Adrian gimana pah? "
" Tidak ada uang bulanan kalau kamu tidak bekerja." Jawab papa Faris.
" Pah! "
" Jangan membantah Adrian! kamu sudah punya istri dan kamu harus bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga kalian!" Bentak Papa Faris sembari menggebrak meja.
" Pah aku, " Ucapan adrian terhenti karena Ayu meremas tangan Adrian.m seolah isyarat untuk tidak membantah ucapan Papa Faris.
" Iya, Pah. Adrian paham, tapi Adrian kerja apa Pah? Adrian kan belum punya pengalaman kerja. "
__ADS_1
" Dua hari lagi datang ke kantor Papa! kamu harus belajar untuk menghasilkan uang sendiri. "
" Iya Pah. " Jawab Adrian tertunduk lesu. Tidak pernah terbayangkan oleh Adrian kalau dia harus bekerja, bahkan harus menghidupi wanita yang sama sekali tidak dia sukai. Dia hanya berpikir untuk menghabiskan uang warisan nya untuk bersenang senang.