
Ayu kini tengah terdiam menimang bagiamana pilihannya.bm Apakah dia harus masuk dan mendatangi langsung ruang kerja suaminya? Apa dia harus menunggu saja sampai sore nanti? Hah! menyebalkan memang, tapi kejadian lalu saat ada seorang wanita di ruangan suaminya, rasanya dia masih belum siap kalau saja itu terulang kembali. Cukup lama dia berdiri memandangi gedung perkantoran milik keluarga Wijaya Sasongko, tapi sepertinya kaki yang menunggangi tubuhnya mulai merasa lelah dan pegal. Pada akhirnya, mau tak mau Ayu memberanikan diri untuk masuk ke dalam, lalu berjalan menuju lift dan naik ke lantai paling atas, tempat dimana mertua, dan juga suaminya bekerja.
" Selamat siang, Nyonya muda? " Sapa beberapa pegawai yang hafal dengan wajah Ayu, dan di tanggapi dengan balasan senyum dan anggukan.
Sesampainya di depan pintu ruang kerja Adrian, Ayu menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Keberanian, Keberanian, datanglah..... Batin Ayu. Dirasa cukup, kini Ayu sudah mulai berani mengetuk pintu terlebih dulu. Yah, padahal sih dulu dia tinggal masuk saja.
" Masuk! " Suara Adrian terdengar dari balik pintu.
" Dri? " Sapa Ayu setelah masuk kedalam.
Adrian yang tadinya tengah fokus dengan pekerjaannya sontak berailh pandang untuk menatap sumber suara yang sangat ia kenal kalau itu adalah suara istrinya.
" Yank? Kamu kok kesini? " Tanya Adrian seraya bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati Ayu.
" Iya, aku dipecat. "
" Hah? Kenapa? " Yes! batin Adrian yang merasa bahagia, karena setelah ini kan bisa menempatkan istrinya di dekatnya setiap hari di jam kerja.
Ayu mengikuti langkah Adrian saat Adrian menggandeng tangannya menuju sofa yang ada di sudut ruangan.
" Kenapa bisa di pecat? "
Ayu menghela nafas sebalnya. Benar sih, selain Adrian dia kan tidak bisa bercerita masalah ini. Kakak laki-lakinya juga sudah sibuk dengan pekerjaannya di luar negeri, papa mertuanya juga sibuk karena besok adalah hari pernikahannya bersama tante Nela. Perlahan, Ayu mulai menceritakan apa yang terjadi degan detail.
" Ya udahlah, lagian kamu ngapain kerja si yank? Aku kamu bisa kasih kamu duit. Kalo emang pingin kerja, kamu ikut aja aku tiap hari. " Adrian mengusap kepala Ayu, meskipun dia sangat senang di dalam hati, tapi dia kan juga harus berpura-pura sedih agar istrinya tidak merasa kesal.
" Bukan masalah duitnya, tapi aku tuh pingin banget kerja dengan kemampuan aku sendiri. Nyatanya aku juga masih aja direndahin sama orang, di pecat pula. " Ayu merengut sedih.
" Ya udah jangan jadi karyawan lah, kan kamu bisa jadi Bos. "
__ADS_1
Ayu mengeryit bingung menatap wajah Arian yang nampak serius meski cara bicaranya terdengar santai.
" Ngomong apa sih? Gimana caranya aku bisa jadi Bos? Pengalaman kerja aja minin banget. "
Adrian menghela nafasnya.
" Yank, kamu kan bisa buka usaha sesuai dengan kemampuan dan hobi kamu, jadi jangan meremehkan diri sendiri terus ya? Yang aku tau istri aku ini selaku percaya diri loh, jadi semangat terus ya? "
Ayu yang tadinya masih terlihat sedih, kini menjadi begitu senang dan terhibur dengan kata-kata yang bagai obat penghilang sedih itu.
" Iya bener! Kenapa juga aku harus ngerasa rendah diri? Memang apa hebatnya si Lusy itu? Meskipun dia pinter, tetep aja dia nyebelin. Udah gitu, dia juga nyusahin, tiap kali mau pergi pesta atau meeting, selalu nyusahin aku buat blow rambutnya dia. Kalau hasilnya nggak bagus, dia ngoceh muluk kaya tukang obat nggak laku. Belom lagi dia selalu bilang, Yu, make up-nya jangan berlebihan ya? kamu Asisten saya, jadi jangan melebihi saya. " Ucap Ayu mempraktekkan dengan bibir yang menjebik kesal.
Adrian terkekeh geli melihat bagaimana tingkah Ayu barusan. Iya, tentu saka Manager Lusy akan melarang Ayu terlalu menonjolkan diri, wajah Ayu memang jauh lebih cantik dari pada Manager Lusy. Sejenak Adrian terpaku melihat bagaimana wajah polos Ayu, wajah polos yang pernah ia sakiti beberapa kali tapi tetap memberinya maaf. Entah sejak kapan perasaan sayang, rasa takut kehilangan, bahkan juga was-was jingga merasa tidak tenang begitu menyiksanya selama tiga bulan Ayu mendiamkannya. Sekarang wanita cantik yang sudah setahun lebih menjadi istrinya sudah kembali padanya meski dengan hati yang cacat karena luka yang dia berikan. Sekarang sudah membaik, maka dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama, dia akan menggenggam erat cinta wanita itu dan juga hatinya.
" Dri? "
" Iya? "
" Nggak ada yang aku pikirin selain kamu. "
Ayu menjebik meremehkan ucapan Adrian.
" Dasar tukang kibul! "
Adrian meraih tengkuk Ayu, mendekatkan wajahnya, lalu membenamkan bibirnya di bibir Ayu. Sungguh dia tidak bisa menahan perasaan bahagia dan juga hasrat untuk bisa mempertahankan wanita terbaik yang ia miliki itu.
" Yank, I love you. " Ucap Adrian sejenak melepaskan tautan bibir mereka, tapi tak menunggu bagaimana tanggapan Ayu, Adrian dengan cepat kembali menyambar bibir ranum milik istrinya yang sudah basah karena cairan dari mulutnya menempel dan masuk kedalam mulut Ayu.
Entah semua pegawai sudah paham atau bagaimana, tapi selama Adrian melakukan kegiatan yang jauh lebih panas, tak ada satupun orang yang masuk kedalam ruangannya.
__ADS_1
" Aw! Pinggang aku! " Pekik Ayu yang merasakan pegal di bagian pinggang.
" Sakit yank? "
" Menurut kamu?! Nggak tau gila atau geblek, kamu tuh keterlaluan loh. Ini kan di kantor, udah gitu di sofa lagi. Kamu enak, aku yang pegel. " Gerutu Ayu seraya mengusap punggungnya.
Adrian mendekatkan tubuh Ayu kepadanya, menuntun agar tubuh Ayu menyender keadaanya, dan Adrian mulai memberikan tekanan di punggung Ayu menggunakan kepalan tangannya.
" Maaf, yank. Aku bener-bener nggak bisa nahan diri tadi. "
" Dri, apa kamu biasa ngelakuin kayak gini disini? " Ayu terlihat sedih setelah selesai bertanya.
" Yank, aku nggak pernah ngelakuin kayak gini disini. Selain ada papa, aku juga tahu batasan kok. Yank, aku tahu kamu pernah kecewa, tapi aku beneran nggak akan gitu lagi. Kamu nggak perlu percaya, tapi biarin aku nunjukin ke kamu kalo aku beneran serius. "
Ayu terdiam karena tidak tahu harus bagaimana merespon ucapan Adrian ini. Biarkan, dan nikmati saja pijatan Adrian yang lumayan membuat punggungnya nyaman.
" Kamu udah makan? " Tanya Adrian yang baru sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul empat belas.
" Oh iya! Belum, kamu sibuk nggak? "
" Kenapa memangnya? "
" Aku niatnya mau ngajakin kamu beli kado buat papa sama tente Nela. Terus sekarang kan bisa sekalian makan siang juga. "
" Ya udah, kita berangkat aja. Kamu mau ganti baju duku nggak? Kalo mau aku suruh orang beliin ya? "
" Nggak usah! gini aja. "
" Ok. "
__ADS_1
.............