
Adrian dengan tegas menatap Mamanya, bukan tidak ingin berbakti, hanya saja Mamanya telah melukai dirinya yang adalah anak kandung.
" Hartaku udah jadi milik Ayu, nggak ada yang boleh otak atik selain Ayu sendiri. "
Mamanya Adrian menatap Adrian kesal. Padahal sudah sejauh ini dia berbuat, dan membuang jauh harga dirinya. Tapi tetap saja tidak berhasil.
" Adrian, aku ini Mamamu! Mama cuma minta tolong sekali ini saja kan? "
Adrian mendesah sebal.
" Minta tolong? Heh! " Adrian terkekeh mendengar kata itu.
" Minta tolong, tapi bisa sampai menipu dengan menyodorkan anak laki-laki yang membuat hubungan kami semakin memburuk? Coba aja dari awal jujur, pasti nggak akan begini hasilnya. "
" Adrian, itu mama akui mama yang salah. Tapi mama lakuin itu semua karena terpaksa, mama nggak ada pilihan lain saat itu. "
" Nggak ada pilihan? Rencana yang udah di atur dari lama, tapi masih bisa alasan kayak gini? Bukanya tujuan bawa Andika supaya aku sisihin uang warisan? "
Mama menunduk pilu. Iya dia tahu apa wyang ia lakukan waktu itu adalah hal yang memalukan. Tapi kalau tidak dengan cara itu mana bisa mendapatkan harta dari Adrian?
" Ma, selama ini mama nggak pernah nemuin Adrian kan? Tapi pas anak tiri mama ngasih saran buat minta harta aku, mama langusung saja dateng kaya nggak inget seberapa banyak luka yang mama kasih buat aku. "
" Adrian, mama nggak bermaksud untuk nggak temuin kamu. Tapi, "
" Suami mama melarang kan? Suami yang memaksa memutuskan hubungan antara Ibu ke anak, mana pantes disebut laki-laki? Sekarang mama buang jauh-jauu harga diri mama cuma buat uang? Adrian bener-bener malu sama sikap mama. "
" Adrian, mama minta maaf ya? "
Tak mau lagi menghabiskan banyak waktu untuk berdebat, Adrian meraih tangan Ayu, menggenggamnya dan membawanya untuk bangkit dari duduknya.
" Pa, mama tiri, maaf karena kita pulang cepet ya? "
Papa Faris dan tante Nela mengangguk saja. Lagi pula pernikahan mereka kan bukan pernikahan anak muda yang banyak tamu, toh sekarang pun orang-orang juga sudah mulai kembali ke kediaman mereka masing-masing.
Tak lagi menoleh, Adrian langsung saja meninggalkan rumah papa Faris.
" Kamu sudah dengarkan? Sekarang, tolong pergi dari sini, karena kita mau melakukan banyak hal setelah ini. "
Mama Adrian menatap kesal papa Faris dan tante Nela, tapi mau bagaimana lagi? Dia juga tidak bisa merasa keberatan karena sudah bukan siapa-siapanya lagi papa Faris. Iya, meskipun banyak penyesalan setelah meninggalkan papa Faris, dia juga tidak bisa kembali ke masa lalu kan?
Di perjalanan pulang Adrian dan Ayu ke apartemen. Adrian masih saja diam tak bicara selama mengemudi.
" Dri? "
" Em? "
" Kamu baik-baik aja? "
" Iya. "
Ayu terdiam sesaat, rasanya memang sangat aneh kalau Adrian banyak diam seperti ini. Padahal dia adalah orang yang sedikit-sedikit suka menjahili Ayu.
__ADS_1
" Yank, kamu butuh dihibur nggak? "
Mendengar Ayu memanggil dengan sebutan seperti itu, Adrian sontak menepikan mobilnya dan berhenti disana.
" Kamu panggil aku apa? "
" Yank? " Jawab Ayu lalu tersenyum setelahnya.
Adrian melepas sabuk pengamannya, lalu memeluk erat tubuh Ayu. Sungguh dia sangat bahagia, setelah sekian lama dia tidak mendengar panggilan itu dari Ayu, akhirnya sekarang bisa mendengarnya, dan ini benar-benar membuat suasana hati Adrian membaik.
" Thanks ya yank, aku bener-bener bahagia banget kamu mau panggil aku kayak dulu lagi. "
" Iya. " Ayu menepuk punggung Adrian perlahan. Sungguh sangat mudah membuat suasana hati Adrian membaik rupanya.
" Kita cepetan pulang ya? Aku udah mulai on nih yank. " Ucap Adrian seraya menjauhkan tubuhnya.
" Aku beneran nggak heran lagi sama kamu, selain hal begitu kayaknya kamu nggak bisa mikirin yang lain ya? " Adrian terkekeh mendengar ucapan Ayu.
Benar saja rupanya, setelah sampai di apartemen, Adrian langsung saja menyambar tubuh Ayu dan menyergap bibirnya.
" Yank, hari ini kamu di atas ya? Kan udah lama nggak ngerasain kamu pas di atas. "
" Hem... "
Setelah kegiatan itu selesai, Adrian dan Ayu tidur dengan saling memeluk hingga malam mulai tiba. Barulah ketika mereka merasa lapar, mereka mulai bangkit dan bersiap karena Adrian mengajak Ayu untuk makan di luar saja.
" Yank, mau cobain makan sushi nggak? " Tanya Adrian.
" Ok, tapi cium aku dulu! "
Ayu terperangah mendengar perintah Adrian, tapi ya sudahlah! mau bagaimana lagi? Toh Adrian juga adalah suaminya kan?
Cup
Ayu mengecup pipi Adrian.
" Bukan pipi, yank. Aku maunya di bibir. "
Ya ampun! Kesal sih, tapi tahan saja lah. Ayu mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Adrian, lalu mengecupnya singkat. Singkat sih maunya Ayu, tapi Adrian malah menahan tengkuk Ayu dan mulai memainkan lidahnya. Baru setelah dia merasa cukup, Adrian mulai melepaskan Ayu.
" Kamu itu mesum banget ya Dri! "
" Kok mau manggilnya gitu lagi sih yank? " Protes Adrian yang merasa keberatan dengan panggilan itu.
" Ok ok! Maaf yank. "
Adrian tersenyum, lalu mengecup kening Ayu.
" Udah ah! kita jalan sekarang, kalo nggak jalan juga, aku malah bisa on lagi nanti. "
" Gila! " Kesal Ayu.
__ADS_1
Sesampainya di sebuah restauran, Adrian dan Ayu kini mulai menikmati makan malam mereka setelah hampir tiga puluh menit menunggu.
" Yank, tumben kamu makan banyak malem ini? " Ujar Adrian yang merasa tidak biasa melihat Ayu makan lebih banyak dari biasanya.
" Nggak tau, aku sampe nggak berasa udah makan sebanyak ini. " Ujar Ayu yang merasa aneh dengan dirinya sendiri.
" Tapi baguslah yank, siapa tau kalo kamu gendutan, kamu jadi lebih semok dan berisi, kan jadi tambah enak dipeluknya. " Adrian tersenyum setelahnya.
" Dasar mesum! "
" Boleh aku bergabung? "
Adrian dan Ayu menoleh ke arah sumber suara.
" Manager Lusy? " Ucap Ayu dan Adrian bersamaan.
Manager Lusy tersenyum lalu mengangguk.
" Silahkan. " Ucap Ayu meski di dalam hatinya berkata, tidak boleh!
" Terimakasih. "
" Apa kabar, Adrian? "
" Baik. " Ucap Adrian. Tentu dia tidak merasa terkejut karena Ayu telah menceritakan detail sebelum dia di pecat.
" Awalnya aku masih tidak percaya kalian sungguh suami istri, tapi sepertinya aku sudah tidak bisa membantahnya lagi. "
" Ya, memang begitu adanya. " Ujar Adrian.
" Oh iya, bagaimana kabar pak direktur? "
" Papa baik, dia juga baru saja menikah. "
" Oh iya? Turut bahagia mendengarnya. Ngomong-ngomong kalian menikah pak direktur tau kan? "
Adrian dan Ayu kompak mengeryit kan dahi mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Manager Lusy.
" Kami menikah sudah lebih dari setahun, dan lagi pernikahan kami juga berawal dari perjodohan yang di atur papa. " Jawab Adrian meski dia malas untuk menanggapinya.
" Maaf ya Dri, aku cuma penasaran saja. "
Ayu yang sedari tadi memilih diam, kini sungguh sudah tidak bisa menahan diri lagi.
" Manager Lusy, memang benar saya bukan lulusan dari universitas luar negeri seperti anda. Tapi anda tidak boleh merendahkan saya seperti itu. "
" Loh, saya tidak ada menghina kok. "
" Dari cara Manager Lusy mengatakan kalimat tadi, jelas sekali loh kalau Manager Lusy sedang menjelaskan bahwa saya tidak pantas untuk Adrian. "
" Yank, kita pulang aja ya? Aku ngga mau suasana hati kamu jadi nggak bagus. " Ajak Adrian.
__ADS_1
........