
Radit memacu mobilnya dengan kesal, entah kenapa melihat Kenia dan Shaka seperti itu membuat luka yang susah payah ia tutup seolah kembali menganga.
Arghhhhh....
Radit mengerang frustasi,padahal ia sudah berjanji akan baik-baik saja.
Aku sudah mencobanya, mengikhlaskan apa yang memang tak akan pernah menjadi takdirku..
Melepasmu adalah keputusan terbesarku, susah payah aku memupus cinta dan perasaanku...
Dan aku harus terbiasa..
Awalnya Radit ingin pulang ke apartemennya, tapi laju mobilnya berubah, ia butuh sesuatu agar bisa melampiaskan segalanya.
***
Dentuman musik terdengar kuat memekik telinga, orang orang dengan pakaian minim dan juga banyak lelaki muda berjoget menikmati alunan musik sang dj.
Disinilah Radit, club malam Blackzone milik Dion temannya saat kuliah. Terakhir kali ia kesini cukup lama, saat-saat ia terpuruk sepeninggal Kedua orang tuanya.
Didepan meja bartander, Radit duduk seraya menikmati sebotol wine,dituangnya dalam gelas. diminumnya berulang-ulang hingga hampir tandas. Pandangannya mengedar, mencari sosok Dion, kala kepalanya mulai terasa nyeri.
"Anda membutuhkan sesuatu tuan?" Tanya Rain, gadis cantik yang bekerja sebagai bartender diblackzone kala melihat Radit terlihat kacau.
"Hey nona, pemilik bar ini kemana ? tanya Radit yang sudah mulai mabuk.
"Oh, pak Dion sedang keluar tuan."
"Hahha.. Radit terbahak hingga mebuat Rain bingung."
"Satu botol lagi..." ucap Radit meminta.
Rain menyodorkan satu botol wine lagi kepada Radit. Meski begitu Rain cukup khawatir dengan keadaan laki-laki di hadapannya ini, bukan karena ia takut, tapi lebih ke perasaan iba.
"Sebelum Radit menandaskan wine nya lagi, ia menatap Rain dengan tajam.
"Jika terjadi apa-apa denganku, tolong hubungi pria ini untuk menjemputku." ujar Radit seraya menunjukkan name kontak Sam dihapenya.
"Baik Tuan, jangan terlalu banyak minum. Itu buruk untuk kesehatan anda." tegur Rain yang entah kenapa ia begitu peduli dengan sosok Radit yang baru ia temui.
__ADS_1
"Aku ini seorang dokter, aku tau apa saja yang buruk untukku, ini tak seberapa menyakitkan jika dibanding sakit yang aku rasakan."
Rain tersenyum getir, ia sudah bisa menebak jika laki-laki dihadapannya ini korban janji. Atau bisa jadi didalam bahasa jawa ditinggal pas sayang-sayang e.
Mungkin seperti itu fikiran Rain, ia memang gadis lugu yang belum mengenal percintaan dengan baik, tapi ia cukup tau perjalanan dari cinta kalo gak bahagia pasti ya seperti ini.
Radit menyodorkan hapenya pada Rain, meski wanita itu sibuk meracik minuman, ia segera tau jika Radit memerlukan bantuannya mengingat sedari tadi Radit sudah mulai merancau tak jelas.
Diambilnya benda pipih itu, lalu dipanggilnya name kontak Sam sepeti yang Radit tunjukan tadi.
Sam : Hallo Dit, ada apa ?
Radit : Hallo pak, bisa tolong jemput tuan Radit disini, ia sedang kacau sekali, tadi ia meminta saya menghubungi anda.
Sam : Oke share lok saja mbak
Radit : Tuan berada di Club Blackzone milik dion dirgantara.
Sam: Oh tempat Dion, oke tak sampai setengah jam aku sampai. tolong jaga Radit.
Tutt... ! Telpon terputus.
"Astaga Radit, kau ini kenapa." gumam Sam seraya menuntun Radit yang hampir tak sadarkan diri.
Rain memandangnya dengan iba, lalu mendekat.
"Biar saya bantu bawa kemobil pak." ujar Rain lalu merangkulkan tangan Radit ke lehernya.
"Terima kasih mbak, sudah membantu." Ucap Sam setelah berhasil membawa Radit ke dalam mobil.
" Sama-sama pak, dan ini ponselnya tuan Radit." Rain menyodorkan hanphone Radit yang tadi ia bawa untuk menghubungi Sam.
Sam memacu mobilnya menuju apartemen Radit, ia cukup tau dengan kondisi Radit seperti ini, pasti karena dampak pernikahan Shaka dan Kenia. Sam tau Radit hampir tak pernah lagi datang ke club sejak bersama gadis itu, dan kini dunianya mungkin serasa hancur. Sam hanya bisa berdoa semoga Radit cepat menemukan pengganti kakak iparnya itu dan hidup normal kembali tanpa ada kecanggungan diantara Radit dan keluarganya.
Setelah sampai diapartemen dan membawa Radit ke kamar, Sam kini duduk disofa. Untung saja ia tau kode apartemen Radit. jadi ia bisa mengatasinya. Tak salah jika Radit meminta wanita itu menghubunginya.
*Sam : "Hallo ma, maaf Sam pergi nggak pamit, Sam nginep di apartemen Radit ya ma."
Dina : Tumben Sam,ada ap?
__ADS_1
Sam : Radit sedang tidak baik ma,keadaannya cukup kacau.
yaudah ma ! Sam cuma mau ngabarin mama aja.
Dina : oke kamu jaga Radit ya Sam.
Tut.. ! telepon mati*.
Sam menghela nafas lega, ketika Radit sudah mulai sadar.
"Gila lo Dit, untung tu cewek ngubungin gue ! bayangin aja kalo tu cewek model bad terus manfaatin elo.. hishhhhh." cecar Sam.
"Bar... ten... der.. itu... " ucap Radit terbata.
"Bener, bartender itu. Dia cantik tau Dit. Pepet aja keknya masih Volos biarpun kerja di clubnya Dion." ujar Sam lagi kemudian mengambil air dan obat yang tadi sudah ia siapkan, lalu diberikannya kepada Radit.
Radit meminum obat itu, kepalanya terasa nyeri meskipun kesadarannya sudah kembali normal.
"Aku pernah denger cerita dari Dion kalo dia itu dulu juga kuliah kedokteran bareng Dion, tapi putus dijalan gitu. Dia yatim piatu sama kaya aku. Itu aja sih yang aku tau." ujar Radit dan Sam hanya manggut-manggut mendengarkan.
Tapi tiba-tiba ia menampakkan senyum smriknya.
"Itu artinya lo satu fakultas sama dia, nah lo kan juga barengan Dion sekolahnya." Ujar Sam menyimpulkan.
"Astaga, iya ya tapi aku tak pernah melihatnya."
"Seharusnya aku mengenalnya bukan?"
"Sudah ayo tidur, gue si dah bilang mama nginep disini." potong Sam seraya merebahkan diri disamping Radit.
Sejak dibangku kuliah mereka memang sudah terbiasa seperti itu.
"Trus lo bilang apa ke tante Dina?" tanya Radit heran.
"Gue bilang lo kacau balau hahaha." tawa Sam pecah.
"Gilak lo,gue cuma mabuk juga." Radit memberenggut kesal.
***
__ADS_1