
#Promo
"Tante ngapain sedirian disini?" tanya Devano dengan wajah sok polosnya.
Nora berdecih seraya menatap Devano tajam, "Ck! apa kamu pikir aku setua itu, Dev!"
Nora memalingkan wajah sembari melipat tangannya dada, pertanda gadis itu sedang marah dengan bocah SMA di depannya.
Tanpa diminta, Devano memilih duduk di sisi Nora, lalu menyunggingkan senyum.
"Tante, mau es krim nggak? Aku yang tlaktir!" Seru bocah SMA itu, namun bukan jawaban yang di dapat, Nora justru menjitak kepala Devano, hingga bocah tampan itu meringis.
"Tan, kenapa dijitak, katanya sayang!" omel Devano sembari memegangi dahinya yang sakit.
"Utututuy, sakit ya? mana yang sakit, Hmm?
Devano dengan cengir khasnya menunjuk bagian dada, iya dada Devano sakit.
"Sini, Tan yang sakit." Seketika Nora menjewer telinga Devano kuat-kuat.
"Ampun tante sayang!"
"Dev, aku nggak setua itu ya? jangan panggil tante kenapa, hmm? kita cuma selisih 5 tahun." Gerutu Nora dengan bibir mengerucut.
Sebenarnya wajah Nora masih terlihat imut dan cantik, bahkan gadis itu sama sekali tak terlihat tua. Nora terlihat seperti gadis seumuran Devano, hanya saja bedanya Nora lahir lebih dulu.
"Ck! Aku panggil tante bukan karena tante tua, hmm. Tapi karena tante itu, panggilan sayangku!"
__ADS_1
Astaga, bukankah sikap Devano sangat menyebalkan, bagaimana bisa ia menyukai wanita berumur matang seperti Nora.
Devano Aldeva, bocah berusia 19 tahun itu sangat menyukai Nora, selain sikap Nora yang sedingin kutub utara, membuat setengah mati Devano penasaran, juga galaknya Nora kenyataannya membuat bocah kelas tiga SMA itu senang menggodanya.
Devano bangkit, meninggalkan Nora yang kesal tanpa kata.
Kembali gadis itu murung, padahal tadi ia cukup bahagia dengan kehadiran Devano yang mampu membuatnya tersenyum meski senyum itu tertutup oleh wajah datarnya.
Nora hendak bangkit, namun ia urungkan kala melihat Devano datang lagi menghampirinya dengan membawa dua cup es crim.
"Dev nggak tau tante suka rasa apa? makanya Dev belikan dua rasa, Vanilla sama coklat."
Lalu Devano menyodorkan satu cup es crim kepada Nora, gadis itu menerimanya dengan hati berbinar bahagia.
"Thanks, Dev! buat es crimnya, btw kenapa enggak langsung pulang, nanti kalo dicariin mamamu gimana?" Tanya Nora menatap lekat Devano.
"Mama malah seneng kalo aku ngabisin uangnya," Devano terkekeh lalu menatap lurus kedepan tanpa berkedip.
Sorot matanya berubah sendu, "Bagi mama sama papa, itu yang penting uang! mereka selalu bolak-balik luar negeri dengan alasan bisnis dan aku bisa jaga diri aku sendiri, aku gak butuh perhatian mereka!" Ucap laki-laki itu kini dengan wajah menunduk, hya! Devano memang lahir dari keluarga kaya, namun ia dibesarkan tanpa kasih sayang orang tuanya, orang tuanya selalu sibuk kerja, hingga Devano selalu merasa kesepian.
Susah payah Nora menelan es crim pemberian Devano, bukan tidak suka tapi gadis itu mendadak kehilangan nafsu mendengar kisah Devano.
Bukankah seharusnya sekarang Nora merasa bersyukur, memiliki keluarga yang selalu sayang dan perduli bahkan terlalu perhatian padanya?
"Dev, aku tahu ini berat buat kamu, tapi kamu nggak sendiri!" seru Nora sembari mengusap bahu Devano lembut, bocah itu mendongkak, menatap iris mata Nora hingga keduanya sejenak beradu pandang.
Setelah dirasa tenang, Nora bangkit mengingat mentari senja sudah mulai tenggelam, langit mungkin sebentar lagi berubah gelap.
"Pulang, Dev! Aku mau pulang." Seru Nora kemudian hendak melangkah pergi.
__ADS_1
Devano menurut, ia berjalan di belakang Nora menuju parkiran.
"Kamu bawa mobil kan?" tanya Nora.
"Iya, tan. Emangnya kalo nggak bawa mobil, tante mau nganterin aku pulang?" tanya Devano dengan mata polosnya.
Nora menggelengkan kepalanya, "Cari taxy lah, masa aku suruh nganter, ogah!"
"Tan," panggil Devano, Nora seketika menoleh.
"Apa, hmm?"
"Jangan dingin-dingin, nanti aku masuk angin!" Seru Devano kemudian berjalan menyamai Nora.
"Dev, kamu masih bocah! belajar yang bener, sekolah sampe lulus, gombal melulu." omel Nora kesal.
Devano nyengir kuda, "Kalo udah lulus, tante mau nikah sama aku?" tanya Devano.
Namun siapa yang tau, pertanyaan konyol itu justru tulus dari dasar hatinya.
Deg!
Nora tertegun dengan ucapan Devano, ia cukup syok!
Bagaimana mungkin bocah kelas 3 SMA mengajaknya menikah setelah lulus sekolah.
"Cehh, masih kecil ngomongin nikah? emang bisa berdiri!" celetuk Nora ngawur.
"Lah, ini Dev lagi berdiri, tan!" Seru bocah itu dengan tatapan mata penuh harap.
__ADS_1
Cuplikan gaes, yuk mampir ke TKTM, dimana kisah bocah seperti Devano bucit akut terhadap seorang perempuan yang lebih tua, Nora lee🥰