
"Lalu bagaimana?" tanya Shaka lagi.
"Shak, sebaiknya kamu pulang dulu. Memastikan Kenia, Alan biar disini. Ada aku dan banyak suster." Radit menepuk pelan pundak Shaka.
"Okke, Dit. Aku titip Alan."
Shaka memutuskan untuk pulang ke rumah utama setelah sebelumnya membaca pesan watshap dari Kenia, jika ia pulang bersama Sam ke rumah utama.
Melesat dengan mobil kecepatan sedang, namun jalanan kali ini macet membuat Shaka semakin kesal, karena khawatir dengan istrinya.
"Shitttt.." umpat Shaka.
Kalau kemacetan semakin parah, membuatnya semakin kesal dan terus mengumpat.
Namun mau tidak mau ia harus sabar.
Dan saat kemacetan menjebaknya di jalanan kota itu, pandangan Shaka menangkap sosok Ara dibalik dinding kaca sebuah caffe bersama seorang laki-laki.
Shaka yang penasaran, akhirnya memilih menepikan mobilnya. Sebab lelaki yang dilihatnya bersama Ara seperti familiar di mata nya.
Beruntung kemacetan hanya pada satu jalur, jadi lebih mudah.
Shaka memilih tempat duduk tepat di belakang Ara, dengan modal kacamata hitam dan buku menu, semoga mereka tidak curiga.
***
"Gimana rencana kita, tepat sasaran?" tanya Ara dengan wajah menyeringai.
"Ah, aku baru nyerempet dikit mobil istrinya siapa itu? ohh ya Shaka, tapi langsung oleng dan nabrak pohon." jelas Dimas.
"Uhhhukkk....."
Shaka tersedak, namun buru-buru ia minum agar tidak ketahuan.
Apa jadi ulah mereka??
Mereka ingin mencelakai istriku, huhh!
Liat saja, aku akan mengirim kalian ke penjara..
Shaka mengeluarkan ponselnya, dan menvideo obrolan mereka.
"Kerja bagus Dimas, sejak awal aku emang ingin Kenia itu mati." Ara tersenyum smrik.
"Tapi apa tujuanmu Nara?"
__ADS_1
Dimas pun tak kalah piciknya, dia juga merekam obrolannya dengan Ara melalui ponsel dibalik saku jasnya. Hanya berjaga-jaga.
"Tujuanku? tentu menjadi bagian dari keluarga Admaja, menguasai hartanya. Aku lelah menjadi orang miskin." sinis Ara.
"Baiklah, apa kamu tidak kasian dengan Rio. Bahkan ia sudah banyak berkorban untukmu."
"Rio???" Ara terkekeh.
"Rio itu cuma satpam, kalo aku sama dia. Yang ada hidup semakin nyesek. Udahlah Dim, berhenti membujukku tentang Rio, aku cuma manfaatin dia aja selama ini."
Mereka kembali diam, sejurus kemudian kembali menikmati minumannya lagi.
Jadiii, Ya Tuhan..
Jadi mereka,, ah licik sekali kamu Ara, beraninya berniat mencelakai istriku..
Akan ku buat kamu menyesal, kita lihat nanti..
Aku juga tidak yakin, Dimas akan menuruti semua maumu...
Shaka memilih meninggalkan caffe, setelah berhasil merekam video obrolan Dimas dan Ara.
Beruntung kemacetan sudah berakhir, sehingga ia bisa langsung pulang ke rumah.
Melesat mobilnya dengan cepat, hingga tak butuh waktu setengah jam sudah sampai di kediaman Admaja.
Seperti dugaannya, mereka tengah berkumpul di ruang tamu menunggu kedatangannya.
"Ken, kamu nggak papa kan?" Shaka langsung menghampiri istrinya.
"Ka, kenapa baru nyampe." pertanyaan papa Wira menyadarkan, bahwa disini semuanya sedang berkumpul.
"Duduk Ka, ada hal yang perlu kalian semua tahu disini." Sam memulai.
"Jadi.. Tadi aku melewati ruangan Ara, tak sengaja mendengar percakapannya dengan seseorang di telpon, dan dia menyuruh orang itu untuk mencelakai Kakak ipar dengan membuat mobil yang di bawa Alan celaka." jelas Sam.
"Jangan asal bicara kamu Sam, mana mungkin Ara berbuat seperti itu." bantah Wira."
"Tapi kenyataannya memang seperti itu pah, Ara berusaha merebut Shaka dari Kakak ipar dengan cara mencelakai, ini video yang tadi Sam rekam." Sam menunjukan sebuah Video pada mereka.
Wira terlihat begitu syok, terlebih itu perihal Ara.
"Mama percaya kok sama Sam." ujar Dina.
"Sam bener pah, dan ini adalah kebusukan Ara yang lainnya." Shaka mengambil benda pipih di saku jassnya, lalu menunjukkan Video saat Ara berada di caffe bersama Dimas.
__ADS_1
"Aku nggak nyangka, trus Alan gimana?" tanya Kenia panik.
"Alan dirawat di rumah sakitnya Radit." Shaka mendesah berat.
Wira tampak syok, tak percaya akan kelakuan Ara.
"Papa harus pecat dia." ucap Dina.
"Tapi ma..." Wira menggantung ucapanya.
Kamila yang sedari diam akhirnya bersuara, " Jika papa masih mempertahankan Ara, keselamatan keluarga kita terancam. Apalagi Dimas ikut dalam rencananya, ck! laki-laki itu tak akan berhenti begitu saja."
"Apa maksudmu sayang, apa kau mengenal Dimas." tanya Dina heran.
"Aku cukup mengenalnya ma." jawab Kamila,
Bahkan yang lain masih bungkam perihal kejadian konyol di Villa.
"Aku gak bisa diam, bukti ini akan aku bawa ke polisi biar wanita ular itu jera." ucap Shaka.
"Jangan Ka, papa sungguh.." lagi-lagi ucapan Wira menggantung, sepertinya memang ia belum bisa jujur siapa Ara.
"Aku nggak peduli, ini menyangkut keselamatan istriku. Bahkan jika Ara adalah anak papa sekalipun aku akan tetap melaporkannya." Baru kali ini Shaka bicara dengan nada tinggi dengan orang tuanya.
Deg!
Wira menelan salivanya kasar.
"Sudah sayang, sudah." Kenia menenangkan suaminya.
"Aku gak papa." sambungnya lagi.
"Kenapa papa selalu bela Ara terus, Shaka anak kita dan Kenia menantu kita. Ada apa sebenarnya???" Dina mulai emosi dengan suaminya.
"Baiklah jika itu keputusan kalian, papa ke kamar dulu." putus Wira, lalu beranjak pergi. Dan semakin membuat Dina kesal.
"Yaudah, anak-anak mama. Kalian istirahat dulu. Mama mau nyusul papa kalian." Dina kemudian menyusul suaminya ke kamar.
***
"Pah..." panggil Dina.
Wira rupanya sudah merebahkan diri menatap langit-langit kamar.
"Ada yang papa sembunyikan dari mama?" tanya Dina ikut merebahkan diri.
__ADS_1
"Siapa Ara sebenarnya.." tanya Dina.
"Sebenarnya Ara itu....." Wira seperti menelan pil pahit, apakah ia harus jujur dengan istrinya siapa Ara sebenarnya.