MENIKAH Dengan Sepupu Kekasihku (MDSK)

MENIKAH Dengan Sepupu Kekasihku (MDSK)
Siapa Ara?


__ADS_3

Dina memberenggut kesal, marah dengan suaminya Wira yang terus-terusan membela Ara. Melihat gelagat suaminya, ia mulai menerka yang tidak-tidak. Apalagi selama ini ia tak pernah sekalipun menguak masalalu Wira, hiya laki-laki yang sudah 26 tahun menemaninya itu memang tak pernah menceritakan detail masalalunya.


Wira memandang istrinya, "Ma, apa mama percaya papa bukan orang seperti itu. Papa mungkin menyembunyikan sesuatu dari mama." jelas Wira.


"Kalau begitu, ceritakan sama mama. Kenapa papa begitu percaya dan perduli dengan Ara." desak Dina.


"Papa menyembunyikan sesuatu dari mama kan?"


Dina terus mencerca Wira dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal hatinya."


Wira berdiri disusul Dina menuju balkon kamar, ia menggenggam tangan Dina, lalu mengecupnya singkat.


"Maafin papa ma, maafin papa." Wira tak mampu menyembunyikan kesedihannya.


Ia merasa bersalah, karena pernah mengkhianati istrinya.


Dina mematung seketika, ia mulai menerka yang tidak-tidak. Padahal kenyataannya memang begitu.


Wira, laki-laki yang menikahinya atas nama cinta kenyataannya telah berbuat curang.


"Ara anak papa ma," lirih suara terdengar pengakuan Wira.


Plakkk!


Tamparan keras untuk Wira, namun detik berikutnya wanita paruh baya itu sudah jatuh pingsan.


"Ma, mama." pekik Wira panik.


Ia membopong sang istri dan membawanya ke ranjang.


Kemudian ia mengambil minyak angin dan mengoleskannya di dahi sang istri.


Shaka dan Sam yang mendengar keributan di kamar mamanya pun langsung menghampiri.


"Pa, papa.. " Shaka menggedor pintu.


"Ma, Pa.." Sam tak kalah panik.


"Buka saja Ka, Sam." Wira menyerah, akhirnya membiarkan anak-anaknya masuk.


"Mama." pekik Shaka mendekat, begitu juga dengan Sam.


"Kenapa mama bisa pingsan apa." Tanya Sam.


Shaka menggenggam tangan mamanya.


Perlahan Dina mulai membuka matanya, netranya menatap ketiga laki-laki penting dalam hidupnya.

__ADS_1


Namun sorot mata kekecewaan terpancar jelas untuk suaminya, Wira.


"Maafin papa, ma." Buliran bening lolos dari mata Wira, ia menyesal, sangat sangat menyesal.


"Mereka berhak tau seperti apa papanya." sinis Dina membuat Shaka dan Sam saling pandang.


"Ada apa sebenarnya ma?" tanya Shaka penuh kelembutan.


Shaka cukup mengerti jika perasaan mamanya begitu sensitif, bukan hanya mamanya tapi juga istrinya.


Sejak menikah ia mulai memahami perasaan wanita.


"Mama, papa pasti akan jujur. Tapi papa mohon maafin papa." bujuk Wira.


Dina mencoba bangun di bantu dengan Shaka, ia menepis tangan Wira kala hendak membantunya bangkit.


Dina bersandar di kepala ranjang.


"Pa, Ma. Kita bicarakan ini baik-baik ya." pinta Sam.


Meski mereka bukan orang tua kandungnya, Sam sangat perduli dengan Dina dan juga Wira.


Mereka yang selama ini telah menampungnya, dan memberinya pekerjaan yang layak.


"Baiklah papa akan jujur dengan kalian." Putus Wira akhirnya.


Disisi lain Kamila, ia sedari tadi menunggu Sam di kamar, namun nihil tak kunjung balik.


Kamila berkeliling rumah, dari dapur, taman belakang, kolam dan terakhir teras. Suaminya tak ada. Melihat kamar mertuanya terbuka, mungkin saja Sam kesana. Kamila memutuskan untuk menyusulnya.


Pelan-pelan Kamila berjalan, karena ia masih sungkan jika harus masuk ke kamar mertuanya.


Namun seketika ia menutup mulutnya tak percaya.Ho


"Siapa wanita itu." Lirih Dina diiringi isaknya.


"Ma---,"


"Wanita itu Mirna ma,"


Plakk!!! "Papa mengkhianati mama dengan Mirna?" kini Dina mulai meluap-luap. Sam berusaha mencegah Dina yang hendak mencakar suaminya.


Dan lagi,


Plakkk! Shaka menampar papanya.


"Pukul papa Ka, pukul papa. Papa memang salah, tapi biar bagaimanapun Ara juga anak papa."

__ADS_1


"Cukup pa, Shaka nggak mau dengar apapun itu. Pantas saja jika Ara seperti itu. Ia mungkin menurun sifat ibunya sebagai pelakor." Sinis Shaka.


"Jaga ucapan kamu Shaka."


Sam mematung, ia enggan berkomentar apapun. Namun ia juga tak menyangka jika papanya Wira tega mengkhianati wanita sebaik mama Dina, bahkan sampai mempunyai anak.


Dan mirisnya anak itu adalah Ara, sekertaris papa di kantor.


"Keluar, sekarang papa keluar." titah Dina tanpa mau memandang suaminya.


"Tapi ma---,"


"Biar mama tidur sama Kenia, mama butuh waktu, apalagi untuk menerima kesalahan papa. Ayo ma," Dina mengangguk.


Kamila yang sedari tadi mendengarkan mereka memutuskan untuk kembali ke kamar sebelum mereka tahu jika ia berada disana dan tahu semuanya.


Shaka membimbing mamanya, membawanya ke dalam kamar bawah yang ditempati Kenia.


"Mama," panggil Kenia dengan seulas senyum


Dina langsung memeluk menantunya, ia kembali terisak.


"Mama kenapa menangis." lembut Kenia bertanya.


"Enggak papa sayang, mama hanya sedang kecewa dengan papa kamu," sahut Dina tersenyum miris.


"Mama tidur disini sama kamu ya little, mama butuh teman. Aku akan tidur di sofa." pinta Shaka.


"Tapi sayang, nanti badan kamu sakit gimana. Kamu tidur di kamar atas aja gapapa kok. Biar mama sama aku."


"Beneran?"


Kenia mengangguk, kembali ia memeluk mama mertuanya.


"Sekarang mama istirahat ya, biar Kenia temenin."


Dina pun memutuskan untuk tidur bersama Kenia, sedangkan Shaka tidur di kamar atas.


***


Di kamar, Wira begitu frustasi. Selama bertahun-tahun ia menutupi sebuah kebohongan besar. Bertopeng pada keluarganya yang adem ayem selama ini.


Tapi sekarang ia sadar, mau serapat apapun namanya bangkai akan tetap tercium.


Ia bukan hanya menyakiti wanita sebaik Dina, tapi juga mengecewakan anak-anaknya.


Selama ini, ia hanya berhasil membungkam Mirna perihal hubungannya, bahkan Mirna juga tak mengungkitnya lagi. Baginya sudah cukup Wira memberinya pekerjaan dan kini ia sudah memiliki keluarga baru di Bali.

__ADS_1


Arghhh!!!


"Maafkan aku ma, maafkan kesalahanku. Bagaimana bisa aku mengkhianati wanita sebaik dirimu. Aku memang brengsek ma, apa aku masih pantes dapat maaf dari mama." Wira memijat pelipisnya.


__ADS_2