
Sejak kejadian Shaka melihat istrinya bersama Radit tadi pagi membuat suasana hati Shaka benar-benar memburuk.
Bahkan meeting yang harusnya ia pimpin tak berjalan begitu baik, raganya memang sedang bekerja tapi fikirannya berkelana entah kemana. Selesai dari meeting Shaka memilih kembali keruangannya, ia tak mau terlihat kacau didepan papanya dan juga karyawan-karyawannya.
Apa salahku Kenia, apa kau hanya pura-pura mencintaiku,
sedangkan dibelakangku?
aku melihat nyata kau bersamanya.
bahkan kalian terlihat sangat bahagia,
tawamu ! harusnya tawamu hanya kau simpan untukku.
Tidak seharusnya aku percaya kata-katamu bukan, cintamu ! perasaanmu hanya omong kosong untuk menutupi kemungkinan perasaanmu yang masih bertaut dengan Radit.
Shaka mengerang frustasi, berulang kali ia memukul meja kerjanya yang sama sekali tak bersalah.
Sam masuk ke ruangan Shaka, melihat sedari tadi kakaknya itu terlihat aneh.
"Kenapa lo, kusut amat. Gak dapet jatah ya." Cibir Sam.
Diantara Shaka, Sam dan Radit, Sam lah yang memiliki sifat paling konyol. Meaki begitu ia selalu bisa menengahi setiap masalah yang terjadi antara Shaka dan Radit.
"Sialan lo Sam, istri gue masih perawan kali." ucap Shaka asal membuat Sam melebarkan matanya.
"Ohh astaga... ini nih gue jadi gak yakin sama lo ? lo beneran cinta gak sih sama Kenia."
"Ken itu datang bulan, namanya lampu merah kan gak boleh diterobos." jelas Shaka kemudian Sam hanya manggut-manggut.
"Terus kenapa lo kusut gitu, gak biasanya lo gak semangat gini Ka." selidik Sam.
"Gue gak papa." ucap Shaka datar.
"Lo keluar gih, handlee semua jadwal gue hari ini. Kalo udah selesai lo balik keruangan gue." ucap Shaka menyuruh Sam agar segera pergi.
Setelah Kepergian Sam, Shaka memutuskan untuk merebahkan diri dikamar yang berada diruangan kerjanya.
Sesaat ia teringat betapa bahagianya Kenia melihat drakor dikamar ini.
"kau membuatku pusing Ken, aku bahkan tidak tau harus bersikap bagaimana denganmu. Seharusnya kau tak perlu repot-repot membohongiku jika masih mencintai Radit."
__ADS_1
Gumam Shaka.
Shaka benar-benar merasakan pusing dikepalanya bukan karena sakit, melainkan Kenia yang terus menyita fikirannya, hingga akhirnya Shaka tertidur saat merasakan kepalanya begitu berat.
***
Sam masuk ke ruangan Shaka, dugaannya benar Shaka masih ada disana dan belum pulang, padahal waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam.
Urusannya yang padat membuat Sam lupa jika tadi Shaka menyuruhnya kembali ke ruangannya.
"Ohh astaga, pantas saja kakak ipar terus menelponku. Kau masih disini rupanya." Gumam Sam ketika tau Shaka masih tertidur di kamar kantornya.
"Bangun Ka, istri lo nungguin." teriak Sam seraya mengoyang-goyang tangan Shaka agar lekas bangun.
"Hmmm..." perlahan Shaka membuka mata.
"Jam berapa ? tanya Shaka pada Sam yang jelas-jelas ditangannya sendiri ada jamnya.
"Jam tujuh, dan lo belum pulang. Kakak ipar nyariin lo."
"Tunggu gue sebentar, lo bawa mobil gue. Gue mandi bentar." ucap Shaka seraya berlalu.
Shaka sudah keluar dengan tubuh yang lebih segar sehabis mandi, ia bahkan mengganti pakaiannya agar tidak terlalu formal.
Shaka dan Sam berlalu menuju parkiran.
"Lo bawa mobil gue, anterin gue ke Blackzone." ucap Shaka dingin.
"Lo gak pengen ngabarin kakak ipar dulu." tanya Sam heran.
"Udah jalan aja cepet." ucap Shaka setelah masuk ke dalam mobil.
Sam hanya bisa diam menurut apa kata Shaka, mungkin kakaknya itu butuh sesuatu untuk pelampiasan mengingat sedari pagi ia terliat kacau.
Malam hari di club Blackzone..
"Wah, liat siapa yang datang." sambut Dion ketika melihat Shaka dan Sam datang ke clubnya.
"Kau selalu begitu brother, sekarang kau harus menemani ku minum." ucap Shaka seraya merangkul pundak Dion.
Sam hanya mengekor dibelakang.
__ADS_1
Dion menjentikkan jari kearah meja bartender.
"Rain, siapkan wine 3 botol ke ruangan VIP, kau sendiri yang harus mengantarnya." ucap Dion kemudian diangguki oleh Rain.
Setelah minuman datang Shaka langsung menuangnya kedalam gelas lalu menegaknya perlahan.
Mereka berdua sudah terlihat mabuk, sedangkan Sam berusaha mengontrol diri agar tetap sadar. Bagaimanapun juga ia harus mengantar Shaka pulang kerumah, sedangkan Shaka tampaknya sudah mulai mabuk.
***
Dirumah Kenia terus menghubungi Shaka, meski ia tau hanya akan sama saja. Ponsel suaminya tak aktif sedari pagi membuat Kenia begitu panik.
Selang beberapa waktu Sam menghubunginya lewat pesan Wa membuat Kenia menghela nafas lega.
Sam : Kakak ipar jangan khawatir, Shaka bersama aku sekarang, mungkin akan pulang larut malam, tidurlah lebih dulu.
" Ahh kau membuatku khawatir kak, kenapa pula kerja selarut ini. Apa urusan dikantor benar-benar tak bisa di tunda." gumam Kenia dengan raut wajah khawatir.
Kenia terus menerus mondar mandir didalam rumah, sesekali matanya melirik kearah jam yang menunjukkan malam sudah mulai larut.
***Kenapa jam segini belum pulang, seharusnya ia memberi kabar.
paling tidak jika ponselnya tidak aktif, harusnya ia meminjam ponsel Sam untuk menghubungiku langsung.
Bukan malah menyuruh Sam memberi pesan.
Apa jangan - jangan wanita itu....
menggoda suamiku ?
tapi mana mungkin? kak Shaka bukan orang yang seperti itu, aku cukup tau..
Ohh astaga maafkan aku kak, aku tak bermaksud berfikiran buruk tentangmu.
Aku tertalu khawatir jika terjadi apa-apa denganmu*.
Hallo readers, ni aku kasih visual babang Shaka versi author ya.. maafkan jika tak sesuai 😂
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komen dan votenya 😚
__ADS_1