
Setelah Dina dibawa Shaka ke kamar Kenia, Sam pun ikut kembali ke kamar.
Ia cukup terkejut dengan kenyataan keluarga ini.
"Hon..." Kamila mendesah menatap suaminya.
"Iya sayang."
Kamila menunduk, meremas jemarinya. Ia sendiri juga bingung harus bicara seperti apa, jika nanti keluarga Admaja berantakan. Mungkin ia akan meminta Sam membawanya pergi dari rumah ini.
Mengingat Sam sendiri hanya anak angkat. Apalagi di tambah dengan kedatangan Ara.
"Ada apa sayang, tidurlah." pinta Sam.
"Bagaimana aku bisa tidur, jika suamiku sedang banyak pikiran. Aku tahu hon, aku tahu semuanya." ucap Kamila, ia mengguncang bahu Sam.
Seperkian detik berikutnya Sam memeluk istrinya, " Tenangkan dirimu, semua akan baik-baik saja. Akupun merasakan kekhawatiran akan keluarga ini, dan mama! mama sangat terkejut." Sam memejamkan matanya, dibelainya rambut sang istri.
Kamila sendiri seperti sebuah kekuatan bagi Sam.
"Aku khawatir sama mama, beliau pasti sakit hati banget dengan kenyataan yang papa simpan berpuluh tahun, aku tak menyangka honey."
"Akupun juga, padahal selama ini aku menganggap bi Mirna baik, tapi nyatanya.." Sambung Sam.
"Sudahlah, kita tidur. Aku yakin mama kuat menghadapi ini semua. Ada Shaka, Kenia, dan juga kita. Percayalah!" ujar Sam Akhirnya.
Ia meminta sang istri agar tidur, meski sebenarnya Sam sendiri tak mampu memejamkan matanya.
**
Sementara itu, Wira sedang berada di depan kamar Kenia.
Ia sungguh menyesali kesalahannya dulu.
Namun biar bagaimanapun Ara juga anaknya.
Disatu sisi istrinya sedang terluka saat ini, dan Dina butuh waktu untuk menerima.
Disisi lain, Wira sebenarnya juga tak tahan jika sedikit saja berjauhan dengan istrinya.
Namun kenyataannya, detik ini ia mampu merubah segalanya dengan kenyataan yang ia simpan.
**
Pagi hari, saat Kenia bangun. Ia mendapati mata mama mertuanya bengkak.
Namun Ibu dari suaminya itu masih terlelap bersama mimpinya.
Kenia membasuh muka, kemudian memutuskan ke dapur untuk membantu bi Ani.
"Pagi nona muda." Sapa bi Ani.
Pagi bik, sarapan udah siap?" Tanya Kenia.
"Udah non, tinggal manggang. Mungkin bentar lagi selesai."
"Ohh ya bik, bisa buatin salad, aku pengen salad buah." pinta Kenia.
__ADS_1
"Mau habis sarapan atau agak siangan non."
"Habis sarapan ya bik." Kenia mengulas senyum.
Dan saat sarapan sudah siap, Kenia bergegas mandi.
"Ma, sarapan yuk." ajak Kenia.
"Duluan aja sayang, nanti mama nyusul." tolak halus Dina.
Ia memilih menghirup udara pagi di teras kamar.
"Baiklah mau, aku panggil kak Shaka dulu."
Kenia hendak menaiki lantai dua, tapi Dina mencegahnya.
"Jangan sayang, kamu telpon aja."
"Mama ihhh aku kan hati-hati, " Kenia mengulas senyum kemudian berlalu.
Sampailah iya di kamar Shaka di lantai dua.
Terlihat suaminya masih tertidur pulas, " bangun sayang."
"Hmmpstmmt..." Shaka menggeliat, namun dengan mata masih terpejam.
"Bangun hey, sayang. Sarapan yuk, anakmu lapar ini." Kenia mengusap lembut pipi suaminya.
"Pagi little," senyum Shaka terukir manis meski dengan muka bantalnya, ia langsung menarik Kenia dalam peluknya.
Cuppp!
"Ayok bangun, kamu enggak ngantor?"
Shaka bangkit, " Aku mandi dulu sayang."
**
Lima bekas menit kemudian, Shaka sudah bersiap dengan setelan jas nya.
Ia mengajak Kenia segera turun dan sarapan bersama.
Dengan hati-hati ia menggandeng Kenia, pelan-pelan menuruni anak tangga.
Disana sudah ada Sam dan Kamila, juga papa Wira.
Namun sepertinya kejadian tadi malam membuat suasananya berbeda.
Wira memilih bungkam, sedangkan Shaka pun sama. Ia enggan menyapa papanya.
"Mama mana sayang." tanya Shaka dengan Kenia.
"Mama bilang tadi akan menyusul. Bentar deh aku lihat ke kamar." saat Kenia berlalu, Shaka langsung duduk menghiraukan papanya yang menatapnya dengan perasaan bersalah.
Kenia kembali sendiri tanpa bersama mertuanya, " Mama sudah sarapan sayang. Tadi bi Ani mengantarkannya ke kamar."
Tampak raut wajah Wira berubah mendengar penuturan Kenia.
__ADS_1
"Shaka..." Suara lirih Wira.
Sam hendak bersuara namun tangan Kamila seolah mengisyaratkannya untuk bungkam.
"Jika papa mengajakku bicara hanya untuk membela Ara, lupakan!"
"Tapi..." Wira mengerang frustasi.
"Papa, namanya orang salah harus dihukum biar jera. Sekalipun Ara itu juga anak papa aku enggak peduli, dia tetap salah karena berusaha melenyapkan nyawa istriku." bentak Shaka.
Deg!
Seketika Kenia yang tak tau apa-apa terkejut.
Ia menutup mulutnya tak percaya.
"Sam kirim Videonya ke ponselku, aku akan ke kantor polisi sekarang."
Wira hanya mampu bungkam, tak lagi membantah.
Sam mengangguk, sarapan pagi ini tak lagi diselimuti kehangatan sebuah keluarga.
***
Baru Ara sampai lobi kantor, dua orang polisi datang.
Trap.. trap.. trap..
Polisi langsung menuju ke arah dimana Ara berjalan.
"Atas nama Nara Ayudia, Anda ditangkap karena tuduhan percobaan pelenyapan nyawa nona muda Admaja Group." Polisi sudah memegang tangan Ara dan membawanya keluar.
Semua orang menatap Ara, tidak menyangka jika Ara yang dikenal pekerja keras kenyataannya mencoba menyelakai istri dari tuan Shaka Admaja.
"Semua kembali bekerja." perintah Shaka.
Dan karyawannya pun menurut, meski masih terdengar masak kusuk bergosip tentang Ara.
"Eh, si Ara ketangkep tuh."
"Iya , enggak nyangka ternyata dia berniat nyelakai istri pak Shaka."
"Masa sih."
"Iyaaa, aku juga dah tau dari dulu kalo si Ara enggak suka sama nona muda."
"Iya, dulu juga mereka pernah berantem."
"Iya muka tembok banget sih, ga tau malu." Dan masih banyak lagi.
Shaka tak perduli, ia masuk ke ruangannya.
.
.
.
__ADS_1
Like komen dan Vote yaaa🖤 kasii hadiah juga enggak nolakk🥳🥳 dan mampir juga ke novel baruku, pindahan dari apk sebelah😊😉