
"Kau sudah siap Sam?" tanya Shaka yang telah turun ke bawah bersama Kenia dengan satu kopernya.
Sam dan Kamila saling tatap.
"Harus bawa koper Ka?" tanya Sam akhirnya.
"Aku bahkan belum bersiap, apalagi Kamila." desahnya pelan.
Kamila hanya diam memainkan buku-buku jarinya, ia pikir kakak iparnya akan marah karena ia dan Sam sama sekali belum bersiap, padahal hari ini juga mereka harus pura-pura pulang ke Jakarta agar misi mereka berhasil.
Tiba- tiba Kenia mendekat pada Kamila.
"Mil, lo panik gitu. Itu cuma koper berisi beberapa baju ganti, sekarang siapkan baju gantimu dan Sam. Oh ya, jangan lupa untuk mengunci lemari dan simpan kuncinya. Agar bi Mirna tak tau jika baju-baju kita masih banyak yang tertinggal disini." bisik Kenia pelan.
"Bukannya baju kita emang harusnya sebagian disini ya, biar kalo nanti liburan gak perlu bawa banyak barang." ungkap Sam dengan mulut masih mengunyah sanwich.
Shaka menghela nafas kasar, kemudian ikut duduk disamping istrinya.
"Sepertinya penyakit kamu kumat lagi Sam?" celetuk Shaka sembari ikut melahap sanwich buatan bik Mirna.
Kalo sudah bicara seperti itu, tandanya Shaka sudah malas menjelaskan ini itu, alhasil Kenia yang sabar harus mengalah.
"Kemasi barang kalian, pokoknya apapun yang akan kita perlukan di Villa baru nanti. Dan jangan lupa kunci lemarinya simpan. Ini hanya berjaga agar bik Mirna percaya kita beneran pulang ke Jakarta. Sampai sini paham?" jelas Kenia panjang kali lebar.
"Nah, gitu kek dari tadi. Kakak ipar ngejelasinnya detail." puji Sam.
Sontak Shaka menggeleng-gelengkan kepala heran.
Begitu selesai Kenia dan Kamila bermaksud membereskan meja makan, namun keburu bi Mirna datang.
"Biar saya aja non, nona Kenia dan non Kamila istirahat aja." ucapnya ramah.
"Baiklah kalo begitu bik, ohh ya habis ini juga kita mau pamit. Kita mau balik ke Jakarta bik." ungkap Kamila.
__ADS_1
"Iya bik, Kita mau pulang. Hmm, pasti bakal kangen sama villa ini dan juga bibik." ujar Kenia.
"Hati-hati ya Non, bibik kalo punya uang banyak juga pengen Ke Jakarta, bibik juga kangen sama anak bibik." tampak raut wajah bi Mirna berubah sendu.
"Sabar ya bik, memangnya anak bik Mirna kerja dimana?" tanya Kamila.
"Entahlah non, Nara hanya bilang kerja di perusahaan besar. Sudah satu tahun ia enggak pulang kesini non." Bi Mirna malah menangis.
Kenia bisa merasakan kesedihan bi Mirna yang berpisah dengan anaknya, ia teringat dengan mamanya.
Mama Wina yang selama ini tak bisa jauh darinya, perlahan Kenia memeluk bi Mirna.
"Kenia yakin suatu saat rindu itu akan terobati, meski jarak selalu mengikis. Bi Mirna semoga anak bi Mirna lekas pulang." ucap tulus Kenia.
Tak terasa matanya berkaca-kaca menahan tangis.
Shaka dan Sam yang bersiap-siap pun telah selesai, saatnya memanggil sang istri agar bersiap dan segera berangkat.
Lima belas menit kemudian mereka sudah selesai bersiap.
"Ayo berangkat." ujar Kenia.
Mereka bergabung menjadi satu mobil milik Shaka, salah satu satpam yang tak lain bernama Rio menghampiri.
"Apa perlu saya antarkan sampai bandara tuan?" tawarnya begitu tau mereka akan pulang ke Jakarta.
Kini Shaka yang terdiam.
" Tidak perlu, sebelumnya kami ada janji bertemu rekan bisnis lebih dulu. Jangan mengkhawatirkan mobil, aku akan mengurusnya." ujar Sam.
"Baik Tuan." ujarnya membungkuk.
Shaka, Sam dan para istri pun masuk ke dalam mobil, sementara Rio membungkuk, serta membukakan jalan untuk Tuannya.
__ADS_1
Rio adalah satpam yang bicara dengan penguntit malam itu, Shaka sudah memastikannya lewat cctv.
Didalam mobil menuju Villa baru.
"Umpan rencana kita berhasil Sam," ungkap Shaka sembari mengemudikan mobil.
Kenia memilih diam memandangi jalanan luar lewat kaca mobil.
Sam terkekeh, " Aku masih curiga, sama Rio. Wajahnya licik." ungkapnya.
Kamila sontak menyentil telinga suaminya, " Kamu ini hon, selalu menilai sesuatu dari tampangnya." desis Kamila.
Sam nyengir kuda, jika sudah berurusan dengan istrinya ia selalu mengalah.
Setengah jam kemudian mereka sudah sampai di Villa yang Shaka sewa, memang tak sebagus milik pribadi Admaja, tapi villa ini cukup nyaman dan sengaja ia memilih villa yang tak jauh dari Villa pribadinya agar lebih mudah jika harus bolak balik mengintai penguntit itu.
"Ahhh akhirnya rebahan juga, entah kenapa pinggangku cepat sekali merasa pegal." Keluh Kenia sembari mendaratkan bokongnya diatas sofa.
" Itu karena lo sudah tua Ken, sudah mau jadi emak juga." timpal Kamila.
"Kaliam istirahatlah dan mengobrol. Aku dan Sam akan mengecek cctv villa yang aku hubungkan ke ponsel.
"Baik sayang, aku juga lelah." jawab Kenia.
Shaka dan Sam menuju ruangan yang cukup privasi, ia menghubungkan ponselnya dengan layar yang lebih besar. Agar bisa melihat jelas rekaman cctv villanya.
Alloha hay....
Satu part dulu ya, jangan lupa tinggalkan like komen rate dan vote...
jangan lupa juga krisannya..
Macihh salam cupmuahhh😘
__ADS_1