
"Mama..." Pekik Kenia ketika memasuki pintu rumahnya, rumah yang menemaninya selama hampir dua puluh tahun itu selalu menjadi tempat yang menenangkan.
Damai, indah dan nyaman.
Sejak menikah ia memang jarang sekali pulang ke rumah orang tuanya, Kenia harus membagi waktu antara keluarga dan waktu berdua dengan suami. Meski begitu keluarga tetaplah keluarga, tempat pada akhirnya kemana kita akan kembali.
"Apa mama enggak ada, ya Sayang." Shaka ikutan celingukan.
Dari arah dapur, Wina menghampiri.
"Kenia, anak gadis mama." ia begitu berbinar kala anak satu-satunya pulang ke rumah.
Wina memeluk Kenia, meluapkan kerinduan.
"Ma, aku dah mau jadi ibu lho. Bukan gadis lagi."
"Tapi mama kangen tau. Oh ya, kabar mama papa kalian gimana?"
"Baik, ma." Shaka dan Kenia kompak menutupinya.
Tapi syukur, kedua orang tuanya sudah berbaikan.
"Syukurlah kalo begitu, mama dengar Ara berusaha mencelakai Kenia, mama khawatir sekali."
"Mama tenang saja, Shaka sudah menyeretnya ke polisi."
Lama mereka berbincang di ruang tamu, Edward kemudian datang dan bergabung.
Shaka menceritakan yang sebenarnya terjadi dengan papanya, karena desakan Ed yang sudah tahu menahu perihal yang menimpa Wira.
Dua hari mereka menghabiskan waktu di rumah Kenia, kini tibalah waktunya mereka kembali ke rumah sendiri. Rumah yang tak lebih mewah dari milik keluarga Admaja.
***
Rencana awal, Shaka ingin membuat syukuran untuk kehamilan kembarnya serta ulang tahun Kenia gagal sudah, dan akhirnya ulang tahun Kenia hanya dirayakan dengan sederhana ala mereka berdua. Meski kedua mama dan papa mereka juga Sam dan Kamila tak henti-hentinya memberikan ucapan ulang tahun.
Berbagai macam kado pun Kenia terima, ia sangat bahagia.
"Happy birthday sayang, sehat selalu, jadi istri yang baik, nurut serta bahagia selalu." begitulah Shaka meski moment yang seharusnya romantis pun tak jadi. Meski begitu, Kenia selalu bersyukur. Baginya keluarga bahagia sudah lebih dari apapun.
Karena sejujurnya cinta itu sebuah tindakan pembuktian bukan kata-kata.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, Tak ada yang lebih membahagiakan, selain berbagi kasih dan sayang. kehamilan Kenia yang menjadi pelengkap bahagia, hingga tak terasa kini sudah sembilan bulan, perut Kenia membesar, Kenia adalah calon ibu yang kuat, selama hamil ia tak meminta aneh-aneh, hanya di waktu awal-awal ia mengidam yang terlihat sedikit aneh.
Menurut perkiraan dokter, bayi kembarnya akan lahir seminggu lagi.
__ADS_1
Berbagai persiapan juga sudah di lakukan pasangan bahagia tersebut untuk menyambut kelahiran putra putri mereka.
Menurut USG dokter, bayi Kenia dan Shaka berjenis kelamin Laki-laki dan perempuan.
"Sayang, ini bagus ya." Kenia menunjuk baju balita yang sangat lucu, satu warna pink dan satunya lagi warna biru. Sangat cocok untuk bayi kembarnya.
"Apapun, jika kamu yang memilih pasti bagus."
"Hmmm, kau juga harus memilihnya."
Shaka mengulas senyum, ia kemudian mendekat.
"Aku pilih ini, ini dan ini." tunjuknya.
Shaka memilih baju jumper set, bermotif buah. Sangat lucu dan imut.
Setelah mendapatkan semua keperluan untuk persiapan bayi kembarnya, Shaka mengajak Kenia untuk makan di caffe samping Mall.
Meski dengan perut membuncit, Kenia masih terlihat lincah.
Walau begitu, Shaka tetap menjadi suami siaga untuk Kenia.
**
Karena sejak hamil, Kenia lebih sering makan makanan yang cenderung tak ia suka.
"Mau ayam geprek, sama kentang crispy."
"Minumnya?" tanya Shaka lagi.
"Mau es krim, sama lemon tea."
"Hmmm, kamu kan lagi hamil kembar sayang."
Kenia tampak kecewa, wajahnya berubah sendu.
"Ahhh baiklah, istriku."
Shaka pun memanggil pelayan dan memesan makanan.
Dipandanginya Kenia, lalu kembali ia mengulas senyum.
"Apa sih yang, mukaku aneh ya. Kelihatan tua?" Seru Kenia sembari memegangi wajahnya.
Shaka semakin gemas dengan ekspresi Kenia.
__ADS_1
"Aku gemes liat muka kamu."
"Ishhhh, aku kan jadi malu."
Beberapa menit kemudian makanan pun datang, Shaka dan Kenia mulai mencicipinya, sesekali ia siapkan makanan untuk istrinya, meski begitu Kenia masih malu-malu, seperti sepasang manusia yang di mabuk asmara, Shaka selalu memperlakukan Kenia begitu istimewa.
Hingga tak terasa, makanan tandas. Mereka memutuskan pulang ke rumah, dua minggu ke depan ia akan lebih siaga menjaga Kenia, meski Alan masih menjadi bodyguard bayarannya.
Ia selalu ingin memastikan Kenia baik-baik saja.
"Permisi tuan, Ada kiriman undangan." Alan menghampiri Kenia dan Shaka yang berada diruang tamu.
"Undangan?" Shaka mengernyitkan dahi. Penasaran undangan siapa, ia pun menerimanya.
"Undangan dari siapa?" tanya Kenia tak kalah penasaran.
"Dari mantanmu Sayang,"
"Hah benarkah mas Radit akan menikah?" tanya Kenia antusias.
Shaka terkekeh, lalu menggeleng.
"Bercanda, ini dari kolega papa."
"Ohh aku fikir beneran mas Radit, tapi masa mas Radit nikah enggak ngasi undangannya langsung." Kenia cemberut.
"Bilang aja kamu mau ketemu."
"Hishh, gapapa dong sayang. Biar begitu mas Radit kan sepupu kamu."
"Tapi dia mantan kamu."
Kenia mencebik, " Itu hanya masalalu."
"Tetap saja dia mantan kamu, orang yang pernah kamu cintai. Iya kan?"
"Sudahlah, malah bahas orang lain." Kenia yang lelah debat pun memilih meninggalkan Shaka, raut wajahnya kesal.
"Kenapa jadi kesal sendiri, Arghhhhh!" Shaka menjambak rambutnya.
Namanya juga masalalu, sekeras apapun kita melupakan. Pada kenyataannya tetaplah menjadi hantu apalagi Radit dan Shaka adalah sepupu.
Mampir juga ke kisah mas Radit dan Rain di Novel ini, jangan lupa tinggalkan jejak dengan like komen dan vote🥳
__ADS_1