MENIKAH Dengan Sepupu Kekasihku (MDSK)

MENIKAH Dengan Sepupu Kekasihku (MDSK)
Novel BPC


__ADS_3

Hay hay ada yang kangen nggak? masuk yuk ke gc kita ngobrol bareng-bareng.


Ada yang kangen sama Shaka nggak? atau sama Kenia, atau pengen liat mas Radit bahagia ? tengok yuk di novel BPC ( bukan pelarian cinta ) kisah cinta mas Radit dan Rain😉


Sequel


***


Pernahkah kamu jatuh cinta dengan seseorang karena sama-sama memiliki nasib percintaan yang sama yaitu kandas, tapi justru cintamu dinilai menjadi sebuah pelarian, hanya karena waktu yang terlalu cepat untuk jatuh cinta.


Padahal definisi cinta itu bukan seberapa *lama.


Rain anastasya🕊*


"Keselkan? capek? sedari pagi enggak ada kabar, kemana? apa sebegitu sibuknya, sampai enggak ngabarin aku?" omel Rain di depan kaca.


Padahal tadi pagi, ia sudah menelpon Radit. Apa sekarang ia seposesif itu?


Radit memang menelponnya tadi pagi, namun laki-laki itu tak memberi tahu Rain jika Kenia melahirkan dan ia tak sempat memberi kabar lagi.


"Sibuk ngapain sih mas, biasanya sempet kok? apa jangan-jangan bener kata Vio, kamu cuma jadiin aku pelarian." Rain menepuk jidat kalau pikiran buruk merasuki otaknya.


Mendadak ia lapar, padahal jam masih menunjukan pukul lima sore, "Pengen pecel." gumam Rain pelan dengan tangan memegangi perut, ia mengambil sweater dan tas berisi dompet dan ponsel lalu keluar apartemen.


Mencari, barangkali ada warung pecel di dekat apartemennya, nyatanya emang enggak ada.


Satu-satunya warung yang Rain tau hanya punya ibunya Angga.


Berdamailah dengan masalalu, dan kamu akan tenang!


Kata-kata itu terus terngiang, ia juga bimbang harus memesan via online atau datang langsung.


Dua-duanya sama, akan mempertemukannya dengan Angga.


Dan pada akhirnya perutnya yang memutuskan, ia memilih menunggu di kursi taman samping apartemen, menunggu pesanan pecelnya sampai.


**


Angga memarkirkan motornya, pandangannya menelisik. Sejurus kemudian ia berhasil menemukan sosok Rain.


Angga mengulas senyum sembari menyodorkan kresek berisi nasi pecel.

__ADS_1


"Ini..."


"Makasih, Ngga! maaf merepotkanmu." Rain meraih dompet dan memberikan uang sesuai harga pecel itu, namun Angga menolak.


"Enggak usah Rain, itu khusus buat kamu."


"Ngga..."


"Rain, kali ini aja."


"Tapi aku beli, bukan minta Ngga."


"Iya, aku tau Rain. Besok-besok kalo mau beli aku terima uangnya." kekeuh Angga.


"Boleh aku duduk?" tanyanya lalu dibalas anggukan oleh Rain.


Hati Angga masih sama, berdebar untuknya.


Namun ia tahu, Rain bukan lagi untuknya.


Ia milik Radit.


"Makannya pelan-pelan jangan belepotan." Angga mengusap pelan sudut bibir Rain, pandangannya sama sekali tak beralih.


"Maaf Ngga, aku punya mas Radit."


"Aku tahu, sangat tahu. Kamu mencintainya, tapi Rain--"


"Ngga, plis! kita cuma masalalu, nggak lebih."


Angga kembali sendu, jujur hingga saat ini ia masih belum bisa melupakan Rain, juga mencari sosok penggantinya.


Baginya Rain tetaplah bintang, meski jauh di atas sana.


"Rain bisakah memberiku kesempatan, sekali saja?" tanya Angga, padahal perpisahan mereka murni kesalahan Rain, tapi kenapa Angga yang meminta kesempatan?


Sangat aneh!


"Ngga, plis! aku punya mas Radit." pekik Rain, ia sudah tak berselera makan.


"Rain, mas Radit cuma jadiin kamu pelarian. Aku tahu dia sangat mencintai mba Kenia!" tegas Angga, entah setan apa yang merasukinya hingga ia berusaha membuat Rain ragu.

__ADS_1


Mungkinkah? mungkinkah jika Radit hanya menjadikannya pelarian? namun Rain itu kuat, ia memiliki keyakinan tinggi.


Ia berdiri, tersenyum miring.


"Angga, aku tahu aku salah! aku mengingkari janjiku untuk selalu sama-sama kamu. Aku bukan wanita baik, tapi apa kamu tau? aku sudah sangat mencintai mas Radit."


Rain menjeda ucapannya, nafasnya tersengal.


"Angga, jika memang mas Radit hanya menjadikanku pelarian, aku dan dia tak akan berjalan sejauh ini? waktu yang aku lalui sama dia bukan hanya dari kemarin, tapi dari sejak hatinya patah." ucap Rain penuh tekanan, lalu pergi meninggalkan Angga.


Angga mematung sesaat, kemudian berusaha mengejar Rain dan berhasil mencekal tangannya.


"Apa lagi." gadis itu sudah terisak, air matanya luruh.


Angga merengkuh Rain dalam peluknya, " Maaf."


"Simpan maaf mu, kita sudah tak ada urusan lagi, pergilah!" Rain berlari dan segera masuk ke dalam lift.


Arghhhhhh! teriak Angga frustasi, ia memilih pulang.


Rain masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri, menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal lalu terisak.


***


Malam yang dingin, ia kembali bekerja.


Namun Rain lesu, matanya bengkak karena menangis.


Namun Rain tetaplah Rain, ia pintar menutupinya terlebih di depan orang-orang tersayangnya.


"Rain." lirih Neta, suaranya bahkan kalah dengan dentuman musik yang Dj.


"Hmm," Rain hanya berdehem.


"Rain, maaf."


Sejurus kemudian Rain mendongkak, melihat Neta mendekatinya dengan wajah menunduk.


" Untuk?" tanya Rain, ia masih belum percaya sosok Neta mau meminta maaf padanya.


"Semuanya, maafkan aku!" pekik Neta.

__ADS_1



Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like komen dan Vote ya sayang.. mau follow author? langsung follback kakak🥳


__ADS_2