
Shaka merebahkan tubuhnya yang letih diatas ranjang, dipandangi istrinya yang telah terlelap lebih dulu lalu beralih menatap kosong langit -langit kamarnya.
Sungguh ia merasa bersalah karna telah membuat Kenia dan Radit bertemu kemarin, ia fikir sejak kejadian Kenia sakit, Radit sudah tak mempermasalahkan pernikahannya.
Kenyataannya dibalik itu semua, tanpa sengaja ia membuat Radit menderita dengan perasaannya yang belum berakhir.
Drrttt.... Suara hapenya bergetar.
Diambilnya benda pipih tersebut diatas nakas.
Ternyata pesan dari Sam adiknya.
"Tumben banget ni anak." gumam Shaka.
Sejurus kemudian ia membuka pesan wa dari Sam.
Sam : Ka, gue minta lo nggak ngajak Kenia dulu buat nemuin Radit, ini demi hubungan baik kita bertiga. Gue nggak ada niat mihak siapapun tapi yang gue mau lo kasih waktu Radit biar bisa nyembuhin lukanya.Dia sangat kacau kemarin. Kamila pasti juga udah ngasi pengertian ke Kenia.
" Jadi ini yang buat Kenia bahas masalah Radit tadi." gumam Shaka seraya melihat wajah istrinya dengan sendu.
Perasaan bersalahnya menyeruak, karena sejak pembicaraan tentang Radit tadi Kenia tampak murung.
Shaka mengusap wajahnya kasar, fikirannya berkecamuk.
Mungkin selama ini aku hanya memikirkan kebahagiaanku, tanpa melihat seperti apa dirimu dan juga perasaanmu.
Mungkin rasa cintaku hanya akan menghancurkan hidup seseorang.
Jujur aku tak ingin egois dalam hal ini,
bersamamu adalah kebahagiaan terbesar dihidupku. Tapi detik ini aku sadar, aku tidak bisa memaksa hatimu untuk terarah padaku.
__ADS_1
Jika aku tak bisa membuatmu mencintaiku, maka melepasmu akan aku lakukan hanya demi melihatmu bahagia.
Shaka mencoba memejamkan matanya, berharap ia lekas terlelap dan bertemu dengan pagi yang ia nanti.
Alih-alih tertidur, ia justru terlihat sangat frustasi.Pukul sepuluh malam Shaka keluar kamar, berjalan menuruni tangga dan melewati ruang demi ruang.
Diraihnya kenop pintu menuju tempat dimana kolam berada, ia keluar lalu mendudukan diri dibibir kolam. Kakinya mengayun bermain air. Membiarkan dinginya malam menerpa tubuhnya agar fikiran dikepalanya sedikit meredam.
***
"Kenapa melamun sendiri." Suara Kenia menyadarkan lamunannya, bahkan ia tak sadar jika istrinya itu kini sudah berada disampingnya.
"Sejak kapan kau bangun Ken." tanya Shaka heran.
"Sejak kau keluar kamar."
"Apa yang mengganggu fikiranmu, sampai harus berada disini malam-malam, ini sudah waktunya istirahat dan besok kau masih harus ke kantor kan ?" terocos Kenia.
"Kamu..." jawab Shaka cepat.
"Aku memikirkan perasaanmu Kenia, jujur aku merasa bersalah. Aku tidak bisa tidur karenamu.Aku tidak ingin kamu tersiksa dengan pernikahan ini."ucap Shaka sendu.
Kenia meraih jemari Shaka dan menggenggamnya erat, Senyum bibirnya terukir keatas.
"Sekarang aku sudah yakin dengan perasaanku." ujar Kenia.
"Aku rela jika kamu memilih Radit, maaf jika selama ini aku terlalu egois karena mencintaimu Kenia." ucap Shaka tersenyum getir.
"Sebelum aku memutuskan menikah denganmu, aku sudah lebih dulu membahas hubunganku dengan kak Radit. Dengan harapan aku dapat membatalkan pernikahan kita jika aku membujuknya.
Alih-alih membatalkan, ia justru memintaku untuk belajar mencintaimu. Dan aku sudah melakukannya, perkara hasilnya kamu juga akan tau." ucap Kenia.
__ADS_1
Kini tubuh Kenia teralih menatap Suaminya, Tangannya terangkat menangkup pipi Shaka.
"Aku mencintaimu kak, aku mulai mencintaimu. Mungkin ini terlalu cepat tapi percayalah aku tidak pernah main-main dengan perasaanku." ucap Kenia serius, tatapan matanya sulit diartikan.
Shaka sungguh tak menyangka, ini diluar ekspetasinya.
"Perkara kak Radit, biarkan waktu yang menyembuhkan lukanya. Sejak hari dimana aku menemuinya itu, aku sudah bertekad memupus perasaanku." ucap Kenia lagi membuat Shaka meraih tubuh Kenia dan memeluknya begitu erat.
"Aku mencintaimu Kenia, aku mencintaimu. Aku janji tak akan mempertemukanmu dengannya lagi, biarlah waktu yang mempertemukan kita dengannya ketika kita semua sudah sama-sama terbiasa." jelas Shaka.
Kenia mengukir senyum, perasaan lega dan bahagia memenuhi dadanya, inilah awal dimana ia menata hatinya.
cinta baru dan perasaan baru yang harus ia jaga.
"Sudah malam ayo kita tidur." ucap Shaka meraih tangan Kenia.
Mereka memasuki rumah dengan tangan yang saling menggenggam dan senyum berbinar di wajah Keduanya.
Sampai dikamar mereka merebahkan diri, memiringkan tubuh dengan saling memandang.
"Ahh bahagianya." gumam Shaka.
"Aku sedang datang bulan, jangan memintanya sekarang." ucap Kenia.
"Aku tidak sedang minta, aku tau kamu butuh waktu." Shaka mengulas senyum lalu tangannya meraih pinggang Kenia agar mendekat dalam pelukannya.
Kenia menurut, ia mencium singkat pipi Shaka lalu menenggelamkan wajahnya yang bersemu merah didada bidang suaminya.
"Seperti ini Kenia, aku sudah sangat bahagia." Batin Shaka.
***
__ADS_1
Hallo readers sayang terima kasih sudah mampir di ceritaku, jangan lupa like komen dan Votenya yaaaa..
miss you😌