
Kenia merebahkan tubuhnya yang lelah diatas ranjang.
"Akh lelah sekali rasanya!"
Fikirannya menerawang menatap langit-langit kamar, hal yang seharusnya Kenia benci kenapa ia terlihat sangat menerima kehadirannya bahkan saat dia mengajaknya pergi, Kenia bahkan merasa sangat senang.
Seketika aku teringat besok akhir pekan, hahh ! biasanya aku melewatinya bersama Radit.
Aku merasa tiba- tiba dadaku sesak, mengingat akhir pekanku selalu bersamanya entah itu hanya sekedar ngobrol seharian, jalan-jalan ditaman atau sekedar keliling mall dan makan.
"arrgghhhhhhhh...." erang Kenia frustasi.
"Radit, kenapa kamu seperti hantu hah! Aku sudah lelah, jangan terus datang di fikiranku lalu pergi seenaknya saja." gerutu Kenia.
Kenia menjambak rambutnya, hatinya terkoyak bimbang. Radit melepaskannya begitu saja padahal begitu banyak memori-memori yang tercetak indah selama mereka bersama.
Kenia terlalu lelah dengan fikirannya yang berkecamuk, lambat laun tanpa sadar Kenia sudah terlelap.
***
"Pagi mama," sapaku menuruni anak tangga.
Begitulah diriku aku selalu bisa tersenyum, bahkan untuk hal-hal yang slalu memaksaku. Kenia
"Pagi Kenia sayang," sapa mama Wina
"papa mana ma?" tanyaku lagi.
"Tadi papa buru-buru pergi ada urusan katanya, jadi papa udah sarapan duluan," jelas mama Wina.
"mama udah sarapan??"
"Belum Ken, mama nungguin kamu. Ohh ya hari ini kamu ke butik ya sama Shaka, bisa kan?"
"Hahh! Kenapa harus Kenia ma?"
"Lho yang nikah kan kamu sama Shaka, masa mama yang ke butik."
" Ehh itu anu ma," alibiku apa ini hah, hemmmm.
"ayo cepat sarapan Ken, sebentar lagi Shaka kesini," ucap mama Wina mengingatkan.
"Ahh hiya ma!"
Kenia melahap cepat sanwichh di piringnya.
"Pelan-pelan Ken, nanti kamu tersedak! Sebegitu senangnya kamu mau ketemu sama Shaka ya?" Goda mama Wina.
"Arrghhh mama, selalu begitu deh! Kenia cuma kelaperan!" Sahutku asal.
"Iya-iya yang kelaperan,karna kebanyakan mikir! Mama tau anak mama ini lagi galau-galaunya kan?"
Kenia hampir tersedak mendengar ucapan mamanya, belum selesai sarapan penuh drama itu diluar terdengar suara klakson mobil pertanda akan ada tamu.
Dari luar mang ujang tergopoh-gopoh menghampiri nona mudanya,
" Nyonya, Nona Kenia di depan ada tuan Shaka," ucap mang Ujang.
Mama Wina mengulas senyum "Suruh masuk mang, sekalian sarapan,"
"Baik Nyonya," ucap mang Ujang berlalu pergi.
__ADS_1
"Hahh! kenapa sepagi ini juga," runtuk kenia
"Bi, bi Mina tolong buatkan satu sanwich lagi buat Shaka ya," titah mama Wina sedikit berteriak.
"Siap Nyonya," sahut bi Mina.
Kenia terdiam, tanpa disadari Shaka sudah berjalan menuju ke arahnya.
Shaka duduk di samping Kenia, sontak Kenia terperanjat tanpa sadar menatap manik mata Shaka.
"Ehh ciee, mama masih disini lho," Goda mama Wina.
Kenia tersadar dan merutuki dirinya sendiri "Ahh malunya aku!"
"Pagi mama," sapa Shaka dengan seulas senyum.
"Pagi juga anak mama yang ganteng!" ucap mama Wina mengulas senyum.
"Ini Tuan sanwich nya," Bi Mina menyodorkan sepiring sanwich kepada Shaka dan berlalu pergi.
"Sarapan dulu sayang, sepertinya kamu butuh tenaga banyak Shaka untuk menghadapi anak mama yang masih labil ini," seloroh mama Wina diiringi gelak tawa.
Kenia mengerucutkan bibirnya tanda protes, sedangkan Shaka menahan senyumnya.
"Aku akan siap-siap dulu ke atas kamu tunggu disini bentar kak," ucap Kenia berlalu.
"Iya aku juga masih mau ngobrol sama mama," balas Shaka.
"Shaka, kamu harus semangat ya meluluhkan Kenia, mama yakin kok kamu pasti bisa. Hanya saja dia sedikit labil mengingat dia baru putus dari Radit, jadi menurut mama kamu harus ektra sabar kalo kadang-kadang dia bisa baik, bisa juga cuek dan dingin," jelas mama Wina.
"Radit ma?" Shaka mengernyit heran.
Wina menghela napas sejenak,
"Sebenarnya Radit orang yang cukup mama kenal dengan baik, tapi selama dia menjalin hubungan dengan Kenia, dia tidak pernah berusaha menemui kami dan itu yang membuat papa Ed bersikeras menjodohkanmu dengan Kenia," sambungnya lagi.
Tampak gurat raut sedih di wajahnya yang selalu beliau tutupi dengan senyuman, perasaan seorang ibu memang berbeda.
Radit? dokter? Kenapa kebetulan begini," batin Shaka.
"Ahh tapi, di kota sebesar ini Radit bukan hanya sepupuku sajakan?" batin Shaka.
Tanpa disadari Kenia berdiri mematung ditengah-tengah anak tangga, tatapan matanya mengisyaratkan seolah dari tadi Kenia mendengar obrolan mama dan laki-laki yang katanya calon Suaminya itu.
Dengan langkah gontai, Kenia mendekat.
"Ayo kak, aku dah siap! Kita pergi sekarang" Ucap Kenia dingin.
"Benar juga kata mama Wina, sifatnya memang tidak berubah dari saat dia kecil. Kadang datar dan dingin kadang juga sangat manja dan hangat," batin Shaka.
"Kita pergi dulu ya ma," pamit Shaka pada mama Wina.
"iya sayang, titip Kenia ya! Kenia hati-hati di jalan ya, jangan cemberut dan jangan merepotkan Shaka." Pesan mama Wina.
"Iya ma," sahut Kenia singkat.
***
Di dalam mobil Kenia dan Shaka sama-sama terdiam, mereka larut dalam fikiran masing-masing.
Entah melihat mamanya bercerita perihal Radit membuat Kenia enggan membuka percakapan dengan Shaka.
__ADS_1
Sementara Shaka terdiam, rasa canggung menghampirinya mengingat perubahan sikap Kenia.
Hanya ada suara deru mobil dan jalanan yang ramai.
Diam dan diam, Shaka merasa seperti sedang berada di kutub utara, dingin seperti sikapnya!
"Ehmm," Kenia berdehem ria.
Tanpa sadar mobil berhenti di depan butik Zara, langganan mamanya.
Shaka turun berjalan membukakan pintu Kenia, meraih tangannya menggenggam dan berjalan beriringan.
"Kak pelan-pelan," ucap Kenia.
"Maaf Kenia, aku lupa kalo lagi gandeng tangan kamu, aku terbiasa jalan cepat ketika dikantor bersama Sam," jelas Shaka.
"Hemmm mungkin dia lupa aku ini Kenia bukan Sam, salah aku juga sih dari tadi diemin dia," batin Kenia mengeluh.
Begitu masuk butik, Kenia dan Shaka sudah disambut oleh pegawai-pegawai butik Zara, bahkan pemiliknya sendiri ikut menyambutnya.
"Permisi Tuan muda, Nona muda silahkan ikut bersama bu Zara." ucap salah satu pegawai yang menghampiri kami.
"Baik" ucap Shaka sambil menarik tangan Kenia mengikuti si pemilik butik.
Zara memandang sepasang kekasih itu dengan senyum, "Suatu kehormatan bisa menjadi bagian dari acara penting Tuan muda Shaka Admaja," ucap Zara dengan senyum ramah.
"Terima kasih nona,anda terlalu berlebihan," balas Shaka.
"Ini adalah salah satu rancangan gaun pengantin terbaik kami dan ini limited edition," Ucap Zara.
"Kamu suka Ken?" tanya Shaka
"Apa ini gak terlalu bagus kak, aku mana pantes memakainya," jawab Kenia.
"Anda akan sangat cantik Nona jika memakainya, saya sangat yakin," ucap Zara.
"Silahkan dicoba dulu Nona, mari saya antar anda keruang ganti," ucap Zara lagi.
Kenia dan Zara berjalan menuju ruang ganti, Kenia mencoba baju pengantinnya dan tara.......
"Ommmooo aku tidak percaya, ini seperti mimpi," ucap Kenia sambil berkaca.
Kenia melangkahkan kakinya keluar, berharap Shaka turut memberikan penilaian.
"Gimana kak?" tanya Kenia.
"Sangat indah dan sempurna," ucap Shaka tanpa berkedip membuat pipi Kenia memerah bak tomat.
"Ommooo benarkah dia memujiku, aku ingin terbang sekarang," batin Kenia.
Setelah mencoba baju pengantinnya kini mereka sudah berada di dalam mobil lagi.
"Ken, kita pulang kerumahku ya? ini kan akhir pekan dan besok minggu. Mama Dina pengen banget ketemu kamu, kangen katanya," ucap Shaka beralibi.
"Iya kak, Ken mau kesana,"
"Terima kasih Ken," ucap Shaka menggenggam tangan Kenia.
hallo Reader ! salam kenal dari Author 😊 jangan lupa tinggalkan jejak dengan like komen dan fav yaaaa...
Author masih dalam tahap baru belajar ! mohon maafkan jika masih belepotan bahasanya 😘
__ADS_1