
"Kalo kamu berani nerima ajakan ular itu, siap-siap tidur di kamar lain." Kenia melipat tangannya di dada.
Mendadak ia berubah menjadi galak.
"Ehh, enggak sayang. Di hatiku cuma kamu seorang." bagi Shaka kemarahan Kenia adalah kelemahannya.
Entah harus senang atau cemburu, dalam hati Kenia. Meski ia ya, Shaka tak akan mungkin mengkhianatinya, tapi Kenia cukup kesal lantaran pagi tadi Shaka buru-buru hingga melupakan sarapan bersamanya dan lagi ditambah Shaka perginya dengan wanita ular itu.
Rada susah emang, meluluhkan Kenia kalo sudah ngambek. Dan jurus jitu nya Shaka pun keluar.
"Sayang, sini..." Shaka menepuk pahanya.
Meminta Kenia agar duduk di pangkuannya.
"Enggak, salah sendiri tadi nggak sarapan dulu sama aku." Kenia memalingkan wajahnya.
"Ayolahh, katanya mau sarapan bareng."
"Sini...." Lagi Shaka menepuk pahanya, berharap Kenia segera mendekat.
Masih dalam mode diam, Kenia mendekat hingga menyisakan jarak yang demikian dekat.
Dan...
Greppp!
Shaka menarik Kenia hingga terduduk di pangkuannya.
Memeluknya begitu erat dan menghujani Kenia dengan kecupan mesra.
"Sayang, hentikan ini di kantor." tolak Kenia.
Namun apalah daya, Shaka terlalu kuat memelukku hingga membuat ia diam tak berkutik.
Kenia merasakan hembusan nafas Shaka tepat berada di telinga, membuat bulu kudu nya merinding geli.
"Seperti ini, sebentar saja." Shaka menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kenia.
__ADS_1
"Tapi ini di kantor."
Bukan melepaskan Shaka justru beralih mencium bibir Kenia, ******* serta menjelajahinya.
**
Sisi lain, Ara sedang mencari-cari dokumen.
Yang bisa ia gunakan sebagai alasan agar masuk ke ruangan Shaka.
"Nah, ketemu. Hmmm aku nggak akan berhenti merayu pak Shaka. Cihhh!!"
Ada memoles kembali dempulnya, penampilannya harus sempurna dan menggoda. Setelah itu ia keluar ruangannya dan menuju ruangan Shaka.
Lama mengetuk pintu tak ada sahutan Ara pun membukanya.
Ceklekk!
Pintu terbuka disaat Shaka dan Kenia masih dalam mode berciuman membuat Ara seketika mengepalkan tangannya.
"Dasar perusak kesenangan." umpat Shaka.
"Dasar murahan, gak ada atitut berciuman di kantor." ucap Ara dengan santainya.
Ia nyelonong masuk dan menghempaskan kasar dokumen diatas meja kerja Shaka.
Kenia hanya diam dengan tatapan datar.
"Apa urusanmu, pergi sebelum saya marah!" perintah Shaka.
"Silahkan saja pak, tapi saya yakin pak Wira lebih membela saya nantinya." ungkap Ara penuh percaya diri.
"Peduli amat, atau kamu mau melihat aku dan istriku bercinta disini. Baiklah, tak masalah." Shaka mencium kembali bibir Kenia di depan Ara, jemarinya mulai menyusuri inci tubuh Kenia.
Dan itu berhasil membuat Ara kesal, ia pergi begitu saja.
"Sayang kamu tu yaaaa hmm." Kenia menjewer telinga suaminya.
__ADS_1
"Aaaampun little, aku hanya ingin..."
"Ingin apa??"
"Ingin makan bekalmu."Alibi Shaka.
Dengan senang hati Kenia mengambil bekal yang ia bawa tadi dan membukanya.
"Ayo makan?" ajak Kenia.
"Baiklah, tapi ada syaratnya."
"Apa."
"Ada deh, janji setuju." Shaka menaikkan kelingkingnya.
Rada susah membujuk Kenia untuk urusan ranjang, mesti dimanis-manisin dulu, di baik-baikin dulu dan di bujuk rayu.
"Okee, tapi habiskan makanannya." Kenia menautkan kelingkingnya ke kelingking milik Shaka.
"Janji." pinta Shaka
Kenia mengangguk, merekapun akhirnya sarapan bersama.
Meski menurut waktu, sudah tak pantas dianggap sarapan karena hari sudah menjelang siang.
"Ku ambilkan minum sayang." Shaka bangkit dan mengambilkan minum untuk dirinya dan Kenia setelah makan.
"Makasih sayang, sekarang katakan syaratnya apa." Tanya Kenia polos.
"Siniii." Shaka mengajak Kenia masuk ke dalam kamar.
Kenia menurut saja lalu mengekori suaminya.
Dan..
Shaka mengunci langsung pintu begitu mereka sudah berada di dalam kamar.
__ADS_1
"Kok di kunci sih yang." gerutu Kenia.
"Aku mau kamu." Shaka langsung membekap Kenia dengan ciuman.