
Tok..tok..tok..
Lama tak ada sahutan, Wina mencoba meraih handle pintu kamar Kenia dan membukanya.
Wanita paruh baya itu tersentak, segera ia menutup kembali pintu kamar Kenia takut jika anaknya bangun dan melihatnya.
Wina memutuskan turun menghampiri suaminya yang sedang berada di ruang tamu.
"Papa...." Wina memberenggut.
"Iya mah." sahut papa Ed tapi masih sibuk dengan koran bacaannya.
"Kenapa papa nggak bilang ke mama kalo Shaka sudah datang, kan mama jadi malu memergoki mereka tidur berpelukan." Keluh Wina dengan wajah ditekuk.
"Lohh, tadi mama kan gak nanya ke papa dulu, lagian mobil Shaka udah dari tadi di depan, pasti sudah dari siang dia disini." jelas papa Ed kemudian meletakkan korannya diatas meja.
"Iya mama kan nggak tau pah.Apa itu artinya kita akan segera punya cucu." ucap Wina berbinar.
"Berdoa saja mah, papa masih belum yakin Kenia sudah mencintai Shaka."
"Papa harus yakin, Shaka kan anak baik."
"Pah, mama masak dulu ya."
"Mah, kalau begitu bikinin kopi dong."
"Hm, yaudah deh pah. Mama bikinin kopi sekalian mau bantu bi Minah masak."
"Oke mamah sayang."
Wina segera membuatkan kopi untuk suaminya, setelah itu ia kembali lagi ke dapur untuk menyiapkan masakan untuk makan malam nanti.
Di kamar..
Kenia merasakan beban berat yang melingkar di perutnya, benar saja suaminya sedang terlelap sembari memeluknya begitu erat.
Segera ia mengindahkan tangan Shaka, namun ternyata suaminya itu justru semakin erat memeluknya.
"Kau sudah bangun sayang." ucap Shaka mengulas senyum.
Rupanya ia bangun lebih dulu dan pura-pura tidur saat Kenia mencoba melepas pelukannya.
"Hmmmm." Kenia hanya berdehem sebagai jawaban.
"Jangan marah, aku tau kamu kesal. Tapi jangan marah, maafkan aku little." bujuk Shaka.
Kenia tak bergeming, ia masih sangat kesal karena suaminya dan Ara, wanita yang terang-terangan mengibarkan bendera perang.
__ADS_1
"Maafkan aku." ucap Shaka lagi namun dengan suara lirih.
"Setidaknya, jika tak ingin aku marah. Harusnya kamu bisa kan mengirim pesan, aku nunggu kamu lo satu jam dua jam tiga jam, setengah hari. Tapi kamu nggak pulang-pulang, sedangkan papa bilang hanya satu jam."
"Aku bukan enggak percaya sama kamu, tapi kamu pergi sama Ara. Wanita yang selalu saja punya cara untuk menggodamu.
Apalagi tadi apaan, taksi susah? kenyataannya enggak." Kenia meluapkan kekesalannya.
"Maaf, karena tak mengabarimu. Tadinya aku ingin langsung pulang. Tapi banyak dokumen yang harus aku cek ulang."
"Jangan marah ya.." bujuknya lagi.
"Hmm, aku mau mandi." Kenia memilih meninggalkan Shaka dan berlalu ke kamar mandi.
Setelah selesai, Kenia keluar dengan kimononya.
"Mandi sana." titah Kenia pada sang suami.
"Maafin aku dulu, aku mau mandi jika kamu maafin aku dan nggak marah lagi."
Hmmm, bisa-bisanya kamu mengancamku sayang, oke kita lihat๐
"Terserah, kalo kamu nggak mandi nanti tidur di sofa ya."
"Ehh iya iya aku mandi sekarang." ucap Shaka kemudian berlalu.
Baginya tak masalah Kenia marah, asal masih mau di dekatnya.
Nanti jika rasa kesalnya sudah menghilang, ia akan kembali bersikap manis seperti biasa.
***
Akhirnya mereka berdua turun, dengan tangan yang bertaut menuju meja makan dimana mama dan papanya sudah menunggu disana.
Meski dalam hati Kenia masih sedikit kesal, namun ia tak ingin memperlihatkannya di depan mama dan papa.
"Malam mah pah." sapa Shaka dan Kenia serentak.
"Malam juga sayang, wah kalian kompak sekali." ucap Wina tersenyum.
"Mama bisa aja, btw mama masak spesial ya ini." puji Shaka.
"Iya mamamu sengaja karena kalian disini." sambung papa ed.
"Ayo makan, Ken sudah lapar ma, pa." ucap Kenia mengajak agar mereka segera menghentikan obrolan dan segera makan.
Kenia mengambilkan makanan untuk Shaka dan dirinya,begitu juga Wina.
__ADS_1
Shaka makan dengan lahap, ia sudah menahan lapar sebenarnya sejak tadi.
Namun itu tak penting, baginya yang terpenting adalah Kenia.
"Uhukkk..." Shaka hampir tersedak.
Kenia segera mengambilkan segelas air putih untuk suaminya.
"Pelan-pelan." ucap Kenia.
"Maaf, aku sangat lapar karena melupakan makan siangku, hingga aku tersedak." ucap Shaka jujur.
"Wah, jangan sampai melewatkan makan nak, gak baik buat kesehatan." ucao papa Ed, Shaka mengangguk tersenyum.
Kenia merasa bersalah, "Apa sikap kesalnya sudah keterlaluan."
Selesai makan, Kenia memutuskan mengajak suaminya mencari angin segar di taman rumahnya, sekaligus meminta maaf atas sikapnya yang masih begitu labil.
***
"Maaf." Kata itu keluar dari mulut Kenia setelah mereka sama-sama duduk di kursi taman.
"Untuk apa, aku yang harus minta maaf." jawab Shaka.
"Aku yang salah, aku nggak ngertiin kamu. Bahkan kamu melupakan makan siangmu." Kenia menunduk.
"Nggak gitu,tadi aku khawatir kamu kesal. Makanya begitu selesai aku segera pulang."
" Mana ponselmu." tanya Kenia.
Shaka mengingat-ingat kembali dimana ia menaruh ponselnya, " Astaga Ken, ponselku masih di kantor."
"Astaga sayang, hmmm."
"Tak apa, yang penting sekarang aku sama kamu. Gimana kalo kita honeymoon." ucap Shaka.
"Benarkah??? kemana?" Kenia begitu semangat.
"Kamu mau kemana ke luar negeri atau ke lombok? Bali?." tawar Shaka memberi pilihan.
"Kebetulan kita punya Villa di Bali, Kau mau kesana?"
"Iya kita ke Bali aja, gak usah jauh-jauh." ucap Kenia berbinar.
"Baiklah lusa kita berangkat." putus Shaka dan langsung mendapat pelukan dari Kenia.
***Hallo readers, jangan lupa like komen dan Vote ya agar aku semangat...
__ADS_1
terima kasih yang selalu setia mampir ๐***