MENIKAH Dengan Sepupu Kekasihku (MDSK)

MENIKAH Dengan Sepupu Kekasihku (MDSK)
Sadar


__ADS_3

Berjanjilah untuk tetap ada, dan tetap disisiku sekalipun aku harus menunggu..


Aku akan terus menunggu sampai kau menyambut lagi cintaku dengan senyummu, senyum yang begitu hangat, hingga diriku enggan melihat yang lain..


~Shaka ~


Setelah Radit datang, Shaka hampir tak lagi bisa mengontrol emosinya. Bukan cemburu, melainkan lebih ke marah, ia marah karena merasa Radit sengaja menghilang, padahal kenyataannya Radit memang tak tau jika Kenia melahirkan.


Beruntung Sam melerai keduanya dan meminta Shaka untuk menengok bayi kembarnya, kini laki-laki itu sedang membantu Dina mengurus bayi kembar juga bersama salah satu suster.


Oek.. oek...


Tangis bayi laki-laki pecah, Shaka mengambil alih dari gendongan suster.


Ia timang-timang, "Sayang, cup..cup..cup.. jangan nangis, anak ganteng, anak pinternya papa." bujuk Shaka.


Bayi itu seketika tenang, setelah di beri susu dan digendong papanya ia kembali tertidur pulas.


Shaka lega, ia melihat ke arah bayi perempuannya, menggeliat.


Sebentar lagi pasti bangun dan akan menangis.


Benar saja, bayi perempuannya menangis.


Oek.. oek.. oek..


"Sayang, cup cup cup, jangan nangis ya, papa disini."


Ia menimang sembari mengajak bayi perempuannya mengobrol, tadinya Dina hendak membantu, tapi Shaka ingin sekali menggendongnya.


Jika bukan ia, siapa lagi.


Bayi kembarnya pasti juga merindukan mamanya.


"Ka, sayang."


Dina menatap putranya prihatin,


Shaka mendongkak, " iya ma."


Senyum terpaksa menghiasi wajah lelahnya, Dina tau ini semua berat untuk anaknya.


"Kamu belum berencana memberi nama mereka," tanya mama Dina.


Ia melihat bayi kembar itu bergantian, seperti tau keinginan mamanya Shaka langsung menggeleng cepat.


"Aku harus nunggu Kenia sadar dulu ma, kami akan memberi nama untuk si kembar sama-sama.

__ADS_1


"Ka, jangan Egois." bentak mamanya dengan mata berkaca-kaca.


Ia sungguh kasian dengan si kembar yang belum bernama.


"Ma..." Shaka menjeda ucapannya.


"Terserah, Ka. Mama hanya enggak ingin cucu-cucu mama sedih." Dina menunduk.


***


Shaka meletakkan bayi perempuannya yang sudah tertidur.


Tampak seorang suster masuk, "Maaf pak Shaka, nona Kenia mulai menggerakkan tangannya, mungkin sebentar lagi akan sadar. saat ini sedang di periksa dokter Radit."


Shaka mematung sesaat, "Ma jaga si kembar ya." pintanya, butu-buru ia kembali ke ruang rawat Kenia.


Radit selesai memeriksa Kenia, "Kondisinya membaik sekarang." Radit menepuk pelan pundak Shaka.


Saat Shaka mendekat, menggenggam jemari Kenia.


Matanya mulai bergerak, kemudian perlahan Kenia sudah membuka mata, dan hal yang pertama kali ia lihat adalah suaminya.


"Sa--Sayang." lirihnya, suaranya hampir tak terdengar.


"Aku disini," Shaka mengecup punggung tangan Kenia, matanya berkaca-kaca.


"Mas Radit, kapan nikahnya?" Shaka langsung melirik ke arah Radit, Sedangkan Radit hanya nyengir kuda sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"A-anakku," Kenia memegangi perutnya, pandangannya mengedar ke seluruh ruangan.


"Si kembar mana?" lirihnya, mata Kenia sudah berkaca-kaca.


"Stttt, nanti aku bawa si kembar kesini, kamu tenang ya." pinta Shaka.


"Berapa lama aku tertidur?"


"Lama banget, aku jadi sedih."


"Syukurlah, kamu sudah sadar. Liat lah betapa jeleknya suamimu, ia terus merengek seperti anak kecil disampingmu, entah sudah berapa lama ia tak mandi." ejek Radit.


"Aku mandi kok, hanya saja aku malas." Elak Shaka, rambutnya berantakan, meski ia terlihat bersih dan tampan.


Kenia mengulas senyum, melihat mereka.


Seperti sebuah kelegaan dalam hatinya.


Kemudian suster masuk membawa bayi kembar Kenia bersama Dina.

__ADS_1


"Tante..." Radit langsung memeluk Dina, berbeda dengan wanita paruh baya itu. Ia langsung menarik kuping Radit, " Dasar ponakan nakal, kemana saja enggak pernah mengunjungi tante? apa sudah lupa sama keluargamu, hmm." omel Dina.


"Akhh ampun tante," Radit mengaduh sakit, namun dengan wajah nyengir.


***


"Ututut, lucunya anak kita." Kenia berbinar, melihat bayi kembarnya sangat imut dan lucu.


"Namanya siapa sayang?" tanya Kenia, ingin sekali ia menggendong bayi kembarnya, dokter bilang asinya belum keluar karena sempat tak sadarkan diri, ia hanya bisa pasrah! Mau gimana lagi.


"Aku menunggumu sayang, kita kasih nama bayi kita sama-sama," pinta Shaka.


"Aku akan memberi nama Zain alexan untuk putraku," Ia mengusap lembut pipi putranya yang udah mulai menggembul.


"Aku akan memberi nama putri kita Nora Lee alexan, apa kau setuju." tanya Shaka.


Kenia mengangguk setuju.


"Zain dan Nora anak kita, mereka akan menjadi anak hebat nantinya,"


**


"Kenia sayang, syukurlah kamu dah sadar nak." mama Wina menghambur memeluk.


"Mama, kangen." lirih Kenia.


"Selamat sayang, anak papa sudah jadi seorang ibu sekarang." Ed mengusap kepala Kenia.


"Makasih ma, pa."


***


"Cucu-cucu omaaa lucunya," Wina menggendong Nora, sedangkan Edward menggendong Zain.


Wira tidak bisa ikut menengok, karena harus mengurus perusahaan bersama Sam.


"Cantik kan Win, cucu kita." sambung Dina.


"Iya, dia mirip sekali sama mamanya waktu kecil." Din, kita punya cucu sekarang.


Kenia dan Shaka memandang hangat keluarganya, ia bahagia akhirnya Kenia sadar, bayi kembarnya juga sudah diberi nama. Bahkan mereka sangat bahagia dengan kehadiran Zain dan Nora.


"Maaf mengganggu, waktunya nona Kenia minum obat." Sela suster, ia berjalan masuk. Meletakkan obat dan air putih diatas nakas.


Suster itu pun membantu Kenia meminum obat, Kenia menurut demi kesembuhannya.


"Nona Kenia, akan lebih baik jika banyak mengkonsumsi buah agar asinya segera keluar, dokter juga sudah memberi obat pelancarnya, jika asi sudah keluar nona sudah boleh menyusui. Untuk sementara bayi kembar nona di bantu susu formula." jelas suster.

__ADS_1


"Baik sus, terima kasih."


"Permisi." suster membungkuk, lalu melenggang pergi.


__ADS_2