Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 101


__ADS_3

Matahari menyambut datangnya pagi. Pancaran sinar matahari pagi menembus masuk ke dalam celah-celah jendela.


Silaunya cahaya sang surya membuat Zira terbangun. Dia membuka matanya yang silau. Dia membalikkan badannya untuk menghindari tatapan Sang Mentari.


Ketika Zira membalikkan badannya, dia bertemu langsung dengan wajah suaminya. Ziko masih terlelap dengan lenanya.


Zira menatap wajah sang suami dengan lekat.


" Kamu cukup ganteng suamiku." Sambil cekikikan.


Zira memegang hidung Ziko yang mancung.


" Ini hidung mengalahkan hidung Pinokio." Ucap Zira lagi sambil memegang hidung suaminya masih dengan cekikikan.


" Nah ini nih bibir yang suka nyosor bibirku. Tipis juga seperti slice keju." Ucap Zira cekikikan.


Ziko mendengar semua ucapan istrinya. Dia membiarkan Zira melakukannya. Karena menurutnya lebih baik istrinya bawel daripada diam.


Zira hendak beranjak dari kasur. Tapi sebelum beranjak dia ingin mengecup dahi suaminya. Dia mengecup dahi Ziko dengan lembut. Setelah selesai dia ingin beranjak pergi tapi tangannya di tahan suaminya.


" Kenapa hanya itu. Kamu belum mencium yang lainnya." Ucapan Ziko mengangetkan Zira.


" Kamu sudah bangun?" tanya Zira gugup.


" Sudah dari tadi aku bangun." Ucap Ziko masih dalam keadaan berbaring.


" Ah untung aku tadi tidak berkata buruk tentangnya." Gumam Zira pelan.


" Cepat!" titah Ziko cepat.


" Apanya?" tanya Zira bingung.


Ziko menarik tangan Istrinya sehingga posisi badan Zira berada di atas dadanya.


" Kamu baru mencium dahi ku belum yang lainnya." Ucap Ziko sambil menunjuk kearah matanya.


Dengan cepat Zira langsung mengecup mata suaminya. Dia hendak bangkit dari posisinya tetapi suaminya masih menahan badannya. Dan Ziko menunjuk kearah hidungnya. Lagi-lagi dia mencium hidungnya. Dan sekali lagi Ziko menunjuk kearah bibirnya.


" Enggak aku tidak mau jigong mu bau." Zira menutup mulutnya.

__ADS_1


" Enak saja, jigong suamimu ini wangi surga tau!" Ziko memaksa istrinya untuk mencium bibirnya.


Dengan tidak rela Zira melakukannya, dia mengecup bibir suaminya.


" Kenapa hanya di kecup, aku mau kamu melakukannya sama persis dengan yang aku lakukan padamu." Ucap Ziko tegas.


Zira masih menimbang-nimbang mau melakukan atau tidak. Dia masih cukup malu untuk melakukannya. Akhirnya Zira melakukannya.


Zira mengakhiri ciuman itu. Dan dia hendak beranjak dari dada suaminya. Tapi lagi-lagi Ziko menahan badannya.


" Apa lagi kan udah?" Ucap Zira cepat.


" Mandikan aku." Ucap Ziko cepat.


Zira enggan melakukannya dia hanya diam tidak mengikuti suaminya yang telah berjalan ke kamar mandi.


" Cepat!" teriak suaminya.


Dengan langkah malas Zira mengikuti suaminya ke kamar mandi, dia memandikan Ziko seperti anak kecil.


" Terimakasih sayang." Ucap Ziko sambil mengelus rambut istrinya.


" Ih kenapa itu mengkerut begitu katanya kuat tujuh kali tiga kali tujuh." Goda Zira.


" Aku ada loh krim anti aging apa kamu mau?" Goda Zira lagi sambil cekikikan.


Ziko melotot ke arah Istrinya. Zira langsung menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkannya.


Setelah selesai memandikan bayi kolor Zira keluar dia mengganti pakaiannya yang basah. Ziko menghampiri istrinya yang sedang memakai baju.


" Apaan sih." Ucap Zira datar sambil memakai pakaian.


" Pakaikan aku baju." Ucap Ziko lagi.


Zira memijat dahinya, bayi di depannya sangat menjengkelkan.


" Mari bayiku." Ucap Zira sambil mengambil baju suaminya yang ada di lemari pakaian.


Ziko kembali menggoda istrinya, tapi Zira tidak menghiraukannya.

__ADS_1


" Sudah deh sudah cukup untuk hari ini. Aku lapar, apa kamu tega kalau sakit mag ku kambuh." Ucap Zira menghindari kegenitan suaminya.


Akhirnya Ziko mengenakan pakaian kerjanya. Setelah selesai mereka pergi ke meja makan.


Dia menarik salah satu kursi untuk di duduki istrinya.


Zira mengambil piring yang ada di hadapan suaminya. Dia menuangkan nasi dan beberapa lauk di dalam piring suaminya, kemudian meletakkan kembali piring tersebut ke meja.


Zira mengambil piring yang ada di depannya dan ingin menuangkan nasi ke dalam piringnya. Tapi tangan Zira di tahan sama suaminya. Dia menoleh ke arah suaminya.


" Kenapa?" tanya Zira masih dengan memegang centong nasi.


" Kamu lupa ya? kita kan seharusnya makan dalam satu piring." Ucap Ziko mengingatkan.


Zira meletakkan kembali centong nasi ke tempatnya. Dia mengambil piring yang ada di hadapan suaminya dan ingin menyuapi suaminya.


Ziko membuka mulutnya sambil memperhatikan istrinya, Zira melihat


sekeliling meja makan.


" Apa yang kamu cari? jangan bilang kamu mau menyuapiku pakai centong nasi." Gerutu Ziko cepat.


" Wah kamu masih ingat juga ya." Ucap Zira cekikikan sambil menikmati sarapannya.


" Kamu tau tidak sebenarnya aku enggak mau menyuapi kamu dengan centong tapi." Ucap Zira menggantung.


" Tapi apa." Tanya Ziko cepat.


" Tapi aku ingin langsung menjejali kamu dengan piring ini sekalian." Ucap Zira sambil merapatkan giginya.


Ziko membulatkan matanya ke arah istrinya. Zira langsung melakukan aksinya agar suaminya mulai melunak.


" Buka mulutnya." Ucap Zira.


Ziko membuka mulutnya dan dia memasukkan sendok ke dalam mulut suaminya.


" Good boy." Ucap Zira sambil mengelus rambut suaminya.


Zira merasa sedang menyuapi seorang bayi yaitu bayi kolor. Kolor apa? kolor ijo. Itulah julukan yang di berikannya.

__ADS_1


" Like komen dan vote yang banyak ya, terimakasih. "


__ADS_2