Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 452 (S2)


__ADS_3

Tidak terasa usia kandungan Zira sudah memasuki jalan sembilan bulan. Mereka mulai mempersiapkan segala keperluan untuk anak mereka. Dari pakaian sampai kamar.


Ziko dan Zira menggunakan jasa desain interior untuk mendesain kamar anaknya. Seperti jenis kelamin anaknya dia minta kamar anaknya untuk sementara jadi satu dan berwarna pink. Tapi Ziko masih berat kalau kamar anaknya di dominasi warna merah muda.


Perdebatan terjadi.


"Sayang aku tidak setuju kalau warna kamar anak kita merah muda, kesannya kamar anak kita seperti lolipop." Protes Ziko.


"Terus kamu mau warna apa?" tanya Zira.


"Warna biru putih."


"Warna biru putih ? kesannya kamar anak kita seperti seragam anak smp." Sindir Zira lagi.


"Tapi bagus sayang." Ucap Ziko.


Pemuda yang di sewa untuk mendesain kamar anaknya terlihat bingung, dia hanya bisa mendengarkan perdebatan suami istri itu.


"Aku enggak setuju, pokoknya warna merah muda titik sebesar gajah enggak pakai koma." Ucap Zira tegas.


"Maaf tuan sepertinya saya pulang dulu, nanti kalau sudah sepakat soal warna hubungi saya balik." Ucap pemuda itu.


"Iya kamu pulang saja nanti kami hubungi lagi." Ucap Ziko.


Pemuda tadi pergi meninggalkan kediaman rumah Zira dan Ziko. Mereka kembali berdebat.


"Sayang bagaimana kalau warna pink dan biru." Ucap Ziko.


"Enggak mau aku mau warna merah muda." Bik Inah masuk ke kamar calon anak Ziko dan Zira.


"Tuan nona, ada pak Kevin di depan." Lapor bik Inah.


"Suruh masuk bik." Ucap Ziko. Bik Inah keluar kamar dan kembali menghampiri Kevin. Kevin langsung masuk ke kamar yang di sebutkan bik Inah. Dia mendengar perdebatan kecil Ziko dan Zira.


"Siang tuan." Sapa Kevin.


"Siang, Vin menurut kamu warna apa yang cocok untuk kamar anak kami kelak?" tanya Ziko kepada asistennya.


"Jenis kelaminnya apa." Tanya Kevin.


"InsyaAllah cewek." Ucap Zira.


"Oh kalau cewek bagusnya warna kuning." Ucap Kevin.


"Kuning bau tau." Gerutu Zira.


"Bukan kuning itu nona, ini kuning telur." Ucap Kevin.


"Nanti di kombinasi warna putih dan hitam." Ucap Kevin.

__ADS_1


"Ye itu namanya telur mata sapi lagi di goreng di wajan." Gerutu Zira.


"Hahaha, kok nona tau." Ucap Kevin sambil dengan gelak tawanya.


"Itu mah kecil bagiku, pokoknya aku mau warna pink." Ucap Zira ngotot.


"Sayang, kita ambil jalan tengah bagaimana kalau warna pelangi sama seperti warna mobil kamu." Ucap Ziko.


"Aha, aku setuju. Hubungi kembali pria itu, suruh mendesain secepatnya." Ucap Zira. Ziko menghubungi kembali pria yang akan mendesain kamar anak mereka. Dalam sekejap pria itu langsung tiba.


"Untung saya belum jauh." Ucap pria itu.


"Bukan rugi." Sindir Zira.


Pria itu hanya mengerutkan dahinya.


"Jadi keputusannya warna apa?" tanya pria itu.


"Pelangi." Jawab Ziko dan Zira kompak.


"Yakin?" tanya pria itu lagi.


"Yakin." Ziko dan Zira mengatakan bersamaan.


"Enggak pingin warna lampu lalu lintas?" tanya pria itu.


"Hei! kenapa kamu mengajukan pertanyaan seperti itu? kamu ingin menggoyahkan pendirian kami." Ucap Zira sewot.


"Kamu jangan emosian, ingat kalau kamu emosi nanti anak kita akan temperamental." Ucap Ziko mengingatkan istrinya. Zira baru sadar, dia menghembuskan nafasnya secara berulang.


"Tuan saya mau bicara." Ucap Kevin. Ziko meninggalkan istrinya yang sibuk mengatur pernapasannya.


"Ada apa?"


"Kemaren pengacara nona Zira mencoba menghubungi tuan tapi ponsel tuan dan nona Zira tidak aktif, kebetulan saya belum berangkat kerja. Pengacara itu mau mengatakan kalau keluarga nona Zira dalam dua hari mau datang." Jelas Kevin.


"Dua hari lagi? istriku mau melahirkan Vin. Aku khawatir pertemuan istriku dengan keluarganya akan mengganggu proses melahirkan istriku." Jelas Ziko.


"Apa tuan tidak mau memberitahukan hal ini sama nona Zira." Ucap Kevin.


"Vin, coba kamu bayangkan."


"Tunggu tuan, saya belum bisa membayangkannya." Jawab Kevin.


Ziko langsung menendang kaki asistennya.


"Aku lagi serius Vin." Gerutu Ziko.


"Saya hanya mencairkan suasana saja." Ucap Kevin dengan gelak tawanya.

__ADS_1


"Jangan sekarang Vin, sebentar lagi istriku mau melahirkan. Apa dia harus di pusingkan dengan masalah harta warisan. Aku enggak mau pikiran istriku terpecah dengan warisan ini. Biarkan dia fokus melahirkan anak kami." Jelas Ziko.


"Saya setuju, kalau tuan tidak mau mengatakan hal ini sama nona Zira itu hak tuan, tapi ada baiknya kalau tuan memberitahukan hal ini sama pengacara nona Zira."


Ziko menimbang omongan asistennya.


"Baiklah, sepertinya kita langsung ke kantornya saja." Ucap Ziko.


Kevin setuju dan menganggukkan kepalanya cepat. Ziko pamit sama istrinya untuk pergi sebentar dengan Kevin. Dan Kevin menyuruh Menik untuk menemani Zira.


Mobil sudah melaju meninggalkan kediaman Ziko menuju kantor pengacara. Sesampai di sana Ziko dan Kevin tidak di izinkan masuk dengan alasan kalau pengacara sudah pulang, tapi Ziko ingat dengan plat mobil pengacara senior itu.


"Saya tau kalau bapak pengacara ada di dalam, sampaikan kepadanya sekarang kalau suami Zira datang." Ucap Ziko.


Seorang wanita yang berada di meja resepsionis mencoba menghubungi salah satu nomor yang menurut Ziko nomor itu ekstension untuk ruangan pengacara itu.


Wanita itu berbicara dengan seseorang, kemudian meletakkan gagang telepon.


"Bapak bisa masuk, beliau ada di lantai tiga." Ucap wanita itu.


Ziko dan Kevin langsung menuju lantai tiga dengan lift. Setelah sampai di lantai tiga dengan gampang mereka menemukan pengacara senior itu. Karena pria paruh baya itu sedang berbicara pada beberapa juniornya.


"Selamat sore pak Ziko, mari masuk." Ucap pria paruh baya itu ramah sambil mempersilahkan tamunya masuk ke dalam ruangannya.


"Silahkan duduk." Ucap pria paruh baya itu lagi.


Ziko dan Kevin duduk.


"Bagaimana keadaan tuan dan nona Zira?" tanya pengacara senior itu lagi.


"Kami dalam keadaan sehat, maksud kedatangan saya ke sini mau membicarakan masalah kedatangan keluarga istri saya." Ucap Ziko langsung.


"Silahkan." Ucap pengacara.


"Menurut informasi yang saya dapat dalam dua hari keluarga istri saya datang, apa itu benar?"


"Saya dapat kabar dari mereka dalam dua hari datang dan mau bertemu Zira di kantor ini." Ucap pengacara.


"Begini, kondisi istri saya sekarang sedang menunggu hari untuk melahirkan. Saya minta kepada bapak untuk tidak mempertemukan istri saya dengan keluarganya dulu, apa lagi membicarakan masalah warisan, biarkan istri saya melahirkan dulu dan sehat, baru masalah itu di bicarakan." Jelas Ziko.


"Saya lupa kalau nona Zira sedang hamil. Baiklah untuk masalah ini akan saya tunda tapi kalau keluarganya mau ketemu apa harus di tunda juga." Ucap pengacara.


Ziko tidak ada pilihan lain untuk menceritakan tentang masalah yang di alami asistennya selama di luar negeri. Pria paruh baya itu mendengarkan dengan seksama.


"Apa tuan ada bukti kalau mereka melakukan hal itu?" tanya pengacara. Ziko hanya menunjukkan foto yang di kirimkan Kevin kepadanya.


"Maaf tuan, ini belum bisa di jadikan bukti. Begini saja, nona Zira klien kami, kalau tuan merasa itu sebagai ancaman kita akan menutup identitas nona Zira sampai waktu yang memungkinkan." Ucap pengacara.


Ziko setuju dengan ide pengacara itu. Lebih baik identitas istrinya tidak di ketahui keluarganya untuk keselamatan nyawa istri dan anaknya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2