
Acara akad nikah telah selesai. Para hadirin sudah banyak yang meninggalkan tempat akad nikah. Keluarga Raharsya kembali ke kamar hotel masing-masing. Mereka sengaja memesan beberapa kamar untuk acara itu.
Karena dari hotel ke tempat diadakannya resepsi cukup dekat. Jadi untuk menghemat waktu mereka menginap di hotel. Keluarga Kevin juga menginap di hotel. Begitupun dengan Jasmin dan kedua orang tuanya.
Acara resepsi akan di adakan jam tiga sore sampai jam enam sore. Pihak wedding organizer telah menyewa taman untuk satu hari.
Karena resepsi jam tiga sore mereka bisa memanfaatkan untuk beristirahat. Pasangan pengantin masuk ke dalam kamarnya. Ini pertama kalinya Menik satu kamar dengan pria.
Dia duduk di pinggir kasur sambil menundukkan kepalanya. Kevin menghampirinya dan duduk di sebelah istrinya.
"Kamu kenapa." Ucap Kevin.
"Malu." Jawab Menik singkat.
"Kenapa harus malu, kita sudah saling mengenal satu sama lain. Jadi tidak perlu malu ataupun sungkan." Ucap Kevin sambil memegang dagu istrinya. Kevin mengangkat dagu istrinya.
"Boleh aku menciummu?" tanya Kevin.
Menik menganggukkan kepalanya pelan. Karena sudah dapat izin dari istrinya. Kevin mencium lembut bibir istrinya. Dan Menik membalas ciuman itu. Sampai mereka berhenti karena ada yang menggedor pintu kamar mereka.
"Siapa sih." Gerutu Kevin sambil melihat dari lubang yang ada di atas pintu. Tidak ada seorangpun di depan pintu kamarnya.
"Siapa?" tanya Menik.
"Enggak tau, mari kita lanjutkan." Ucap Kevin sambil membuka setelannya.
"Kenapa di buka?" tanya Menik lagi.
"Hemmm kita kan sudah halal, waktu juga masih lama. Bagaimana kalau kita main pijat-pijatan." Ucap Kevin genit.
Pipi Menik langsung merona malu. Tapi Kevin sudah membuka bajunya. Menik terpesona melihat bentuk kotak-kotak di badan suaminya. Kevin mau naik ke atas kasur tapi pintu di gedor lagi.
"Kurang ajar." Ucap Kevin marah sambil langsung membuka pintu.
"Suprise." Ucap Zira dan Ziko.
"Nona dan tuan ngapain di sini." Ucap Kevin bingung.
Zira dan Ziko tidak menjawab pertanyaan Kevin. Mereka langsung masuk ke dalam kamar pengantin baru.
"Sayang kalau aku perhatikan mereka belum melakukannya." Bisik Ziko.
"Dari mana kamu tau." Bisik Zira lagi.
"Coba kamu perhatikan sanggul si Menik masih seperti keong kalau rambutnya udah seperti sapu ijuk pasti udah gol. Jadi menurutku yang kegatelan di sini si Kevin." Bisik Ziko lagi.
"Mirip sama kamu, yang genit pertama kali siapa." Bisik Zira.
Kevin dan Menik memperhatikan pasangan double Z.
"Tuan dan nona yang terhormat apa kalian ke sini hanya mau berbisik terus." Sindir Kevin.
Ziko dan Zira tidak berbisik lagi. Mereka memandang pengantin baru itu.
"Sayang apa ada warna lipstik seperti punya Kevin." Sindir Ziko.
Mendengar itu Kevin buru-buru mengusap bibirnya. Menik pun sama dia mencoba melihat penampilannya di depan cermin.
__ADS_1
"Kami mau tidur di sini." Ucap Zira santai sambil naik ke tempat tidur pengantin baru.
"Nona bukannya kamar kalian ada." Ucap Kevin.
"Memang ada tapi kami ingin tidur di sini, hitung-hitung patroli." Ucap Zira santai sambil melipatkan kedua tangannya dan meletakkan di belakang kepalanya.
Zira dan Ziko memang berniat mengerjai Kevin. Mereka mau merecoki kemesraan Kevin.
"Tuan dan nona jangan seperti itu. Waktu kalian nikah saya tidak merecoki kalian." Ucap Kevin memelas.
"Siapa suruh enggak direcokin." Timpal Ziko.
Ziko duduk di sebelah istrinya sedangkan pengantin baru itu berdiri menyaksikan keduanya.
"Vin, celananya enggak di buka." Sindir Ziko. Kevin baru sadar, dia buru-buru memakai yang ada. Karena pakaiannya berada di lantai dia hanya mengambil yang dekat dengannya. Kevin menutupi tubuhnya dengan selendang Menik.
"Hahaha, aku ingat selendang ingat nenekku." Ucap Zira tertawa.
Kevin melepaskan selendang Menik dari tubuhnya. Dia menutupi tubuhnya di belakang Menik.
"Nik, nanti malam hati-hati ya." Ucap Zira menakuti.
"Memangnya kenapa?" tanya Menik bingung.
"Awas di seruduk banteng." Ucap Zira sambil menunjuk Kevin. Menik melihat ke arah suaminya sambil melihat bagian juniornya Kevin.
"Apa punya kamu sekuat banteng." Bisik Menik.
"Iyalah sekuat banteng sepanjang gagang sapu." Bisik Kevin.
Menik mengerutkan dahinya.
"Kalau kuat mungkin tapi kalau panjangnya yang aku takut. Kenapa bukan sepanjang galah biar lebih serem." Bisik Menik.
"Hello, pengantin baru. Ada masalahkah." Ucap Zira jahil.
"Iya non, aku takut kalau di seruduk." Ucap Menik jujur.
"Makanya jangan pakai warna merah." Ucap Zira cepat.
"Oh gitu." Ucap Menik.
"Jangan seruduk aku, kamu hanya boleh menyeruduk kalau aku pakai dalaman warna merah." Ucap Menik pelan.
"Lalu kapan aku bisa menyerudukmu." Rengek Kevin.
"Kalau aku lagi palang merah." Ucap Menik cepat.
"Palang merah apa?" Tanya Kevin lagi.
"Palang merah maksudnya mens atau datang bulan." Ucap Menik pelan.
"Itu sama saja kita tidak menikah." Gerutu Kevin
"Hello apa yang di ributkan." Ucap Zira.
"Paling-paling masalah ini." Ucap Ziko menunjuk hidungnya.
__ADS_1
"Lubang hidung kok di permasalahkan. Masing-masing punya dua. Apa masih kurang? Ni aku kasih mau?" Ucap Zira.
"Apa?" tanya Kevin bingung.
"Taik hidung." Ucap Zira.
"Buahahaha." Ziko tertawa Menik pun ikut tertawa.
Pintu kamar Kevin di ketuk. Dia buru-buru membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Kevin.
"Kami mau merias pengantin wanita." Ucap MUA.
Kevin melihat jam di tangannya.
"Ini kan masih jam satu, acaranya masih dua jam lagi." Ucap Kevin kesal.
"Iya acara memang dua jam lagi tapi merias pengantin wanita membutuhkan waktu yang lama." Ucap perias.
"Siapa Vin." Ucap Ziko berdiri di samping asistennya.
"Sayang sudah waktunya kita keluar." Teriak Ziko. Dia paham kalau yang berdiri di depan pintu para perias. Jadi menurutnya Kevin tidak akan bisa membobol gawang siang hari. Karena sudah ada pengganggu lain.
Zira beranjak dari kasur dan menghampiri kedua pria itu.
"Vin siap-siap. Nanti malam aku pastikan pasukan Avengers akan patroli." Ucap Zira mengingatkan.
Zira dan Ziko sudah meninggalkan kamar pengantin. Dan di gantikan para perias. Kevin menggerutu padahal dia sudah sangat kebelet.Tapi karena ada pengganggu aksinya gagal dan sekarang datang pengganggu baru.
Para perias mulai merias Menik. Kevin menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur. Sambil memperhatikan kado yang tersusun rapih di pinggir ruangan.
"Kado dari siapa itu?" tanya Kevin.
"Enggak tau." Jawab Menik.
Kevin turun dari kasur dan membaca salah satu nama pengirim.
"Natasha, kamu punya teman nama natasha?" Ucap Kevin.
"Enggak." Jawab Menik singkat.
"Dari nona Zira mana?" tanya Kevin lagi.
"Itu yang di bungkus batik." Jawab Menik sambil menunjuk kado pemberian Zira.
Kevin menggoyang-goyangkan kado pemberian Zira.
"Ringan, apa isinya." Ucap Kevin ingin membuka kado pemberian Zira.
"Jangan di buka dulu. Kata nona Zira di buka bersama-sama." Ucap Menik.
Kevin meletakkan kembali kado dari Zira. Dia memilih untuk tidur sedangkan Menik sedang di rias pengantin.
Bersambung.
Apa isi kado dari Zira? Penasaran?
__ADS_1
Jangan lupa vote yang banyak untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse"