
Serangakaian acara akad nikah telah di laksanakan. Ziko dan Zira berniat kembali ke kamar hotel. Semenjak statusnya naik jadi suami, Ziko jadi sedikit genit dan lebih posesif.
Mereka sudah sampai di dalam kamar hotel. Ziko membuka pintu kamar hotel dan tangannya masih tetap memeluk pinggang istrinya.
" Tuan sudahlah tidak usah perlakukan ku seperti ini, malu tau dilihat orang." Ucap Zira.
" Kenapa harus malu kita kan sudah menikah sudah sah tau." Ucap Ziko dengan senyum menyeringai.
" Cih belum nikah saja udah genit sekarang apalagi, bisa habis ini mahkotaku." Gumam Zira pelan sambil melihat bagian mahkotanya.
Ziko duduk di kasur bersandarkan pada head board dengan kedua kaki di luruskan di atas kasur. Zira masih berdiri mematung melihat dia di dalam kamar berdua sama suaminya.
" Istriku mari duduk disini." Ucap Ziko sambil menepuk kasur.
Zira yang mendengar sebutannya telah berganti ada sedikit takut yaitu takut akan malam pertama. Dia masih dengan posisi berdiri dia tidak mau duduk di kasur bersama suaminya.
" Pasti pikirannya sudah di penuhi setan, tadi saja sudah tanya jamu segala." Gumam Zira pelan.
" Ayolah istriku." Rayu Ziko lagi.
Zira memikirkan sesuatu yaitu kopernya.
" Tuan mana koperku." Tanya Zira cepat.
" Tuan-tuan aku ini bukan majikan mu, aku ini suamimu ingat itu." Bentak Ziko.
Zira mengangguk mengerti karena mereka sudah menjadi pasangan suami istri jadi tidak mungkin dia memanggil Ziko dengan sebutan tuan.
" Cepat sini kalau tidak nanti kamu di kutuk sama malaikat. Belum juga satu hari nikah kamu udah buat dosa." Ancam Ziko sedikit berteriak.
Zira langsung naik ke atas kasur merangkak menuju tempat Ziko. Dengan Zira merangkak otomatis gunung kembar Zira kelihatan dari balik kebayanya.
Ziko menelan salivanya berulang-ulang. Zira duduk di sebelah suaminya. Ziko langsung memeluk istrinya dengan kedua tangannya.
" Hey tuan kamu mau apa." Tanya Zira gugup.
" Sudah aku bilang jangan panggil aku tuan, panggil aku dengan sebutan yang romantis." Ucap Ziko masih dengan memeluk istrinya.
__ADS_1
Zira berusaha untuk mendorong tubuh suaminya, tapi tenaga Ziko sangat kuat.
Ini orang tenaganya kayak banteng, duh apalagi ubi kayunya apa juga sekuat banteng.
Zira mencoba mengalihkan agar bisa terlepas dari pelukan.
" Baiklah bagaimana kalau aku panggil dengan sebutan suamiku." Ucap Zira manja.
Ziko diam sebentar.
" Yang lain." Ucap Ziko masih dengan memeluk Zira.
" My hubby." Ucap Zira lagi.
" Enggak, aku tidak mau kebarat-baratan." Ucap Ziko ketus.
" Jadi apa." Ucap Zira sewot.
Ziko menggelengkan kepalanya.
" Aha aku tau sebutan untuk kamu yaitu ubi kayu." Ucap Zira cekikikan.
Nah mulai nih mulut main serobot aja kayak lagi demo saja.
" Terus aku panggil apa." Tanya Zira lagi.
" Sudah panggil saja sayang beb." Ucap Ziko cepat.
" Beb kan juga kebarat-baratan." Protes Zira.
" Alah ya udah panggil saja sayang. Jangan bilang lagi sayang itu kebarat-baratan." Ucap Ziko ketus.
Sayang sayang sayang kepala lo peyang.
Ziko masih dengan posisi kedua tangan di badan Zira dan mulut sudah mulai demo ke sana kemari. Zira mencari alasan lagi.
" Tuan mana koper ku eh salah." Ucap Zira sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
" Sayang mana koperku." Ucap Zira sedikit manja.
" Enggak usah pikirkan masalah koper segala aku lebih senang kamu tidak memakai apapun." Ucap Ziko sambil tersenyum genit.
" Sayang koper itu di dalamnya ada pakaian dalam ku." Ucap Zira cepat.
" Enggak usah pikirkan pakaian dalam, aku lebih suka kamu tidak pakai apapun tapi kalau kamu tetap mau pakai, kamu boleh gabung denganku dalam satu CD, dengan senang hati aku terima." Ucap Ziko sambil tertawa.
Zira mendengar ucapan Ziko langsung tak bisa tenang.
Aduh jebol kayaknya nih gawang ku.
Zira berusaha untuk mengalihkan arah pembicaraan suaminya.
" Ya sudah kalau kamu tidak mau beritahu dimana koperku, aku akan tanya Kevin saja pasti dia tau." Ucap Zira cepat.
Zira hendak turun dari kasur tapi di tahan Ziko.
" Iya aku akan tanya kevin." Ucap Ziko sambil mengambil ponselnya.
Ziko menghubungi nomor Kevin dalam beberapa detik panggilan itu terjawab. Dia menanyakan tentang koper sama asistennya. Setelah mengetahui keberadaan koper Ziko mengakhiri panggilannya.
" Koper mu ada di mansion." Ucap Ziko sambil meletakkan ponselnya di nakas.
" Karena kamu sudah tau keberadaan koper mu jadi bisalah kita melakukan jurus kung Fu di sini satu ronde saja." Ucap Ziko pelan.
Zira langsung memundurkan kepalanya kebelakang begitu mendengar ucapan suaminya.
Zira memikirkan satu cara agar tidak ada jurus kungfu di kamar hotel itu.
" Sayang aku lapar." Ucap Zira manja.
" Ini pasti alasan kamu kan agar kamu tidak kena jurus kungfu ku." Ucap Ziko sewot.
" Enggak kok kan kamu tau kalau aku ada sakit mag jadi kalau lapar langsung makan." Ucap Zira menjelaskan.
Ziko mengerti dengan penjelasan istrinya walaupun dia ingin melakukan satu jurus kung Fu tapi dia tidak mungkin membuat istrinya sakit karena mengikuti nafsu kungfunya.
__ADS_1
Ziko menghubungi pihak hotel untuk mengantarkan makanan ke kamarnya. Dalam beberapa menit pihak hotel telah datang dengan membawa makanan yang dipesannya.
" Halo readers bagi yang sudah baca jangan lupa like dan komen ya, dan jangan lupa juga untuk vote agar novel favorit kalian bisa masuk 10 besar, Terimakasih. "