Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 427 (S2)


__ADS_3

Ziko sudah selesai meeting, dia tidak menemukan keberadaan sekertarisnya.


"Coba hubungi si Koko. Di suruh cari sawah yang memelihara belut malah enggak nongol." Gerutu Ziko.


"Baik tuan." Jawab Kevin.


Kevin menghubungi nomor ponsel Koko, dia menghubungi secara berulang.


"Tuan panggilan saya masuk tapi tidak di angkat."


"Di kasih kerjaan malah kabur." Gerutu Ziko. Tidak berapa lama pintu di ketuk.


"Masuk." Perintah Ziko.


Koko masuk dengan pakaian dan wajah yang basah. Dan di tangannya ada kantong plastik.


"Kamu dari mana saja." Tanya Ziko.


"Ini tuan." Ucap Koko sambil menyerahkan kantong plastik hitam kepada bosnya. Ziko menerima plastik itu, dia kaget.


"Busyet ular." Ziko menjatuhkan kantong plastik itu, otomatis belut pada keluar dari dalam kantong.


Kevin pun ikut kaget, keduanya spontan lompat.


"Tuan ini belut yang anda minta." Ucap Koko.


"Aku pikir ular, kenapa pakai kantong plastik warna hitam." Ucap Ziko menyalahkan Koko.


"Itu kantong dari sana tuan." Jawab Koko.


"Ya udah cepat ambil belut itu." Perintah Ziko.


"Siapa tuan." Tanya Kevin.


"Dua-dua." Ucap Ziko. Kevin menggulung lengan kemejanya. Begitupun dengan Koko. Mereka berburu belut di dalam kantor.


"Tuan susah nangkapnya." Ucap Kevin.


"Iya bos licin." Jawab Koko juga.


"Enggak mau tau pokoknya belut itu tidak boleh mati." Ucap Ziko. Koko membeli tiga ekor belut. Karena tidak bisa menangkap akhirnya Koko menangkapnya dengan sepatunya.


Beda halnya dengan Koko, Kevin membuka kaos kakinya, dia memasukkan tangannya ke dalam kaos kaki. Otomatis dia dapat menangkap dua ekor belut sekaligus.


Ziko menyerahkan kantong plastik kehadapan Kevin dan Koko. Kedua pria itu memasukkan hasil buruannya ke dalam kantong plastik.


"Kalau sampai istriku protes kalian berdua harus tanggung jawab." Ucap Ziko.


"Protes kenapa tuan." Tanya Kevin bingung.


"Istriku itu sangat peka indera perasa dan penciumannya. Kalau sampai bau amis berubah jadi bau kaki. Kalian tanggung jawab." Ucap Ziko.


"Baik tuan kami akan menjawab seadanya." Ucap Kevin.


"Ayo kita balik, aku mau masak untuk istriku. Dan kamu Ko, urus ruangan ini pastikan lantainya kering." Perintah Ziko.


Kevin dan Ziko sudah keluar dari gedung. Mobil sudah melaju ke jalanan. Baru setengah perjalanan ponsel Kevin berbunyi.


"Halo." Ucap Kevin. "Baik aku akan menghubunginya."


"Siapa." Tanya Ziko.


"Koko."Jawab Kevin.

__ADS_1


"Kenapa lagi dia." Tanya Ziko.


"Kata Koko tadi waktu meeting, Menik menghubunginya. Kalau sore ini, kami ada jadwal fitting baju pernikahan."


"Jadi juga kamu kawin." Ejek Ziko.


Kevin tidak menjawab, dia hanya tersenyum. Mobil sudah sampai di kediaman Ziko dan Zira. Ziko membawa kantong yang berisi belut kehadapan istrinya.


"Sayang lihat ini." Ucap Ziko menghampiri istrinya di ruang keluarga.


"Apa ini." Tanya Zira.


"Belut." Timpal Kevin.


Zira memandang wajah suaminya dan penampilannya lalu melihat ke arah Kevin.


"Pasti bukan kamu yang cari belut ini." Ucap Zira langsung.


"Bukan nona, yang mencari Koko, tuan hanya menumpahkan saja." Sindir Kevin.


"Tumpah? Kok bisa tumpah?"


Kevin menceritakan kejadian yang terjadi di dalam ruangan presiden direktur.


"Oh gitu." Zira mengambil kantong yang berisi belut itu dan hendak membawanya ke dapur.


"Kamu jangan banyak bergerak, biar aku yang menyerahkan sama bik Inah." Ucap Ziko.


"Jangan lupa yang masak harus kamu bukan bik Inah." Zira teriak sedikit karena suaminya sudah ke dapur.


Ziko menyalin bajunya dan mengganti dengan celana pendek dan kaos oblong.


"Sayang yang membunuh belut ini siapa." Teriak Ziko dari dapur.


"Enggak boleh non, tuan muda tidak boleh membunuh belut ini. Karena nona lagi hamil." Ucap bik Inah.


"Kenapa bik." Tanya Zira bingung.


"Konon kata orang tua dulu, selama istri hamil suami tidak boleh membunuh hewan yang masih hidup, nanti anaknya bisa seperti hewan yang di bunuh itu." Ucap bik Inah menjelaskan.


Ziko dan Zira langsung bergidik bulunya.


"Vin, sini." Teriak Ziko.


Kevin datang ke dapur. "Iya tuan." Ucap Kevin.


"Bunuh belut ini." Perintah Ziko.


"Kok saya." Ucap Kevin bingung.


"Lalu siapa yang mau bunuh, istriku hamil. Kata bik Inah enggak boleh, benar kan bik?" Ucap Ziko senang karena dia terbebas dari pekerjaan itu.


"Iya enggak boleh." Jawab bik Inah.


Kevin mendengus kesal, menurutnya kedua kalinya Zira hamil, dan kedua kalinya dia yang repot.


"Vin kalau kerja itu yang ikhlas jangan gerutu." Sindir Ziko.


"Habis kalau nona Zira hamil selalu menyusahkan." Gerutu Kevin.


"Enak aja menyusahkan." Ucap Zira sambil memukul lengan Kevin.


"Sudah kerjakan saja, nanti kalau istrimu hamil, aku bantu." Ucap Ziko.

__ADS_1


"Bantu apa." Tanya Kevin.


"Bantu doa, hahaha." Ucap Ziko sambil tertawa.


Walaupun menggerutu Kevin tetap melakukannya.


Dia mengikuti instruksi dari bik Inah. Setelah selesai di ambil oleh Ziko. Dia mengerjakan sesuai instruksi bik Inah juga. Sedangkan Zira menunggu di meja makan.


Setelah beberapa menit menunggu belut krispi. Akhirnya makanan selesai. Ziko datang ke ruang makan seperti ala-ala seorang chef.


"Silahkan di nikmat." Ucap Ziko sambil meletakkan sepiring belut krispi dan nasi putih.


Tanpa mau menunggu lama Zira langsung mencicipi belut hasil olahan suaminya. Dia mengecap-ngecap rasanya.


Ziko dan Kevin saling pandang. Mereka khawatir kalau Zira komplain.


"Hemmm rasanya seperti ikan, baunya." Belum selesai Zira mengucapkan kalimatnya sudah di potong Ziko.


"Kaki." Ucap Ziko cepat.


Zira meletakkan belut itu kembali, dia mulai curiga sambil melihat kedua pria di depannya.


"Bagaimana cara kamu menangkap belut ini ketika di kantor, belut ini kan licin tidak mudah untuk menangkapnya." Ucap Zira.


"Pakai kaos kaki." Ucap Kevin jujur.


Mendengar kata kaos kaki Zira langsung mual, dia memuntahkan semuanya di kamar mandi.


"Kamu si Vin, kenapa harus bilang pakai kaos kaki." Ucap Ziko menyalahkan asistennya.


"Lah tuan sendiri yang bilang kalau bau kaki. Pasti nona Zira curiga. Makanya saya jujur." Ucap Kevin.


"Iya juga, tapi ada bagusnya. Aku enggak mau jigong anakku bau kaki kalian berdua." Ucap Ziko.


Zira kembali duduk di kursi makan.


"Aku enggak mau makan lagi." Ucap Zira.


"Ya udah kita buang aja." Ucap Ziko cepat.


"Jangan di buang, kalian berdua harus menghabiskan belut ini." Perintah Zira.


"Tapi kan bau." Rengek Ziko.


Sebenarnya belut itu tidak ada bau sama sekali, malah lebih dominan rasa bumbunya. Tapi karena Ziko langsung bilang bau kaki, otomatis Zira langsung mual. Jadi dia berniat mengerjai keduanya.


"Sayang anak kita yang minta loh." Ucap Zira manja.


"Selamat." Ucap Kevin.


"Om Kevin, keponakan kamu baru bilang kalau kamu juga ikut makan." Ucap Zira lagi.


"Ah nona mengada-ngada mana mungkin anak bayi dalam perut bisa bicara." Ucap Kevin menolak.


"Makan cepat, ini semua karena ulahmu. Kalau sampai mulutku kutu air seperti kakimu, awas." Ucap Ziko.


"Ye tuan, kaki saya wangi tau. Mana ada kutu air tapi yang ada kutu darat." Jawab Kevin.


Bersambung.


Next episode kita langsung lompat ke acara pernikahan Kevin dan Menik. Penasaran dengan pesta pernikahan mereka? Buruan vote sebanyak-banyaknya.


"Love of a Nurse" Menceritakan seorang perawat yang akan jatuh cinta kepada seorang pria, siapa pria itu? Silahkan mampir ya

__ADS_1


__ADS_2