
Dengan hati yang dongkol Menik keluar dari ruangan Kevin.
" Kenapa sih? Kemaren bersikap manis samaku, tapi pagi ini langsung bersikap dingin. Kayak bunglon aja." Gumam Menik pelan.
Menik teringat sesuatu tentang ucapan adiknya, Kalau Kevin akan mencari wanita lain karena sudah di tolaknya.
" Apa sikap dinginnya termasuk dari awal dia akan berpaling. Oh tidak, kenapa aku jadi resah begini." Gerutu Menik.
Dari jauh Menik melihat dua orang datang berdampingan yaitu Bapak dan anak.
" Aku harus mengatakan kepada Pak Kevin." Ucap Menik sambil berlari ke depan ruangan Kevin.
Dia mengetuk pintu ruangan itu secara berulang-ulang.
" Masuk." Ucap Kevin sedikit berteriak.
Menik langsung membuka pintu itu dan masuk secepatnya.
" Ada apa? Bukannya tadi sudah saya bilang kalau saya tidak butuh apapun lagi." Ucap Kevin ketus.
" Idih Bapak tenang dulu, siapa lagi yang mau menawarkan Bapak sesuatu. Saya itu cuma mau bilang bos besar dan Eyang bos datang." Ucap Menik cepat.
" Eyang bos? Maksud kamu tuan Ziko?" tanya Kevin.
" Iya tuan Ziko dan Bapaknya datang." Ucap Menik cepat.
" Pasti karena masalah itu makanya mereka datang." Gumam Kevin.
Gumaman Kevin terdengar Menik.
" Memangnya ada masalah apa Pak?" tanya Menik polos.
" Ah kamu tidak akan mengerti." Ucap Kevin cepat sambil beranjak dari kursinya.
" Tumben kamu mengabari ke saya, kalau tuan muda datang." Ucap Kevin cepat.
" Ya, setau saya ini masih hari berkabung mereka. Heran aja kenapa dua orang itu datang ke sini. Berarti ada masalahkan." Ucap Menik berasumsi sendiri.
" Sok tau kamu." Ucap Kevin sambil pergi meninggalkan ruangannya.
Menik mengikutinya dari belakang.
" Pak, apa perlu saya buatkan minuman untuk mereka berdua." Ucap Menik menawarkan sesuatu.
" Kamu tunggu saja di pantry, nanti kalau saya butuh sesuatu akan saya telepon." Ucap Kevin sambil melangkahkan kakinya lebar-lebar.
Kevin mengetuk pintu ruangan Presiden direktur. Tidak berapa lama ada sahutan. Dia langsung membuka pintu itu.
" Selamat pagi tuan muda dan tuan besar." Sapa Kevin.
" Baru saya mau menghubungi kamu." Ucap Ziko cepat sambil meletakkan gagang telepon ke tempatnya semula.
" Bagaimana, apa ada kabar dengan di balik dalang anjloknya saham kita?" tanya Ziko.
" Maaf tuan, saya belum bisa mengecek itu. Mereka bekerjanya cukup hati-hati." Ucap Kevin cepat.
Ziko menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil memikirkan sesuatu.
" Coba kamu selidiki tuan Sultan. Sebelum dan sesudah dia datang ke sini. Apakah dia bertemu dengan orang sini." Perintah Ziko cepat.
__ADS_1
" Baik tuan." Ucap Kevin cepat sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Didalam ruangan dia menghubungi orang kepercayaannya.
Di ruangan Presiden direktur.
" Pa, apa yang akan kita lakukan jika tuan Sultan di balik ini semua?" tanya Ziko.
" Tuan Sultan orang yang sangat sombong, dia mau semua keinginannya di penuhi. Seandainya dia di balik dalang ini semua, kita tidak bisa melakukan apapun. Akan sulit untuk kita mengajak para pemegang saham yang lama bergabung kembali." Ucap Papanya.
" Jalan satu-satunya kita melepaskan perusahaan kita yang diluar negeri." Ucap Papanya lagi.
Ziko enggan untuk melepaskan semua perusahaan di sana. Karena pasti akan berdampak dengan perusahaannya di tanah air.
" Pa, pasti keputusan ini akan berdampak pada perusahaan kita di sini." Ucap Ziko ragu.
" Pasti, nilai saham kita juga akan merosot." Ucap papanya.
" Apa tidak ada pertimbangan lain?" tanya Ziko.
Tuan besar memikirkan sesuatu agar perusahaannya yang di tanah air tidak mengalami nasib yang sama dengan di luar negeri.
" Jalan satu-satunya perusahaan di luar negeri tetap di buka. Kita mencari investor lain yang mau bekerja sama dengan perusahaan kita." Ucap Papanya.
" Ide Papa benar, tapi akan sulit untuk mencari Investor asing." Ucap Ziko ragu.
" Pasti sulit, mau gimana lagi. Setidaknya perusahaan di sini masih berdiri tegak. Papa tidak mau perusahaan yang sudah di rintis dari nol harus hancur karena adanya kecurangan." Ucap papanya.
Tidak berapa lama, suara pintu di ketuk. Kevin langsung masuk ke dalam ruangan itu.
" Bagaimana apa ada kabar tentang ini semua." Ucap Ziko cepat.
" Agak sulit tuan. Karena kejadian ini sudah berbulan-bulan. Untuk mencari jejaknya saya harus mengecek setiap hotel bintang lima." Ucap Kevin cepat.
" Saya hanya mendapatkan informasi mengenai di mana tuan Sultan menginap. Tapi untuk rekaman cctv dengan siapa saja tuan Sultan bertemu sudah ada yang mengambilnya. Dan itu bukan dari pihak kita."
" Pasti itu orangnya tuan Sultan." Ucap Ziko cepat.
" Jadi bagaimana Pa?" tanya Ziko bingung.
" Seperti yang papa bilang tadi. Kita menunggu investor lain." Ucap Papanya.
" Menurut saya ada orang lokal yang membantunya." Ucap Ziko dengan penuh emosi.
" Siapkan pesawat jet, kita akan berangkat malam ini." Ucap Ziko cepat.
" Jangan sekarang. Istri kamu masih berdukacita. Jangan sampai kamu meninggalkannya sendirian. Dia butuh hiburan dan hanya kamu yang bisa menghiburnya. Serahkan saja semuanya sama orang kepercayaan kita di sana." Ucap Papanya cepat.
Ziko mengurungkan niatnya. Tidak seharusnya dia pergi meninggalkan istrinya, dia harus selalu berada di samping orang terkasihnya.
Tidak berapa lama ada pesan masuk ke dalam ponsel Ziko.
Ziko langsung membuka pesan itu. Nomornya tidak di kenal. Pesan itu hanya berupa foto-foto.
Ziko memperbesar tampilan foto itu dan melihat dengan seksama siapa orang di dalam foto itu.
" Lihat ini ada foto tuan Sultan dan timnya." Ucap Ziko cepat sambil menunjukkan ke depan Papanya dan asistennya.
Ziko membuka foto yang ke dua. Ada seseorang pria datang menemui tuan Sultan.
__ADS_1
" Siapa pria ini." Ucap Ziko karena hanya terlihat punggungnya saja.
Ziko mencoba memperbesar foto itu lagi. Tapi dia tidak bisa menebak siapa pria itu.
Papanya mengambil ponsel Ziko dan terus memandangi foto itu. Menurutnya punggung pria itu tidak asing di matanya.
Tuan besar meletakkan ponselnya di atas meja. Kemudian dia melirik jam tangannya, dan dia melirik lagi foto itu.
" Ko, jam orang ini sama dengan punya papa." Ucap Papanya.
Ziko memperbesar bagian jam di tangan pria itu.
" Sepertinya papa tau siapa orang itu." Ucap papanya.
" Siapa Pa?" tanya Ziko penasaran.
" Jam merek roket hanya di buat terbatas. Pada saat itu papa memberikan hadiah kepada seseorang yaitu jam ini. Dan papa sengaja membelinya dua. Karena memang limited edition." Ucap papanya.
" Siapa Pa?" tanya Ziko penasaran.
" Om Hariadi." Ucap Papanya cepat.
" Om Hariadi." Ziko mencoba mengingat nama itu. Dia seperti pernah mendengar nama itu. Tapi dia lupa kapan terakhir kali menyebut nama pria itu.
" Aku lupa pa." Ucap Ziko cepat.
" Pasti kamu lupa tapi kamu akan ingat nama anaknya." Ucap Papanya cepat.
" Maksud Papa apa?" tanya Ziko penasaran.
" Sisil, dia adalah anak dari Hariadi teman Papa. Anaknya sekarang di penjara karena telah melakukan pengeroyokan terhadap Zira." Ucap papanya menjelaskan.
" Oh jadi ini papanya Sisil." Ucap Ziko lagi.
" Mungkin dia dendam karena kamu memasukkan anaknya ke penjara." Ucap papanya lagi.
" Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Ziko.
" Sepertinya dia menginginkan sesuatu dari balik ini semua, yaitu kebebasan anaknya." Ucap Papanya.
Ziko tidak pernah memikirkan kalau masalahnya sama Sisil akan berlanjut lagi.
" Tapi kenapa dia baru melakukan ini sekarang. Kenapa dia tidak melakukannya ketika aku mencampakkan anaknya?" tanya Ziko.
Tuan besar mengangkat kedua bahunya dengan arti kalau dia tidak bisa menjangkau sampai sana.
" Siapa yang mengirimkan foto itu?" tanya papanya.
" Tidak ada namanya." Ucap Ziko cepat.
Ziko mencoba menghubungi nomor yang mengirimkan foto itu, tapi nomor itu tidak aktif.
" Vin, coba kamu cek nomor siapa ini." Perintah Ziko.
Kevin pergi meninggalkan ruangan itu.
" Apa si pengirim foto ada minta sesuatu kepada kamu? Seperti imbalan atau apapun?" tanya papanya.
Ziko menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Kalau si pengirim foto itu minta sesuatu berarti itu ada hubungannya dengan si Hariadi. Tapi kalau tidak meminta sesuatu berarti ada yang membantu kita dari belakang layar." Ucap papanya menjelaskan.
" Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih."