Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 423 (S2)


__ADS_3

🌹Vote


Cara vote.


Kumpulkan poin di pusat misi, buka poin pada profilku. Selesaikan semua tugas, jika tugas sudah selesai kalian bisa vote author sebanyak mungkin. Dan vote bisa di lakukan setiap hari selama poin kalian ada, terimakasih.


Selamat Membaca.


***


Kevin pergi ke kantor sendirian, Ziko dan Zira pergi ke rumah sakit dengan menyetir mobilnya sendiri.


Melakukan pendaftaran terlebih dahulu, lalu pergi ke bagian poli kandungan.


Di depan poli kandungan sudah banyak pasangan suami istri yang sedang menunggu namanya di panggil. Zira dapat nomor antrian nomor tiga jadi dia tidak akan lama untuk menunggu. Setelah dua nama selesai di periksa, nama Zira di panggil perawat.


Sepasang suami istri itu masuk ke dalam ruangan. Dokter tersenyum ramah.


"Selamat pagi." Sapa dokter ramah.


"Pagi dok." Jawab Zira.


Ziko dan Zira duduk di kursi yang sudah di sediakan.


"Ada yang bisa saya bantu." Ucap dokter ramah. Zira menunjukkan tespek kehadapan dokter.


"Apa istri saya hamil dok?" tanya Ziko.


"Biasanya garis dua seperti ini sudah akurat. Tapi untuk lebih jelas kita periksa dulu ya." Ucap dokter ramah.


Zira di perintahkan untuk naik ke atas tempat tidur, perawat membuka sebagian baju Zira dan meletakkan gel khusus di atas perutnya. Dokter mulai menggerakkan alatnya ke atas perut pasiennya.


"Selamat ya, ibu positif hamil usia kandungan sudah masuk tujuh minggu." Ucap dokter.


Sepasang suami istri itu terharu.


"Dan selamat sepertinya ibu hamil anak kembar tiga." Ucap dokter lagi.


"Apa!" Keduanya kaget sekaligus bahagia. Tak terasa air matanya keluar dari ujung matanya. Tuhan telah mengambil satu bayi mungilnya tapi di ganti tiga sekaligus untuk keluarganya. Ziko dan Zira tak henti-hentinya mengucapkan syukur.


"Ini janin ibu, masih seperti biji. Bisa di lihat kan ada tiga di sini." Ucap dokter.


Zira sudah selesai di periksa, dia kembali duduk di kursi.


"Dok apa kembar tiga tidak berisiko untuk ibunya?" tanya Ziko.


"Kehamilan bayi kembar memang sering terjadi kompilkasi, misalnya persalinan prematur atau kurang bulan. Hampir enam puluh persen risiko kehamilan kembar berakhir dengan melahirkan secara prematur atau kurang bulan." Ucap dokter menjelaskan.


"Mengapa bisa prematur dok?" tanya Zira.


"Biasanya tubuh bayi prematur tidak berkembang dengan baik, organ-organ tidak sepenuhnya matang, dan bayi biasanya kecil dengan berat badan lebih rendah. Tapi tidak usah khawatir sekarang teknologi sudah canggih, bayi yang lahir prematur nanti akan di rawat secara khusus." Ucap dokter.


Sepasang suami istri itu jadi takut mereka tidak bisa membayangkan bayi kecil mereka harus di rawat secara khusus ketika lahir. Dokter memperhatikan raut wajah keduanya yang cemas.


"Bapak ibu kemungkinan hanya enam puluh persen dan tidak semuanya kehamilan kembar mengalami hal itu." Ucap dokter.

__ADS_1


Dokter menjelaskan semua resiko kehamilan bayi kembar.


"Bagaimana caranya menghindari resiko itu?" tanya Zira.


"Menjaga asupan gizi, banyak minum air putih, diet seimbang maksudnya menjaga berat badan agar tidak naik melebihi batasnya karena itu juga merupakan faktor penyebabnya." Ucap dokter.


Setelah konsultasi dengan dokter mereka keluar dari ruangan. Mereka menunggu antrian obat di sofa. Dokter Diki melihat ada sosok temannya sedang duduk di sofa. Dia menghampiri keduanya.


"Sedang apa kalian di sini? Apa jahitanmu belum kering?" tanya dokter Diki.


"Sudah, kami baru mengecek kehamilan istriku." Ucap Ziko.


"Wah selamat ya." Ucap dokter Diki menyalami keduanya. Ziko membawa temannya menjauh dari istrinya.


"Ada apa Ko?" tanya dokter Diki.


"Istriku hamil kembar tiga." Ucap Ziko.


"Wah sekali lagi selamat." Ucap dokter Diki ikut senang.


"Tapi kehamilan kembar berisiko untuk ibu dan janinnya. Aku khawatir." Ucap Ziko.


"Ko, bukan hanya kehamilan kembar berisiko kehamilan yang tidak kembar juga berisiko. Yang penting ikuti semua anjuran yang dokter sebutkan dan hindari larangannya. Agar resiko itu tidak terjadi." Ucap dokter Diki.


"Oh gitu ya."


"Iya, kamu harus membuat istrimu bahagia jangan stres. Jangan sampai dia memikirkan semuanya." Ucap dokter Diki.


"Ibu Zira." Ucap seorang apoteker. Ziko langsung pergi mengambil obat dan vitamin untuk istrinya. Mereka kemudian meninggalkan rumah sakit. Ziko melihat raut wajah istrinya cemas.


"Iya sayang, aku mau beli susu hamil." Ucap Zira.


"Kamu pulang saja, biar aku yang beli susu ibu hamil." Ucap Ziko.


"Sayang ini kedua kalinya aku hamil dan untuk pertama kalinya izinkan aku ikut membeli susu hamil. Setelah itu kita langsung pulang, boleh ya." Rengek Zira.


"Ok, tapi dengan satu syarat kamu di gendong." Ucap Ziko sambil fokus mengemudi.


"Enggak ah malu, kenapa enggak di masukkan saja aku ke stroller." Ucap Zira.


"Kalau ada stroller untuk dewasa akan aku dorong kamu pakai itu. Aku enggak mau kamu kelelahan. Ingat di dalam perutmu ada tiga janin. Jadi kamu tidak boleh kelelahan." Ucap Ziko.


"Iya tapi enggak perlu di gendong, janinku masih kecil jadi tidak akan kelelahan membawa mereka, boleh ya." Rengek Zira lagi.


"Lihat nanti." Ucap Ziko.


Mobil yang di kendarai Ziko sudah sampai di supermarket terbesar. Dia menurunkan Zira di depan pintu masuk supermarket, sengaja di lakukannya agar istrinya tidak kelelahan. Setelah memarkirkan mobilnya Ziko menyusul istrinya. Dari jauh dia melihat istrinya sedang berbicara dengan seseorang.


"Itu Ziko." Ucap Zira.


"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Ziko.


"Aku sendirian, biasa belanja bulanan." Ucap Vita.


"Fiko tidak ikut?" tanya Zira.

__ADS_1


Ziko langsung melirik istrinya, entah kenapa dia tidak suka istrinya menyebut nama mantan rivalnya.


"Enggak, dia lagi kerja." Jawab Vita.


Ziko teringat kalau istrinya sedang hamil, dia langsung menyudahi percakapan dengan Vita.


"Kami masuk dulu." Ucap Ziko sambil menggandeng tangan istrinya.


"Iya, aku juga mau balik." Ucap Vita.


Di dalam supermarket Ziko melebarkan pandangannya ke seluruh supermarket, dia mencari kursi untuk pengunjung.


"Duduk sini." Ucap Ziko.


"Aku bukan mau duduk, tapi mau beli susu hamil." Ucap Zira.


"Iya, aku tau. Kamu hanya boleh duduk di sini. Aku yang akan beli susunya. Rasa cendol kan." Ucap Ziko.


"Iya, tapi kalau ada varian rasa baru beli aja. Aku mau coba. Untuk varian rasa baru beli kotak kecil kalau cendol kotak besar." Ucap Zira.


Ziko meninggalkan istrinya, dia menuju rak tempat semua merek susu di pajang.


"Ada yang bisa di bantu." Ucap seorang SPG.


"Saya mau cari susu ibu hamil rasa cendol." Ucap Ziko.


"Ini pak." Wanita itu menunjukkan susu yang di tanya konsumennya.


"Kami ada varian rasa baru pak." Ucap wanita itu.


"Ya sudah ambil semua varian rasa baru tapi kotak kecil masing-masing satu." Ucap Ziko. Wanita itu memasukan susu pesanan Ziko ke dalam keranjang.


"Sudah pak." Ucap SPG itu.


Ziko mengantri di kasir. Setelah mengantri paling lama lima belas menit, tiba giliran Ziko. Dia membayar beberapa kotak susu ke kasir. Kemudian menghampiri istrinya yang sedang memainkan ponselnya.


"Sudah sayang." Ucap Ziko sambil duduk di sebelah istrinya.


Zira membuka plastik belanjaan. Dia melihat hasil belanjaan suaminya.


"Bagaimana? Benar kan." Ucap Ziko.


"Susu rasa cendol benar, ini varian rasa baru?" tanya Zira.


"Iya."


"Kok aneh, susu ibu hamil rasa sayange sama rasa ayam penyet." Ucap Zira bingung.


"Kamu bilang beli varian rasa baru, jadi aku beli saja." Ucap Ziko.


"Rasa moca masih wajar, rasa sayange seperti apa ya belum lagi rasa ayam penyet. Sungguh kreatif yang buat. Aku tau kenapa di buat rasa ayam penyet agar ibu hamil yang susah makan terobati dengan minum susu rasa ayam penyet, tapi rasa sayange yang masih buat bingung." Ucap Zira penasaran.


Bersambung.


Mampir ke karya author yang lainnya ya "Love of a Nurse"

__ADS_1


__ADS_2