Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 432 (S2)


__ADS_3

Matahari sudah meninggi pasangan pengantin, baru keluar dari peraduannya.


Keluarga Raharsya beserta keluarga Jasmin dan nyonya Paula sedang mengobrol di restaurant. Begitupun dengan Zira dan Ziko sedang menyantap makanannya.


"Lihat tuh pengantin baru baru nongol." Ucap Zira. Ziko melihat ke arah asistennya.


"Sayang sepertinya mereka berhasil." Bisik Ziko.


"Kalau menurutku tidak berhasil sama sekali." Ucap Zira.


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" tanya Ziko.


"Karena semalam aku telah mengirim gangguan sama mereka berdua." Ucap Zira.


Kevin dan Menik duduk bersama pasangan senior mereka.


"Bagaimana jam weker yang aku beri, bagus kan." Goda Zira.


"Bagus nona, malah kami sepakat kalau aku sudah tidak di kontrak dengan perusahan kosmetik wardinah aku mau buka toko jam. Lumayan gak pakai modal." Ucap Menik senang.


Mendengar hal itu Zira dan Ziko saling pandang.


"Apa kalian berhasil melakukannya." Bisik Zira kepada Menik.


"Hemmm, berhasil nona." Ucap Menik gugup.


Sedangkan Ziko berbisik kepada asistennya.


"Aku yakin, kalau kamu tidak melakukan apapun. Pasti kalian kelelahan karena membuka kado." Bisik Ziko.


"Anda salah tuan, kami sudah melakukannya. Dan membiarkan alarm itu terus berdering kami menganggap deringan itu sebagai musik yang mengiringi aksi kami." Ucap Kevin bohong.


Ziko memandang wajah asistennya dengan tatap curiga.


"Tuan bisa lihat rambut istriku yang basah. Itu tandanya apa." Bisik Kevin.


"Banyak kutu." Jawab Ziko asal.


"Ingat tuan, anda telah berjanji kepada saya untuk menggunduli rambut anda." Bisik Kevin.


"Aku pria yang menepati janji, sebagai pihak yang kalah maka aku siap melakukannya." Ucap Ziko tegas. Zira mendengar ucapan suaminya.


"Kalah apa? janji apa." Ucap Zira penasaran.


"Eh enggak sayang, aku pria yang suka menepati janji, seperti ini." Ziko mengeluarkan sebuah amplop dan meletakkannya di atas meja.


"Ini kado dariku untuk pernikahan kalian." Ucap Ziko. Kevin membuka amplop itu.


"Sebuah tiket perjalanan." Ucap Kevin senang.

__ADS_1


"Terima kasih tuan dan nona." Ucap pengantin baru itu senang. Ziko kembali berbisik.


"Karena aku telah memberikan kado untukmu, jadi taruhan kita batal ya." Bisik Ziko.


"Maaf tuan, tadi anda yang bilang kalau tuan pria yang menepati janji. Kalau anda melanggar janji itu sama saja seperti pria banci." Ucap Kevin sengaja membuat jiwa Ziko berontak. Ziko tidak suka di katai banci, dia pasti akan melakukan apapun untuk menunjukkan keperkasaannya.


"Enak saja bilang banci, aku akan menggunduli rambutku sampai tidak ada sisa, tapi besok ya, jangan sekarang soalnya ada murid thanos di sini." Bisik Ziko sambil melirik istrinya.


***


Keesokan harinya Kevin sudah berangkat untuk menjemput bosnya. Selama pindah ke rumah Kevin, pengantin baru itu tidak melakukan apapun. Karena Menik meminta kepadanya untuk melakukan pada saat di luar negeri. Dan Kevin menyetujuinya. Karena hadiah yang di berikan Ziko berupa tiket perjalanan keliling eropa.


Kevin sudah tiba di kediaman bosnya. Dia di sambut bik Inah.


"Tuan dan nona Zira ada di blok p no. x." Ucap bik Inah.


"Untuk apa mereka ke sana?" tanya Kevin bingung.


"Enggak tau, cuma pesan dari tuan muda. Pak Kevin di suruh nyusul ke sana." Ucap bik Inah.


"Ok bik, aku akan ke sana." Ucap Kevin masuk kembali ke dalam mobil dan menyusuri perumahan.


Mobil berhenti tepat di depan rumah yang di sebutkan bik Inah. Dia turun dari mobil ketika hendak membuka pintu, pintu sudah di buka dari dalam.


"Masuk." Perintah Ziko. Kevin masuk ke dalam rumah itu, dia memperhatikan furniture rumah itu.


"Sayang Kevin sudah datang." Teriak Ziko.


"Tuan mau pindah ke rumah ini?" tanya Kevin.


"Iya." Jawab Ziko singkat.


"Iya di depannya." Timpal Zira sambil menunjuk rumah yang ada di seberang jalan.


"Lalu rumah ini?" tanya Kevin lagi.


"Untuk kamu dan Menik." Ucap Zira sambil menyerahkan kunci rumah kepada asisten suaminya.


"Ah jangan bercanda." Ucap Kevin curiga.


"Mau ambil enggak? kalau tidak mau aku ganti kunci nih." Ucap Zira cepat.


"Ganti kunci apa?" Ucap Kevin lagi.


"Kunci kamar mandi." Timpal Ziko. Kevin menerima kunci itu.


Tapi wajahnya tidak menunjukkan keceriaan sama sekali.


"Maaf, ini rumah untuk saya apa hanya numpang tinggal di sini. Soalnya kalau kado pasti rumah ini jadi hak milik saya sama Menik." Ucap Kevin jujur.

__ADS_1


"Wah hitung-hitunganmu cepat juga, seharusnya kamu jadi rentenir. Karena perkalian dia lebih hebat dari seorang akuntan. Hutang satu juta bisa jadi sepuluh juta. Kamu memang seperti rentenir." Ejek Ziko.


"Sudah jangan berisik. Ini surat rumah dan rumah ini atas nama Menik, bukan kamu." Ucap Zira sambil menyerahkan sebuah sertifikat rumah dan surat lainnya.


Kevin sangat senang, dia tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada bosnya.


***


Mobil sudah melaju meninggalkan kediaman rumah Ziko menuju kantor. Tapi Kevin memberhentikan mobilnya di sebuah barbershop.


"Kenapa berhenti di sini." Ucap Ziko bingung.


"Apa tuan lupa kalau anda harus mencukur habis rambut anda. Jadi silahkan." Ucap Kevin.


Dengan wajah cemberut Ziko turun dari mobil. Ketika sampai di dalam. Kevin langsung mengatakan kepada tukang potong rambutnya.


"Mas gundul sampai habis, jangan ada sisa rambut sedikitpun." Ucap Kevin sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Baik." Jawab si tukang potong rambut.


Rambutnya mulai di cukur, Ziko tidak rela melihat rambutnya di cukur. Dia lebih memilih untuk menundukkan kepalanya.


Kevin mengambil foto dan video saat-saat rambut bosnya di cukur licin. Muncul ide lagi di dalam benaknya Kevin. Dia keluar dari barbershop dan mencoba menghubungi dokter Diki. Panggilan terhubung.


"Halo dok." Ucap Kevin.


"Iya Vin, ada apa?" tanya dokter Diki.


"Sepertinya anda kalah taruhan dari tuan muda. Saya tidak bisa membobol gawang istri saya. Jadi sebagai pihak yang kalah dokter harus mencukur bulu kaki. Dan kirimkan videonya kepada saya." Ucap Kevin.


"Vin, apa tidak boleh di batalkan? aku pria, kalau tidak ada bulu kaki kesannya kakiku seperti kaki meja." Ucap dokter Diki.


"Yang taruhan anda berdua, dan yang jadi korban di sini adalah saya. Jadi tidak ada kata batal." Ucap Kevin tegas.


"Baiklah, tapi video yang aku kirim nanti jangan di tunjukkan ke Ziko. Bisa habis aku di ledeknya." Ucap dokter Diki.


"Siap, rahasia anda aman bersama saya." Ucap Kevin penuh kemenangan.


Panggilan terputus Ziko sudah selesai dengan rambut model barunya. Dia keluar dengan wajah yang cemberut.


Di dalam mobil Ziko tak henti-hentinya memegang kepalanya. Kevin mengambil kesempatan untuk memotret bosnya, menurutnya kapan lagi anak buah bisa mengerjai bosnya.


"Puas kamu." Ucap Ziko ketus.


"Hahaha, tentu saya puas. Makanya tuan jangan suka taruhan itu akibatnya kalau kalah." Ucap Kevin.


"Duh bisa-bisa tidak di kasih pintu sama Zira." Gerutu Ziko.


Bersambung.

__ADS_1


Apa reaksi Zira ketika melihat suaminya gundul? Penasaran?


Ayo vote untuk ke dua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse"


__ADS_2