Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 438 (S2)


__ADS_3

Pagi harinya pasangan pengantin itu bergegas untuk bangun menyambut sang mentari. Karena Kevin berencana untuk mengajak Menik mengelilingi tempat wisata yang ada di negara Perancis.


Keduanya sudah mengenakan pakaian kasual. Kevin menggandeng tangan istrinya, tapi tiba-tiba Menik melihat ke bawah.


"Kenapa?" tanya Kevin.


"Jalanku sepertinya berbeda." Ucap Menik memperagakan jalannya di depan suaminya.


"Sama kok, tidak ada bedanya." Ucap Kevin lagi.


"Beda, coba lihat aku seperti orang yang baru sunat." Ucap Menik sambil jalan mondar mandir di depan suaminya.


"Walaupun jalanmu mengkangkang, aku tetap mencintaimu." Gombal Kevin.


"Apa karena gagang sapu semalam." Ucap Menik.


"Nik, kita melakukannya masih dua kali. Kamu tau tidak, tuan muda dan nona Zira kalau melakukannya pakai rumus." Ucap Kevin.


"Rumus." Ucap Menik bingung.


"Ayo berangkat, apa kamu mau kita membatalkan rencana kita ke menara eifel." Ucap Kevin.


"Ini pertama kalinya aku ke luar negeri, jangan di batalkan." Menik dan Kevin keluar dari kamar hotel saling bergandengan tangan.


Menik selalu memperhatikan jalannya yang berbeda. Mereka menuju loby dengan menggunakan lift. Di dalam lift bukan hanya mereka berdua, tapi ada orang lain juga.


Menik terus menggandeng tangan suaminya, dia merasa asing dengan suasana di perancis.


"Kita nanti belanja ya." Ucap Menik. Seseorang yang berada di dalam lift melirik ke arah mereka.


"Sstt jangan berisik. Sepertinya dia terganggu." Bisik Kevin.


Setelah sampai di loby hotel keduanya langsung menuju taksi yang sudah di pesan Kevin sebelumnya. Dia menyewa taksi itu untuk satu hari. Tujuan pertama mereka menara eifel. Menara eifel salah satu ikon tempat wisata di paris.


Taksi sudah melaju dengan kecepatan sedang. Setelah melalui perjalan cukup panjang akhirnya mereka sampai di menara eifel. Ada banyak wisatawan yang datang berkunjung untuk menikmati keindahan menara itu. Kevin dan Menik mengabadikan pemandangan lanskap menara eifel yang cantik dari kejauhan.


Pengantin baru itu menaiki menara eifel, butuh perjuangan untuk bisa tiba di atas menara, banyak wisatawan bisa menikmati pemandangan dari atas menara.


"Bagus banget." Ucap Menik senang.


"Kamu suka?" tanya Kevin. Menik menganggukkan kepalanya berulang kali.

__ADS_1


Setelah puas menikmati keindahan menara eifel. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Paris disneyland. Berbagai wahana khas disney ada di sana, seperti istana princess disney dan permainan konsep dan animasi produksi disney.


Pengunjung wisatawan di paris disneyland kebanyakan keluarga, mereka suka dengan suasananya. Tidak heran kalau tempat wisata ini selalu banyak pengunjungnya.


"Aku kebelet." Ucap Menik.


"Ayo kita cari toilet." Ucap Kevin. Mereka menyusuri tempat wisata itu. Dengan cepat Kevin dapat menemukan toilet. Karena sebelum masuk ke dalam Paris disneyland mereka sudah di berikan sebuah peta kecil oleh petugas. Semua pengunjung bisa memanfaatkan peta itu agar tidak kesasar.


Kevin menunggu di ujung lorong, sedangkan Menik masuk ke dalam lorong menuju toilet. Dia jalan sambil menundukkan kepalanya. Tanpa di sadarinya dia menabrak seseorang yang juga jalan sambil menunduk.


"Maaf, eh sory." Ucap Menik gugup. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap wajah wanita di depannya.


"What did you say (tadi kamu bilang apa)" Ucap pria itu.


"Sory." Jawab Menik.


"Not before (bukan sebelumnya)" Ucap pria itu lagi.


"Maaf." Ucap Menik. Wanita itu bisa mengerti bahasa inggris, karena sebelumnya Zira sudah menyewa guru privat untuk Menik.


"Saya juga orang Indonesia, kamu sama siapa ke sini?" tanya pria itu dengan bahasa yang lebih ke logat asing.


"Sama suamiku, maaf saya mau ke toilet." Ucap Menik sambil meninggalkan pria itu.


"Kamu dari indonesia." Ucap pria itu.


Kevin yang sedang fokus dengan ponselnya menatap pria yang sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya.


"Kamu bicara samaku?" tanya Kevin balik.


"Iya, hanya kamu yang mengerti bahasaku berarti aku bicara samamu." Ucap pria itu.


"Oh iya, aku dari Indonesia." Jawab Kevin.


"Aku juga orang Indonesia, tapi keluargaku pindah ke sini. Sudah lama aku tidak menginjakkan kaki ke tanah air. Pasti banyak perubahan di sana." Ucap pria itu.


Kevin hanya menganggukkan kepalanya, sambil melirik istrinya yang jalan mendekatinya.


"Oh jadi ini suami kamu." Ucap pria itu.


Menik menganggukkan kepalanya dengan raut wajah bingung, karena suaminya bisa terlihat akrab dengan pria asing. Kebalikan dari istrinya, Kevin terlihat cemburu. Dia langsung menggandeng tangan istrinya.

__ADS_1


"Hey tunggu, aku mau bertanya sesuatu kepadamu." Ucap pria itu mengikuti langkah Kevin dan Menik.


"Ada apa lagi." Ucap Kevin sambil membalikkan badannya.


"Kalau kamu benar-benar dari tanah air, apa kamu pernah dengar tentang keluarga Amrin?" tanya pria itu.


"Aku tidak kenal, banyak nama orang yang sama di sana." Jawab Kevin ketus.


"Iya memang banyak nama di sana, tapi mereka termasuk keluarga hebat, apa kamu juga tidak tau?" Tanya pria itu.


Kevin membalikkan badannya, dia menatap tajam wajah pria itu.


"Aku tidak kenal dengan nama yang kamu sebutkan, kalau kamu mau cari keberadaan keluargamu kenapa tidak mencarinya di internet, kan kamu bilang kalau keluarga itu orang kaya, pasti namanya ada di penjuru dunia bisnis." Ucap Kevin sambil menggandeng tangan istrinya dan meninggalkan pria itu.


"Makasih atas sarannya." Teriak pria itu, karena Kevin dan Menik sudah menjauh jadi dia berbicara harus dengan sedikit berteriak.


"Kita balik." Ucap Kevin ketus.


"Tapi kita belum mengelilingi disneyland ini semuanya." Rengek Menik.


"Lain kali lagi kita ke sini, aku sudah tidak tertarik berkeliling." Ucap Kevin ketus.


Menik masih ingin menikmati suasana Paris disneyland, walaupun dia bukan anak kecil lagi, tapi dia suka suasananya, karena ini pertama kalinya dia bisa masuk ke dalam istana disneyland.


Taksi sudah membawa mereka kembali ke hotel. Dalam perjalanan Kevin banyak diam, dia tidak banyak bicara.


"Kamu kenapa?" tanya Menik.


"Siapa pria tadi?" tanya Kevin balik.


"Entah, aku tadi tidak sengaja menabraknya, terus aku salah bicara menggunakan kata maaf, eh dia malah mengatakan kalau dia juga orang indonesia." Ucap Menik jujur.


"Jadi cewek jangan terlalu ramah sama pria asing, kalau kamu diculiknya bagaimana?" Ucap Kevin.


"Teriak." Jawab Menik cepat.


"Memang dengan teriak kamu pikir bisa selamat, beda halnya kalau kamu bisa beladiri, seperti nona Zira, dia bisa menjaga dirinya dengan baik. Kamu harus jadi seperti dia.


"Kenapa kamu selalu memuji nona Zira dan menyandingkan aku dengannya. Memang aku akui kalau nona Zira sangat baik, malah teramat baik, tapi jangan samakan aku dengannya. Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan, jadi jangan jadikan kekuranganku menjadi nilai buruk dari diriku." Ucap Menik ketus.


Pasangan suami istri itu diam, mereka saling cemburu satu sama lain. Masing-masing dari mereka melihat ke arah luar jendela mobil.

__ADS_1


Bersambung.


Mohon dukungannya dengan memberikan vote yang banyak untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse"


__ADS_2